web analytics
  

‘Lebaynya’ Vietnam Tangani Covid-19, Namun Sukses

Jumat, 17 Juli 2020 16:05 WIB M. Naufal Hafizh
Umum - Internasional, ‘Lebaynya’ Vietnam Tangani Covid-19, Namun Sukses, Vietnam,Lebay,Virus Corona,COVID-19,Lockdown

'Lebaynya' Vietnam sukses menekan penyebaran Covid-19. (Reuters/Kham)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Vietnam sudah kembali membuka pusat-pusat bisnis dan tempat umum lainnya, Jumat (15/5/2020). Kembalinya normalitas keseharian ini diakibatkan oleh “lebaynya” penanganan Covid-19 oleh pemerintah otoriter Vietnam, namun sukses.

Berbeda dengan negara-negara lain, bahkan yang lebih kaya sekalipun, Vietnam sudah mulai prosedur lockdown sejak Tahun Baru Cina. Kantor, sekolah, dan pusat keramaian lainnya ditutup.

“Saat kau berurusan dengan patogen berbahaya yang belum diketahui, lebih baik bertindak berlebihan,” ujar dokter Harvard’s Partnership for Health Advancement Todd Pollack, menjelaskan Vietnam memulai prosedur lockdown sejak 23 Januari 2020. Tanggal itu merupakan kasus terkonfirmasi pertama Covid-19 di Vietnam.

Vietnam sendiri sudah tak asing lagi dengan penyebaran virus di negaranya—SARS tahun 2003 hingga flu burung tahun 2010. Mengetahui tenaga medisnya takkan mampu menghadapi pandemi, Vietnam mencegah virus menyebar di negaranya.

“Mereka bertindak yang awalnya terlihat ekstrem, namun kemudian terbukti masuk akal dan efektif,” kata Direktur Oxford University Clinical Research Unit di Ho Chi Minh City Prof Guy Thwaites.

Setelah menutup perbatasan dengan Cina, Vietnam menerapkan protokol karantina pada pertengahan Maret. Semua yang datang ke Vietnam dari luar negeri otomatis akan dikarantina selama 14 hari.

Karantina itupun tidak begitu mewah. Seorang warga negara Vietnam yang baru pulang dari Australia mengungkapkan fasilitas yang diberikan hanyalah kamar mandi dan karpet tidur.

“40% kasus terkonfirmasi Vietnam takkan tahu mereka menderita Covid-19 apabila tidak dites. Apabila jumlah pembawa virus tanpa gejala setinggi itu, maka harus dikendalikan dengan cara ekstrem seperti Vietnam,” kata Thwaites.

Lockdown Vietnam pun dimulai secara bertahap. Setelah sejumlah kasus muncul di Son Loi pada Februari, lebih dari 10.000 orang di sekitar Son Loi dikarantina. Hal yang sama pun dilakukan pada 11.000 penduduk Han Loi.

Tidak ada yang boleh keluar dari area masing-masing sebelum waktu dua minggu tanpa pasien terkonfirmasi selesai.

Kontrol Media dan Komunikasi Pemerintah

“Tak banyak orang tahu karena pengendalian total media oleh pemerintah, tapi setiap keruk Vietnam memiliki mata-mata warga yang akan melaporkan setiap kecurigaan,” kata Thwaites.

Negara monopartai ini pun menyebarkan propaganda, Covid-19 adalah musuh negara yang berbahaya. Saat pandemi mulai merebak, masyarakat Vietnam sudah ditanamkan pola pikir, mereka harus bersatu mengalahkan Covid-19.

Dosen dan peneliti Universitas Padjadjaran, Justito Adiprasetio, pun membahas pentingnya komunikasi pemerintah untuk menentukan pola pikir negara.

“Maka kalau sejak akhir Januari kita disodori parade sirkus pejabat pemerintah yang meremehkan virus corona, menjadi wajar apabila masyarakat mengambil keputusan untuk bervakansi ria walau ada imbauan untuk menghindari keramaian,” tulisnya di Remotivi.

Vietnam adalah negara otoriter dengan kontrol penuh akan kebebasan pers. Namun, masyarakat setia mengikuti pemerintah karena usaha pemerintah Vietnam terbukti efektif.

Hingga hari ini, Jumat (17/7/2020), Vietnam masih mencetak angka 0 untuk kematian pasien Covid-19. (Farah Tifa Aghnia)

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers