web analytics
  

Peran dan Tantangan yang Diemban Guru BK saat Pandemi

Jumat, 17 Juli 2020 18:07 WIB M. Naufal Hafizh
Umum - Pendidikan, Peran dan Tantangan yang Diemban Guru BK saat Pandemi, Guru BK,Bimbingan Konseling,Psikologi,pandemi,COVID-19,corona

Guru BK memegang beragam peran dan tantangan di tengah pandemi corona virus dalam menangani peserta didik. (Pexels)

CILACAP, AYOBANDUNG.COM – Saat pandemi, guru Bimbingan dan Konseling (BK) turut ambil bagian menekan dampak mental terhadap siswa. Dosen Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sebelas Maret, Agus Tri Susilo, menyatakan, guru BK mengemban beragam peran dan tantangan untuk berkontribusi dalam fase transisi dan new normal ini.

Hal ini diamini Ratna Tri Wardani, guru BK SMP Negeri 2 Maos, Cilacap. Baginya tantangan yang terasa adalah bergesernya metode konseling dari tatap muka menjadi via daring. Berkaitan dengan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), guru BK memang bisa mengubah metode layanan dasar pada siswa secara virtual.

Sebagai alternatif, cyber counseling jadi solusi saat pandemi. Mengutip laman resmi UNS, Guru Besar Bimbingan dan Konseling, Prof Asrowi turut menyatakan, metode ini cocok digunakan guru BK untuk membantu siswa mandiri dalam memecahkan masalahnya.

Pada praktiknya, Ratna mengungkapkan itu sulit dan tidak seefektif konseling tatap muka. Soal ini, Agus berpendapat dari sisi kebutuhan dan efisiensi, bisa jadi efektif. Dia kemudian memaparkan saat seseorang mengalami gejolak psikologis, tahap pertama adalah ingin menceritakan masalah kepada orang lain. Cyber counseling dapat menjangkaunya.

“Barangkali hasilnya kurang maksimal, langkah ini sebagai bentuk keberadaan dan kehadiran guru BK sebagai good listener dan curahan katarsis siswa,” ujar Agus, Jumat (17/7/2020).

Tidak maksimalnya konseling virtual salah satunya disebabkan keterbatasan komunikasi. Ada peran komunikasi baik verbal maupun nonverbal yang bisa memberikan efek kepada siswa saat konseling. 

“Ada riset yang menjelaskan bahwa keterampilan komunikasi nonverbal dalam sesi konseling mampu memberikan efek positif bagi klien,” tutur Agus.

Selain itu, guru BK turut menghadapi tantangan berupa perubahan sikap siswa selama masa pandemi.

“Siswa (mengalami) kejenuhan belajar di rumah dan ada beberapa siswa yang mengalami psikosomatis,” ucap Ratna saat dihubungi, Selasa (14/7/2020).

Agus berujar perlu upaya pendampingan psikologis agar siswa tidak mengalami cabin fever (rasa bosan yang berkepanjangan). “Guru BK bisa membuat sharing club di berbagai platform,” katanya.

Agus menjelaskan, pada dasarnya ada 4 tingkatan mental dalam menyikapi suatu perubahan yang tiba-tiba. Keempatnya adalah kekagetan, penolakan, pengakuan, dan penerimaan. Menurutnya, tingkatan tersebut harus dipahami bersama karena kondisi saat ini juga jadi tanggung jawab bersama.

Dia menambahkan, guru harus menjadi role model agar siswa teredukasi dan mampu berpikir realistis.

“Beraktivitas seperti biasa secara protektif dan kreatif dengan tetap menjadi pribadi yang produktif,” kata Agus.

Menyoal target, sebagai guru BK, Ratna berfokus untuk terus melayani siswa lewat daring dengan memanfaatkan media sosial. “Guru BK harus gaul dan paham IT serta bisa masuk ke dunia remaja sehingga bisa bersahabat dengan siswa,” kata Ratna.

Senada dengan hal itu, Agus mengimbau guru BK agar familier dengan berbagai platform, alat, media, dan sumber belajar lainnya yang mampu mengasah inovasi dan kreativitas. (Ventriana Berlyanti)

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers