web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Dampak Psikologis Belajar dari Rumah bagi Anak dan Orang Tua

Selasa, 14 Juli 2020 16:51 WIB M. Naufal Hafizh

[Ilustrasi] Anak belajar dari rumah selama pandemi. (Unsplash/Anniespratt)

AYOBANDUNG.COM -- Sejak pandemi Covid-19 menyerang Indonesia pada bulan Maret 2020, banyak kegiatan yang harus dilakukan dari rumah. Salah satunya belajar bagi anak-anak sekolah. Hingga kini, berbagai daerah masih harus menyelenggarakan pendidikan secara daring karena angka kasus Covid-19 masih cukup banyak di daerah tersebut.

Pelaksanaan program belajar dari rumah yang sudah berlangsung cukup lama memberikan dampak tersendiri terhadap psikologis anak dan orang tua. Menurut Gantini, psikolog, trainer, dan motivator dari Gant Smart di Bandung, perpindahan metode anak belajar dari rumah akan berefek pada anak dan ibu.

“Kalau efek itu tergantung karakter anak. Yang sudah senang dengan media sosial dan gadget akan fine fine aja. Yang cukup berat justru di orang tua, khususnya ibu karena menambah tugas ibu,” kata Gantini dalam wawancara melalui telepon, Senin (13/7/2020). Selama metode pembelajaran dari rumah, ibu harus bisa mengajari atau minimal memantau anaknya di jam-jam yang sudah ditentukan sekolah.

Gantini menyebutkan, dirinya sering menerima sharing tapi bukan karena masalah anaknya, justru dari pihak ibu yang merasa stres karena tugasnya bertambah. Membagi waktu antara mengurus rumah dan mengajari anak bukanlah tugas mudah.

Gantini menyarankan frekuensi komunikasi guru terhadap anak harus intens. Menurut pengalamannya selama ini, tidak ada sekolah atau guru yang mentransfer kurikulum pendidikan kepada orang tua. “Karena kalau dilepas ke ibu kan ibu tidak tahu kurikulum pendidikan.”

Menurutnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus membuat silabus yang clear antara silabus sekolah dan silabus rumah. Sistem yang berlaku pada semester genap pada tahun ajaran 2019/2020 kemarin akan menyebabkan hambatan pada perkembangan anak.

“Coba perhatikan kebijakan kemendikbud. Saya masih melihat belum ada terobosan baru. Tahun ajaran baru ada kesempatan kalau mau menggunakan metode baru. Karena kalau engga bisa copot pola perkembangan anaknya,” tutur Gantini.

Gantini merasa pola pembelajaran dari rumah ini akan bagus jika dilaksanakan dengan pengaturan dan pengendalian yang bagus. Harusnya anak bisa lebih unggul dididik dengan pola ini jika tersistemasi dengan jelas.

Capaian mata pelajaran berupa pembentukan karakter harus ditransfer pada orang tua supaya orang tua juga bisa mentransfer kepada anak meskipun metodenya berbeda. Pendidikan dari orang tua berpotensi mendapatkan hasil yang lebih bagus sebab orang tua biasanya lebih mengetahui anaknya dan berinteraksi lebih intens.

“Mungkin nanti yang akan terjadi adalah dinamika hasil. Karena silabus sama tetap saja akan menghasilkan hasil yang berbeda,” kata Gantini.

Gantini juga menyatakan, perlunya optimalisasi peran guru BK. Guru BK berperan sebagai sahabat siswa selama normal baru ini. Dulu, guru BK hanya harus mengurusi siswa di sekolah, tentunya saat seperti ini fungsinya berbeda. Tapi sampai sekarang menurutnya fungsi ini belum dilaksanakan.

“Harus ada komunikasi yang lebih intens atau paling tidak sosialisasi awal ingin dibawa seperti apa pendidikannya,” tutur Gantini. Sebab ketidakjelasan dalam pola pengajaran akan berdampak negatif pada anak terutama pada pola hidup dan perkembangannya yang tak berjalan sebagaimana harusnya. (Putri Shaina)

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers