web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Tantangan Belajar Daring bagi Sekolah Dasar

Rabu, 15 Juli 2020 10:43 WIB M. Naufal Hafizh

Seorang siswa yang baru duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Yoga (12), saat menyaksikan arahan tentang tahun ajaran baru dari Wali Kota Bandung Oded M Danial pada siaran langsung daring di kediamannya, Jalan Sekeloa, Kota Bandung, Senin (13/7/2020). Memasuki hari pertama sekolah pada tahun ajaran baru 2020/2021 yang berlangsung di tengah pandemi Covid-19, mengakibatkan siswa di beberapa sekolah di Kota Bandung menerapkan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring sesuai arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia guna meminimalisasi penyebaran pandemi Covid-19 pada lingkungan pendidikan. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

CIAMIS, AYOBANDUNG.COM -- Tidak jauh berbeda dengan jenjang pendidikan lainnya, sekolah dasar (SD) pun terdampak proses pembelajarannya karena pandemi Covid-19.

Selama setengah tahun ini, siswa SD juga diharuskan untuk belajar dalam jaringan (daring) dari rumah masing-masing atau sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Pada dasarnya, sistem belajar daring bisa diterapkan di berbagai jenjang pendidikan, dari jenjang TK sampai perkuliahan. Hanya saja perlu ada penekanan dan perhatian yang berbeda setiap jenjangnya.

Fajrin, guru Bimbingan Konseling (BK) SMA Labschool Jakarta, mengatakan, jenjang SD memiliki rentang yang panjang, yaitu 6 tahun. Diversitas karakter siswa SD menjadi sangat bervariasi.

Selain itu tiap daerah pun punya kondisi demografis yang berbeda-beda. Bahkan, di satu daerah saja bisa berbeda-beda karakteristiknya. Berbeda dengan jenjang SMP dan SMA yang lebih fokus kepada kualitas metode pembelajaran, untuk jenjang SD perlu ada penekanan tentang fungsi orang tua dalam pembelajaran, terutama bagi kelas-kelas level bawah (kelas 1-3).

Siswa SD yang masih kecil pun butuh interaksi lebih dengan lingkungan sekitarnya. Oleh karenanya, menurut Fajrin, dibutuhkan sistem blended learning yang baik agar kebermanfaatan tugas yang siswa terima bisa maksimal.

“Kalau sebatas full online itu tidak memungkinkan, karena berbagai materi dasar itu adanya di SD, dan dari SD kita harus paham konsep sepenuhnya. Begitu pula dengan penugasannya, tidak bisa sekadar cuma tugas-tugas yang jawabannya bahkan bisa diketik di Google. Makanya, tugasnya harus menekankan kebermanfaatan buat siswa, berbasis masalah, dan tugasnya itu ada kaitannya dengan interaksi siswa dengan lingkungan sekitar,” ungkap Fajrin.

Hanya saja karena pandemi seperti saat ini, tentunya terdapat banyak tantangan yang dihadapi terkait sistem blended learning di jenjang SD tersebut.

Fajrin menjelaskan beberapa tantangan yang harus dihadapi guru SD terkait pembelajaran selama pandemi seperti saat ini.

Pertama, peran orang tua sangat penting dalam pembelajaran daring siswa SD.

“Peran orang tua penting untuk kolaborasi dengan guru, karena sekarang orang tualah yang menjadi guru siswanya. Jadi, rumah itu harus nyaman untuk belajar dan orang tua perlu paham untuk membimbing anak, setidaknya kalau tidak mengerti materi dia harus bisa mengawasi anak ketika mengerjakan tugas. Masalahnya adalah jika orang tua level ekonominya kurang bagus. Ketika orang tua bekerja, tidak ada yang menemani anak belajar, jadi agak sulit untuk membimbing apalagi siswa SD level bawah,” kata Fajrin.

Selain itu, sama dengan tantangan jenjang pendidikan lain pada umumnya, masalah koneksi internet dan metode pembelajaran juga perlu diperhatikan sekali.

Koneksi internet harus stabil agar pengajaran bisa tersampaikan kepada siswa dengan baik. Serta metode pembelajaran yang efektif diperlukan sebab terdapat kemungkinan siswa sulit belajar apalagi jika hanya diberi materi mentah-mentah.

Kesulitan koneksi internet dan fasilitas belajar daring lainnya sangat dirasakan oleh SD yang berada di daerah atau pedesaan. Hal tersebut pun salah satunya diresahkan oleh Atik, guru di salah satu SD di Kabupaten Ciamis. Dia mengatakan, sulit sekali pembelajaran daring atau PJJ ini jika diterapkan di daerah atau pedesaan.

“Sebenarnya PJJ ini bukanlah hal baru untuk sekolah, tapi karena kita tinggal di daerah yang bisa dibilang pedesaan jadi banyak masyarakat yang awam akan hal seperti pembelajaran daring ini, karena tidak semua orang tua mempunyai fasilitas pendukung dan koneksi internet yang bagus,” ucap Atik.

Atik menambahkan, karena terdapat larangan siswa untuk datang ke sekolah, lalu ditambah dengan sulitnya fasilitas pembelajaran yang ada di rumah, solusinya adalah guru harus mendatangi siswa-siswanya di luar lingkungan sekolah. Hal tersebut dinamakan sebagai sistem Guru Keliling.

Guru SD harus rela untuk mendatangi siswa atau kelompok siswa satu per satu untuk mengadakan pengajaran tatap muka secara terbatas untuk memaksimalkan proses belajar siswa-siswanya.

Bagaimana tantangan-tantangan tersebut bisa teratasi?

Menurut Fajrin, hal terpenting yang perlu diselesaikan adalah sistem petunjuk teknis yang dirancang oleh sekolah, dengan mempertimbangkan kemampuan masing-masing daerah.

Terdapat langkah-langkah yang setidaknya bisa dilakukan sekolah agar bisa mengatasi tantangan-tantangan yang ada.

Pertama, sekolah bisa mengadakan pembekalan bagi guru-gurunya terkait metode-metode yang bisa digunakan untuk memanfaatkan koneksi internet, terutama di daerah yang minim koneksi dan sinyal internet.

Selain itu, perlu ada penyederhanaan kompetensi dasar, agar materi yang diberikan lebih padat dan tidak kebanyakan, karena PJJ ini perlu efisien dan efektif. Lalu sekolah juga perlu membangun program yang kolaboratif bersama orang tua. Jadi, pembelajaran bisa tersampaikan dengan baik. Terakhir, penerapan blended learning perlu ditekankan, terutama untuk sekolah di daerah, guru jadi tidak perlu datang ke rumah masing-masing siswa setiap harinya karena akan memakan waktu lama kalau semua rumah dikunjungi. (Fariza Rizky Ananda)

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers