web analytics
  

Hotel Preanger Bandung, Disambangi Charlie Chaplin dan Ikut Dirancang Bung Karno

Jumat, 17 Juli 2020 05:06 WIB Nur Khansa Ranawati
Bandung Baheula - Baheula, Hotel Preanger Bandung, Disambangi Charlie Chaplin dan Ikut Dirancang Bung Karno , Hotel Preanger,Charlie Chaplin,Bung Karno,Sejarah Hotel Bandung,Hotel Bandung

Hotel Preanger di era 1870-1900 yang masih berdesain Indische Empire (Ist)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Banyak cerita yang menyertai keberadaan salah satu hotel tertua di Kota Bandung, yakni Hotel Preanger di Jalan Asia Afrika. Kisahnya dimulai sejak hampir 2 abad lalu, ketika bangunannya masih berupa pesanggrahan atau rumah singgah sederhana.

Hotel yang kini dinamai Prama Grand Preanger tersebut telah ada sejak 1825, dalam bentuk bangunan herberg di salah satu sisi Grote Postweg atau Jalan Asia Afrika sekarang. Pada 1856, di depan bangunan herberg tersebut, berdiri sebuah toko dan hotel bernama "Thiem" yang dikelola oleh C.P.E Loheyde.

Berdasarkan penuturan Sudarsono Katam dalam Album Bandoeng Tempo Doeloe, pengelolaan Hotel Thiem berpindah tangan kepada W.H.C van Deeterkom pada 1897. Ia kemudian menggabungkan seluruh bangunan toko dan hotel Thiem dengan bangunan herberg. Kemudian, namanya diganti menjadi Hotel Preanger.

"Hotel ini memiliki gaya arsitektur Indische Empire Stijl dengan sentuhan gaya Greek Re-vival," tulisnya.

Gaya arsitektur tersebut diadopsi dari gaya yang berkembang di Eropa pada masanya dan menyiratkan kemegahan dengan pilar-pilar megah pada fasad, penggunaan material marmer hingga kebun yang luas. Salah satu contoh gedung dengan desain serupa di Kota Bandung adalah rumah dinas Gubernur Jabar, yakni Gedung Pakuan.

Hotel Preanger mengadopsi gaya arsitektur tersebut dalam waktu yang cukup lama hingga akhirnya mengalami perombakan besar-besaran pada 1929-an. Arsitek kenamaan yang juga banyak merancang sejumlah gedung bersejarah di Kota Bandung, C.P Wolff Schoemaker didaulat menjadi desainernya.

Ada hal yang menarik pada masa perombakan desain Hotel Preanger kala itu. Schoemaker tidak sendirian dalam menyelesaikan rancangannya, namun juga dibantu oleh sang murid yang tengah magang di firma aristekturnya.

Murid magang tersebut tak lain adalah presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Ia kala itu masih menempuh studi jurusan arsitektur di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB).

Berdasarkan keterangan Yuke Ardhiati dalam Bung Karno Sang Arsitek : Kajian Artistik Karya Arsitektur, Tata Ruang Kota, Kria, Simbol, Mode Busana dan Teks Pidato 1926-1965 (2005), Soekarno atau Bung Karno dilibatkan dalam pengembangan desain paviliun hotel. Ia berperan sebagai drafter atau juru gambar.

Perombakan yang dibuat cukup signifikan dan merubah keseluruhan gaya arsitektur hotel. Dari gaya Indische Empire, Hotel Preanger dipugar dengan gaya Art Deco Streamline yang lebih modern di masanya.

Rancangan Art Deco tersebut dipengaruhi oleh gaya aristek Lloyd Wright. Hingga sekarang, desain inilah yang masih diadopsi oleh Hotel Preanger.

Tak hanya bangunannya yang bersejarah, hotel ini juga menyimpan cerita spesial karena pernah diinapi oleh dua aktris fenomenal pada masa itu. Mereka adalah komedian Inggris Charlie Chaplin dan aktris peraih nominasi Oscar asal Amerika Serikat, Paulette Godard.

Keduanya disebut pernah menginap pada 1935. Selain itu, pelopor penerbangan wanita Amelia Mary Earhart juga pernah menginap di hotel tersebut.

Hingga saat ini, kunjungan mereka masih diabadikan dalam ruangan khusus yang dijadikan museum hotel yang dinamai Museum Wolff Schoemaker. Museum tersebut memajang mulai dari poster-poster bangunan heritage di Bandung hasil rancangan Shchoemaker hingga benda-benda bersejarah.

Benda-benda tersebut meliputi kursi yang diduduki Charlie Chaplin, dua unit peranti pemutar piringan hitam, sebuah proyektor film 'jadul' hingga mesin pembuat kopi. Selain itu, ada pula foto-foto para tamu legendaris yang pernah hadir termasuk biografi singkat Amelia Earhart yang pernah terbang menyebrangi Samudera Atlantik seorang diri.

Hotel ini sempat mengalami beberapa kali pergantian pengelola, di antaranya oleh N.V. Saut, C.V. Haruman dan P.D. Kertawisata. Pada 1987, pengelolaan dilakukan di bawah PT.Aerowisata hingga saat ini.

Editor: Adi Ginanjar Maulana
dewanpers