web analytics
  

(Masa Depan) Pandidikan Era New Normal

Selasa, 14 Juli 2020 11:10 WIB Netizen Istanti, S.Si, M.Ec.Dev
Netizen, (Masa Depan) Pandidikan Era New Normal, Normal Baru,Pendidikan,Belajar Online

[Ilustrasi] Belajar daring. (Ayobandung.com/Eflin Sitepu)

Istanti, S.Si, M.Ec.Dev

Statistisi Muda pada Seksi Statistik Kesejahteraan Rakyat

AYOBANDUNG.COM -- Presiden Joko Widodo menetapkan Kepres 12/2020 tanggal 13 April 2020 tentang bencana non alam Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sebagai bencana nasional. Hampir 4 bulan, penerapan social distancing dan physical distancing untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 telah merubah pola kerja dunia pendidikan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengumumkan kebijakan pembelajaran jarak jauh, berlaku pada seluruh tingkat pendidikan (dasar hingga tinggi). Sekolah Dasar hingga universitas. Pembelajaran diselenggarakan dari rumah, dan mayoritas menggunakan pembelajaran daring sebagai pengganti pembelajaran tatap muka.

Sebenarnya, kita patut berbangga bahwa pembangunan manusia Indonesia terus mengalami kemajuan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia tahun 2019 mencapai 71,92. Angka ini meningkat sebesar 0,53 poin dibandingkan tahun 2018. Capaian patut dirayakan. Sebagai indeks komposit, IPM menunjukkan perkembangan pembangunan manusia dari sisi pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Lihat saja, angka harapan lama sekolah  telah mencapai di angka 15,58. Dengan demikian untuk anak usia 7 tahun memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 12,95 tahun (hampir setara dengan untuk menamatkan jenjang pendidikan diploma 1). Bahkan penduduk usia 25 tahun keatas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 8,34 tahun atau hampir setara dengan jenjang pendidikan kelas IX.

Sementara dari sektor kesehatan memperlihatkan, bayi yang lahir pada tahun 2019 memiliki harapan untuk dapat hidup hingga 71,34 tahun, lebih lama 0,14 tahun dibandingkan dengan mereka yang lahir tahun sebelumnya. Pada tahun 2019, masyarakat Indonesia memenuhi kebutuhan hidup dengan rata-rata pengeluaran per kapita yang disesuaikan (PPP) sebesar 11,30 juta rupiah per tahun, meningkat 240 ribu rupiah dibandingkan pengeluaran tahun sebelumnya.

Akan tetapi, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia masih di posisi peringkat 6 diantara negara-negara Asean. Di kawasan Asia Tenggara, IPM Indonesia masih tertinggal dari Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Dan kini pembangunan manusia mendapat ujian dan tantangan sangat serius. Mampukah nageri ini mengawal kualitas pembangunan manusia khususnya pembangunan pendidikan dalam bayang Covid-19?

Penyebaran virus corona yang telah terjangkit di lebih dari 208 negara, tak terkecuali Indonesia. Dampak kenyebaran Covid-19 semakin meluas.  Elan Satriawan mengatakn bukan hanya meningkatnya angka kemiskinan namun juga berdampak pada Human Caiptal Loss. Sebenanya, pemerintah telah bertindak cepat. Covid-19 telah ditetapkan sebagai bencana nasional melalui Kepres no 12 tahun 2020,  dan pemerintah telah mengalokasikan dana mitigasi dampak tidak terduga  pendemi covid-19 sebesar 563 trilliun rupiah sebagai dana Program Social Safety Net.

Salah satu upaya memerangi penyebaran virus, pemerintah mengeluarkan kebijakan agar masyarakat bekerja dari rumah(Work From Home/WFH), yang diikuti oleh sekolah dari rumah (Study From Home/SFH). Serentak seluruh eleman masyarakat, kementrian, pelaku ekonomi menyambut seruan presiden untuk bersama menghentikan meluasnya pandemi virus tersebut.

Namun demikian, awal bulan Juni 2020, pemerintah menyerukan program New Normal. Pembangunan sektor ekonomi berjalan beriringan dengan pembangunan sektor kesehatan. Pelaku ekonomi di ijinkan untuk membuka kembali usaha berdampingan dengan masih menyebarnya virus corona di beberapa wilayah. Meski baru 102 kabupaten zona hijau yang baru mengantongi ijin pemberlakukan program new normal. Nyaris para wanita berprofesi sebagai wanita karir atau ibu rumah  tangga punya kewajiban yang sama. Seluruh kegiatan belajar mengajar di selenggarakan secara online

Tantangannya adalah Indonesia belum siap dengan aktivitas online. Baik dari sisi fasilitas yang tersedia maupun kepiawaian guru dan orang tua dalam hal teknologi.  Hasil Susenas Maret 2019, mencatat 47,69 persen penduduk Indonesia telah mengkases internet. Di sisi lain, mayoritas kualitas pembelajaran sangat di tentukan oleh SDM seorang ibu. Dengan hanya mengandalkan komunikasi WA, mekanisme pembelajaran sebatas pemberian tugas-tugas di rumah dengan penjelasan yang minim.

Proses pendidikan era Covid 19 menuntut pada ibu rumah tangga piawai memahami IT. Ibu rumah tangga berperan untuk dapat memberikan penjelasan yang konkrit dan mudah dipahami oleh anak-anak dari berbagai jenjang pendidikan.

Keberadaan dan kemajuan teknologi saat ini membantu untuk menyelesaikan permasalahan dengan mengakses media online. Permasalahan muncul ketika ibu tidak hanya berperan sebagai ibu rumah tangga namun juga wanita pekerja. Hasil Survei angkatan kerja nasional (sakernas) Februari, menunjukkan sebanyak 52,02 persen wanita usia 15 tahun keatas  aktif berpatisipasi dalam bekerja mencari nafkah.  Mereka bekerja sekaligus mendampingi dan mendidik anak-anaknya saat pendidikan daring. Manajemen waktu, salah satu kunci ampuh dalam situasi saat ini. Tetap jaga kesehatan, produktifitas tidak menurun, kualitas output tidak berkurang dan lingkungan rumah pun nyaman, aman dan kondusif sebagai tempat pembelajaran anak.

Kualitas pendidikan saat ini, sangat rawan terjadi penurunan. Sebelumnya, pembelajaran sistem tatap muka  para siswa mendapatkan sharing ilmu pengetahuan dari seorang guru yang memang sudah punya keahlian dan profesional, sementara di rumah, peran guru sangat minim. Sekadar memberikan tugas sekolah untuk dikerjakan di rumah atau pemberian materi melalui media online. Sisi positifnya adalah dalam kondisi saat ini tak sedikit para pendidik yang mempunyai inovasi di masa pembelajaran online.

Salah satunya adalah penyelenggarakan belajar mengajar secara online, tatap muka melalui media internet, memberikan video penjelasan sehingga memudahkan siswa memahami tugas yang diberikan guru. Mengembangkan keahlihan teknologi bagi setiap guru saat ini sudah menjadi kebutuhan dan keharusan.

Di sisi lain tak semua orang tua siswa punya fasilitas media online, familiar terhadap alat komunikasi hingga kualitas SDM para orang tua yang masih beragam. Kemudahan akses materi pembelajaran perlu mendapatkan perhatian serius. Apalagi saat pandemi Covid-19 yang masih mengkhawatirkan, monitoring pembelajaran di rumah seyogyanya dipatau secara periodik. Memastikan anak didik tetap dapat belajar di rumah dengan nyaman dan tak terbebani dengan tugas sekolah agar menjamin kualitas pendidikan dapat terkendali. Bila saat ini pemerintah sedang fokus untuk segera keluar dari teror Covid-19 yakni berupaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memacu pertumbuhan ekonomi, namun kualitas pendidikan juga tak dapat dikesampingkan.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers