web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Tahun Ajaran Baru, Ciamis Tetapkan Sistem Daring dan Luring

Senin, 13 Juli 2020 15:24 WIB M. Naufal Hafizh

Siswa SMPN 1 Banjarsari mengikuti arahan PJJ, Senin (13/7/2020). (Ayobandung.com/Fariza Rizky Ananda)

CIAMIS, AYOBANDUNG.COM — Memasuki tahun ajaran baru 2020/2021, kegiatan belajar-mengajar di Kabupaten Ciamis belum dilaksanakan sepenuhnya. Salah satunya di Kecamatan Banjarsari.

Untuk sekolah tingkat menengah dan sederajat, para siswa hanya melaksanakan kegiatan terbatas di sekolah, yaitu pembagian buku paket dan pemberian arahan pembelajaran jarak jauh (PJJ) ke depannya. Kegiatan tersebut dilaksanakan di sekolah dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan.

“Anak masuk sekolah berbaris di pintu gerbang, lalu tes suhu menggunakan thermogun. Semua siswa sudah memakai masker, kemudian masuk ke ruangan dengan jumlah terbatas, satu meja satu siswa. Setiap sudut bangunan disediakan tempat cuci tangan dan setiap guru diberikan hand sanitizer,” kata Swasti Karyani, guru SMPN 1 Banjarsari.

Mengenai arahan sistem PJJ untuk tahun ajaran baru ini, para guru di Banjarsari mengikuti imbauan Bupati Ciamis yang dikeluarkan dalam Surat Edaran No. 420/2617-Disdik.1/2020 tentang Penyelenggaraan Pendidikan dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Kabupaten Ciamis. Dijelaskan bahwa jenjang PAUD, TK, SMA, dan SMP sederajat diimbau melaksanakan PJJ dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring) dimulai sejak hari ini, Senin (13/7/2020).

Swasti menjelaskan, sistem daring di SMPN 1 Banjarsari tetap menuntut guru untuk datang ke sekolah ketika proses pembelajaran berlangsung. Namun siswa tetap harus tinggal di rumah. Lain halnya dengan sistem luring, terdapat istilah “Guru Kunjung”, yakni guru-guru mendatangi kelompok kecil siswa yang telah dibentuk untuk belajar secara langsung selain di sekolah.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 1 Banjarsari Enok Sukaesih mengatakan, terdapat beberapa kendala dalam sistem daring dan luring ini. Untuk sistem daring, beberapa kendalanya adalah ada siswa yang tidak memiliki ponsel, keterbatasan pulsa, sulit melihat perkembangan karakter dan moral siswa, serta keterbatasan wawasan dan pengetahuan orang tua ketika terlibat dalam proses belajar.

Lalu untuk sistem luring, walaupun belum terlaksana, terdapat prediksi kendala yang akan terjadi.

“Kesulitan mengelompokkan anak secara koordinat untuk dibuat kelompok, untuk jumlah siswa yang besar diperlukan jumlah guru yang banyak pula, pembuatan jadwal kunjungan hanya dilakukan bagi anak yang mendapat kesulitan belajar dan tidak punya ponsel saja, fasilitas tempat belajar tidak ada yang sesuai dengan protokol kesehatan, contohnya jaga jarak," ujar Enok. (Fariza Rizky Ananda)

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers