web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Mengenal Asal-Usul Sejarah Toponimi di Cekungan Bandung

Minggu, 19 Juli 2020 15:47 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung T. Bachtiar dalam webinar yang bertajuk 'Toponimi di Cekungan Bandung'. (Eneng Reni)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Setiap daerah memiliki nama-nama tempat yang khas dengan kondisi alam, budaya, hingga kehidupan sosial masyarakat setempat.

Begitu juga untuk kawasan Bandung, Jawa Barat. Secara historis, Bandung bermula dari pembentukan Cekungan Bandung yang meliputi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat.

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung T. Bachtiar dalam webinar yang bertajuk 'Toponimi di Cekungan Bandung' membawa peserta untuk menjelajah kondisi alam Bandung pada zaman dahulu kala, Jumat (17/7/2020).

Dalam presentasinya, tatar Sunda diyakini merupakan kawasan yang hijau dan sejuk. Bukti kesejukannya masih ada hingga hari ini dan melekat menjadi identitas kebudayaan masyarakat Jawa Barat.

"Pada awalnya cekungan Bandung itu sejuk, hijau, sehingga warna hijau dan biru di Jawa Barat itu sering dipertukarkan saking warna hijau dan biru sudah sangat sering dilihat. Lambang-lambang daerahnya juga begitu. Berdasarkan, psikologi warna, warna yang paling masuk ke masyarakat Jawa Barat adalah hijau dan biru," kata Bachtiar.

Pakar geografi itu juga menilai, penamaan di Cekungan Bandung sangat dipengaruhi oleh alam, interaksi manusia dengan alam, sampai akhirnya melahirkan nama-nama baru. Bachtiar pun mencoba menghubungkan sejarah dengan kronologis alam Cekungan Bandung hingga terjadinya penamaan yang terkenal di lingkungan masyarakatnya.

Menurut Bachtiar, jika ditelusuri sejarah alam Cekungan Bandung sudah terbentuk sejak 27 juta sampai 10.000 tahun yang lalu. Bentuknya terbagi menjadi empat jenis yaitu laut purba, gunung api purba, gunung api aktif, dan danau purba, yang artefaknya tersebar di sekeliling Bandung.

"Sejarah alamnya itu bisa ditelusuri sejak 27 juta tahun yang lalu sampai 10.000 tahun yang lalu untuk sejarah alamnya. Sementara sejarah manusianya terjadi setelah itu. Jadi banyak tempat yang diberikan (toponimi) setelah 10.000 tahun ke sini," kata Bachtiar.

Pertanyaannya, kenapa Cekungan Bandung dulunya merupakan danau purba? Singkat cerita, gunung api purba itu meletus dan konon diprediksi kedahsyatannya menyerupai letusan Gunung Tambora. Letusannya memuntahkan isi perut bumi hingga materialnya menyumbat dan membuat sebuah danau besar.

Hingga suatu hari, danau purba ini bobol, baik di bagian timur maupun barat. Di bagian timur, tempat bobolnya berada di Curug Jompong, Nanjung, Kabupaten Bandung Barat. Sementara di bagian barat, terdapat di kawasan Cukangrahong. Proses itu berlangsung bukan dalam hitungan hari namun berjuta-juta hari hingga akhirnya menjadi Cekungan Bandung.

"Dalam toponomi Cekungan Bandung juga ada Cukangrahong. Dalam kamus bahasa Sunda, cukang (jembatan kecil) dan Rahong. Meski kata masyarakat, Rahong adalah rahul gede bohong atau suka berdusta. Namun berdasarkan kamus Jonathan Rich tahun 1816 seorang peneliti asal Inggris pemilik perkebunan kopi di Jasinga, Rahong merupakan dinding batu yang tegak lalu dan di bawahnya mengalir sungai. Dan kondisi ini membuktikan kondisi yang sesungguhnya," katanya.

Maka tak aneh, kenapa banyak toponim  di Cekungan Bandung selalu berkaitan dengan air, danau, teluk, lengkong, bojong, beber, nambo, ranca, situ dan lainnya. Selain air, nama-nama daerah di sepanjang Cekungan Bandung berasal dari nama tumbuh-tumbuhan.

Diperkirakan tumbuhan tersebut pada zaman dahulu memang ada di lokasi tersebut. Semisal Buahbatu, berasal dari tumbuhan pohon pinang. Cibeunying, berasal dari pohon beunying. Ciganitri, berasal dari pohon yang ganitri,  Cibiru (pohon biru), Binongjati (pohon binong), Cijawura (buah jawura), Ciburahol (buah burahol), Kebonwaru (pohon waru), dan lainnya.

"Nama-nama tempat dulu itu bisa diawali yang kalau menurut pandangan orang sekarang sepele banget. Tetapi waktu itu jadi landmark yang akhirnya lama-lama jadi nama tempat," ungkapnya.

Namun sayangnya, lanjut Bachtiar, saat ini kecenderungan masyarakat hingga pemerintah menamai sebuah tempat tanpa mempertimbangkan asal-usul sejarah. Padahal, dia mengatakan, penamaan suatu wilayah dapat berpengaruh pada mitigasi bencana bagi wilayah sekitar sehingga masyarakat dapat lebih mengenal karakter tempat tinggal masing-masing.

"Pentingnya toponimi ini sebenarnya untuk mitigasi. Toponimi juga dapat dijadikan media mitigasi kebencanaan, seperti tadi penggunaan nama di darah yang pada zaman dahulunya adalah rawa, ranca, nambo, atau urug," katanya.

"Meskipun Bandung sudah sepadat ini tapi toponiminya masih banyak mengacu pada toponimi lama. Namun, untuk tracking sejarah sebaiknya nama-nama tempat itu tidak diubah dengan seenaknya seperti sekarang," ujarnya.

Editor: Dadi Haryadi

artikel lainnya

dewanpers