web analytics
  

Sistem Belajar Daring, Tak Semua Orang Tua Mampu 'Dukung' Anak

Selasa, 14 Juli 2020 17:06 WIB M. Naufal Hafizh
Umum - Pendidikan, Sistem Belajar Daring, Tak Semua Orang Tua Mampu 'Dukung' Anak, Belajar Daring,orang tua,Pendidikan,Pembelajaran Jarak Jauh

[Ilustrasi] Penggunaan smartphone. (Unsplash.com/Freestock)

CIAMIS, AYOBANDUNG.COM -- Wabah Covid-19 yang melanda seluruh dunia sangat berpengaruh terhadap segala bidang, termasuk pendidikan.

Sejak Maret, berbagai tingkatan institusi pendidikan terpaksa mengambil kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau sistem belajar dalam jaringan (daring). Mulai dari PAUD/TK, SD, SMP, SMA, bahkan universitas. Siswa maupun guru diperkenankan melaksanakan proses pembelajaran dari rumah masing-masing dengan platform daring yang banyak macamnya.

Permasalahan tidak hanya berhenti sampai situ saja. Belajar daring yang membutuhkan pengetahuan tentang teknologi dan fasilitas canggih dirasa tidak mudah bagi beberapa orang. Selain itu, peran guru yang mengajar sekaligus membimbing siswa di sekolah, baik dalam hal karakter maupun moral, juga tidak terealisasi ketika siswa belajar di rumah. Hal tersebut membutuhkan peran pihak lain dalam membimbing siswa, salah satunya orang tua siswa itu sendiri.

Bila, salah satu siswa SMP di Kabupaten Ciamis, mengatakan, peran orang tuanya dalam pembelajaran daring sangatlah penting. “Selama belajar daring di rumah, peran orang tua adalah yang paling penting karena pengganti guru di sekolah. Saat mengerjakan tugas-tugas kadang membutuhkan orang tua jika tidak mengerti, kalau saya lupa ada tugas mamah yang selalu mengingatkan. Kadang mamah juga ikut pusing mengerjakan tugas, harus ikut baca-baca lagi, harus ikut belajar semua pelajaran, apalagi kalau saya tidak mengerti sama soal-soalnya. Sampai mamah seperti sekolah lagi jadi harus tahu semua yang saya pelajarin.”

Menurut Bila, selain untuk mengingatkannya belajar dan mengerjakan tugas, dia kerap membutuhkan orang tua ketika ada materi belajar yang kurang dia pahami. Hal tersebut menandakan bahwa orang tua harus siap sedia perihal wawasan dan pengetahuan untuk mendukung keberhasilan sistem belajar daring.

Jelas adanya bahwa orang tua adalah pengganti guru di rumah dan diharapkan bisa ikut terlibat dalam proses belajar anak secara langsung. Seperti yang dicontohkan Bila, orang tuanya ikut membaca materi pembelajaran, ikut membantu mengerjakan tugas, dan memberinya penjelasan mengenai pelajaran yang ia kurang mengerti.

Sama halnya dengan salah satu orang tua siswa, Riri, yang memiliki 2 anak yang sedang belajar daring. Satu anaknya merupakan siswa SMP dan satu lagi mahasiswa. Dia pun menegaskan tentang perannya sebagai orang tua untuk mendukung pembelajaran daring. Hanya saja, bukan sebagai pengganti guru seutuhnya, namun lebih tepatnya sebagai fasilitator yang bisa mendukung sistem belajar daring dengan baik.

“Sebenarnya saya tidak membimbing langsung karena anak saya sudah mampu untuk melakukan tugasnya sendiri. Sebagai orang tua kami hanya memberikan fasilitas, seperti menyediakan internet di rumah, alat komunikasi seperti ponsel, laptop, dan komputer. Jadi, kami hanya sebagai fasilitator saja, kalau sebagai pembimbing yang saya rasakan tidak terlalu banyak membimbing karena anak-anak sendiri sudah mampu melaksanakan tugasnya sendiri, paling hanya sekali-kali saja jika mereka menanyakan hal-hal yang sifatnya saran karena masalah materi pelajaran mereka lebih tahu,” ujar Riri.

Faktor keberadaan fasilitas pendukung menjadi sangat sentral bagi keberhasilan belajar daring. Jika siswa tidak bisa difasilitasi peralatan pendukung, seperti ponsel, laptop, komputer, atau bahkan jaringan internet baik WiFi maupun kuota internet, siswa akan sulit mengikuti pembelajaran.

Hal tersebut dikhawatirkan Yuni, guru Bimbingan Konseling (BK) salah satu sekolah menengah di Kabupaten Ciamis. Dia menerangkan, pada nyatanya tidak semua orang tua mampu mendukung anaknya ketika belajar daring.

“Tentunya peran orang tua sangat besar dan seharusnya mendukung pembelajaran daring anaknya. Namun kenyataannya ada orang tua yang tidak bisa mendukung. Pertama karena kurang paham (dalam hal wawasan), kurang memiliki pengetahuan, sehingga pembelajaran bisa terhambat. Kedua, tentang penggunaan smartphone itu kan membutuhkan kuota dan dana lebih untuk membelinya, karena mungkin ekonominya terbatas karena di keadaan seperti ini kan orang tua penghasilannya berkurang. Jangankan untuk membeli kuota untuk belajar, untuk makan sehari-hari saja terbatas,” kata Yuni.

Karena kesulitan ekonomi dan kurangnya pengetahuan orang tua, menurut Yuni, hal tersebut bisa sangat menghambat pembelajaran daring siswa. Yuni menjelaskan, jalan keluar yang bisa dilakukan siswa terutama yang memiliki keterbatasan secara ekonomi. Siswa yang tidak memiliki ponsel atau kuota internet bisa belajar bersama teman-temannya yang rumahnya dekat dan memiliki fasilitas yang lengkap, asal jangan terlalu berkerumun dan mengikuti protokol kesehatan dengan baik.

Yuni menambahkan, tentunya sangat penting bagi orang tua untuk bisa mendukung, tidak hanya dari fasilitas, mereka juga harus selalu mengingatkan anaknya ketika waktunya belajar, supaya anak tidak terlena. Selain itu terkadang ada pula kasus ketika  orang tua mampu, tapi justru anaknya menggunakan ponsel untuk hal-hal yang kurang tepat, seperti bermain gim dan sebagainya. Orang tua harus bisa mengingatkan anaknya untuk belajar daring dengan baik supaya kuota yang ia miliki juga tidak cepat habis, karena jika penggunaannya tidak tepat juga merupakan salah satu bentuk pemborosan. (Fariza Rizky Ananda)

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers