web analytics
  

Pembagian Daging Hewan Kurban Diimbau Door To Door

Selasa, 14 Juli 2020 22:13 WIB Tri Junari
Bandung Raya - Ngamprah, Pembagian Daging Hewan Kurban Diimbau Door To Door, hewan kurban,Iduladha 2020

Hewan Kurban. (Kavin Faza)

NGAMPRAH, AYOBANDUNG.COM -- Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakan) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan penerapan protokol kesehatan Covid-19 saat penyembelihan hewan kurban Idul Adha pada 31 Juli mendatang.

Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban yang sudah menjadi tradisi setiap tahun bakal mengundang kerumunan masyarakat sehingga menjadi tugas panitia kurban menekan risiko penularan Corona Virus Disease. 

Kepala Bidang Kesehatan dan Pengendalian Hewan KBB, Wiwin Apriyanti mengatakan, protokol kesehatan yang wajib diterapkan saat penyembelihan hewan yakni tidak berkerumun dan mengenakan sarung tangan serta masker. 

"Menang kurban ini sudah jadi tradisi umat muslim tiap tahunnya. Tapi sekarang kan lagi pandemi Covid-19, jadi mesti waspada dan menerapkan protokol kesehatan. Tidak berkerumun dan mengenakan sarung tangan terutama," ungkap Wiwin saat dihubungi, Selasa (14/7/2020).

Panitia pelaksana kurban di masjid-masjid harus bisa mengendalikan masyarakat yang berkerumun. Selain itu diimbau mengurangi personel yang terlibat saat penyembelihan. 

"Kalau bisa juga dilaksanakan di lapangan, jadi kalaupun berkerumun tetap terasa luas jadi bisa menyebar. Personel yang terlibat juga tidak terlalu banyak, secukupnya saja," katanya. 

Panitia yang bertugas menyembelih hewan kurban, lalu pembersih hewan, dan pemotong daging diwajibkan menggunakan sarung tangan dan masker. 

"Yang diantisipasi itu dropletnya. Jadi tetap wajib memakai sarung tangan dan masker, meskipun sebetulnya virus ini kan perlu sel hidup untuk berkembang biak," jelasnya. 

Selain itu, masyarakat penerima jatah daging hewan kurban juga disarankan tidak perlu datang ke lokasi untuk mengambil jatah. Namun diganti dengan sistem antarlangsung atau door to door yang dilakukan panitia kurban. 

"Biasanya juga banyak antre di masjid atau lapang mengambil jatah daging, lebih baik diam di rumah masing-masing biar nanti dagingnya diantarkan oleh panitia, lebih efektif dan meminimalisir risiko penularan," paparnya. 

Selain soal penyembelihan, pihaknya melakukan antisipasi penularan penyakit hewan pada manusia dengan pemeriksaan kondisi hewan kurban di penjual sebelum sampai ke tangan pembeli. 

"Salah satu bentuk jaminan saat membeli hewan kurban itu pemeriksaan kesehatan yang kita lakukan. Kalau sudah diberi label sehat dan aman, jadi boleh dibeli untuk kurban. Kalau sakit atau cacat, tidak akan ada labelnya," tandasnya.

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers