web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Direksi BCA Jual Saham di Masa Pandemi Covid-19, Ada Apa?

Kamis, 16 Juli 2020 18:57 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil

PT Bank Central Asia (Tbk) (yes-sejarah.blogspot.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Sepekan lalu, direksi PT Bank Central Asia (Tbk) atau BCA kompak melakukan transaksi jual saham. Transaksi dilakukan sejak 7-10 Juli 2020. Totalnya transaksi ini mencapai Rp20,24 miliar.

Bila dirinci, Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja menjual sahamnya senilai Rp3,1 miliar, Direktur BCA Rudy Susanto Rp6,2 miliar, Direktur BCA Henry Koenaify Rp6,28 miliar, Direktur BCA Lianawaty Suwono Rp3,1 miliar, dan Direktur Independen BCA Erwan Yuris Ang Rp1,56 miliar. 

Padahal RTI Infokom mencatat harga saham BCA sejak Januari hingga 14 Juli 2020 atau year to date (ytd) melemah 7,26%. Namun, dalam satu pekan terakhir menguat 7,64%.

Ekonom Universitas Pasundan Acuviarta Kartabi menilai, aksi penjualan saham yang dilakukan 5 bos BCA ini tak akan mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Acu juga menilai, sikap direksi BCA tidak menggambarkan adanya keadaan buruk dalam tubuh perusahaan.

"Itu biasa saja. Kalau itu saya kira cuma dinamika yang lebih banyak pada pertimbangan teknikal. Kan memang kondisi di pasar modal seperti itu fluktuasinya, sangat rentan dengan berbagai situasi dan kondisi ekonomi. Terutama kan perbankan dalam kondisi hari ini menjadi sorotan sebagai transmisi dalam rangka pemulihan ekonomi ataupun dampak Covid-19. Jadi itu mempengaruhi sentimen pasar di bursa sehingga saya kira itu juga mempengaruhi persfektif," kata Acu kepada ayobandung.com, Kamis (16/7/2020).

Acu juga memprediksi pasar masih memiliki sentimen positif dengan kinerja BCA. Buktinya, harga saham perusahaan terus merangkak beberapa waktu terakhir. Menurut Acu, keyakinan pasar timbul karena BCA dianggap memiliki fundamental yang cukup baik. Terlebih, fundamental perusahaan salah satunya bisa dilihat dari kinerja keuangan.

"Karena secara fundamental kalau kita lihat secara korporasi kan tidak ada masalah. Bahkan banknya bagus dan terjaga. Apalagi menjualnya kecil juga dibandingkan dengan kepemilikan saham mereka. Bahkan menurut saya relatif sangat kecil. Saya kira, itu dalam rangka pemenuhan kebutuhan untuk jangka pendek saja," katanya.

Acu mengamati, kondisi bisnis BCA menjadi yang terbaik di industri perbankan meski dunia tengah dipersulit dengan kehadiran pandemi Covid-19. Berdasarkan data perusahaan, BCA masih mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit di tengah pandemi virus corona.

Penyaluran kredit BCA pun tumbuh sebesar 12,3 persen menjadi Rp612,2 triliun pada kuartal I 2020. Kenaikan kredit ditopang oleh kredit korporasi yang naik 25,4 persen jadi Rp260,4 triliun, kredit komersial dan UKM tumbuh 5 persen menjadi Rp191,2 triliun, dan kredit konsumer meningkat 3 persen menjadi Rp154,9 triliun.

Kualitas kredit bank cukup terjaga. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang sebesar 1,6 persen pada kuartal I 2020 atau di bawah batas industri 3 persen.

"BCA leading, bagus. Jadi saya melihat tidak ada itu (sentimen negatif). Kalau pun ada, memang dalam 2 atau 3 minggu terakhir terkait dengan kondisi perbankan tertentu saja. Menurut saya itu lebih banyak kepada informasi jangka pendek dan tidak memiliki korelasi yang signifikan terhadap stabilisasi perbankan. Artinya kalau kita lihat kan, pertumbuhan aset, kredit, dan sebagainya masih cukup positif lah," ujarnya.

Editor: Dadi Haryadi
dewanpers