web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Teabumi Bandung, Upaya Mengenalkan Teh di Tanah Kelahirannya

Senin, 13 Juli 2020 13:19 WIB Nur Khansa Ranawati

Mei Ping menuangkan sejumlah teh di kafe Teabumi. (Ayobandung.com/Nur Khansa Ranawati)

 

CICENDO, AYOBANDUNG.COM -- Wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, sejak lama dikenal sebagai salah satu daerah penghasil komoditas teh di Indonesia. Di masa kolonial Belanda, para 'juragan' teh di tanah Priangan alias para Preanger Planters juga merupakan salah satu golongan konglomerat Belanda yang kekayaannya melimpah karena kejayaan teh.

Kultur minum teh di Jawa Barat hingga saat ini pun masih berkembang. Teh sudah melebur dalam keseharian warganya, bahkan kerap dijadikan minuman utama selepas makan.

Namun, hal tersebut sekaligus menjadikan teh seolah merupakan komoditas yang 'murah' atau kurang bernilai karena mudah didapat di mana saja. Padahal, banyak varietas teh di Indonesia, termasuk Jawa Barat, yang diincar warga mancanegara karena keistimewaannya.

Hal inilah yang mendasari Mei Ping, wirausahawati di bidang kuliner sekaligus pegiat komunitas teh untuk mendirikan kafe Teabumi pada awal 2019. Kafe yang namanya diambil dari Bahasa Sunda "Ti bumi" atau "Dari rumah" memiliki produk unggulan berbagai jenis teh dengan penyajian yang beragam.

"Kami ingin mengembalikan tanah Pasundan sebagai rumah dari teh, sudah sekian lama kita tenggelam dengan jenis minuman lainnya sampai lupa kalau teh juga berasal dari Jawa Barat," ungkapnya ketika ditemui di Teabumi, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, belum lama ini.

Teabumi memiliki 5 jenis teh utama dan 25 jenis turunannya. Beberapa di antaranya ada yang bersifat musiman alias tidak dapat diperoleh setiap saat.

Kelima jenis tersebut adalah teh hitam, teh hijau, teh putih, teh kuning, dan teh oolong. Sebanyak 80% produk teh tersebut berasal dari perkebunan teh di Jawa Barat, dan sebagian lainnya diambil dari perkebunan di Sumatera.

"Ada beberapa base teh yang diambil dari Sumatera karena di Jabar karakternya kebanyakan soft. Teh dari petani-petani lokal ini kita olah lagi dicampur bunga dan buah," ungkapnya.

Untuk menggaet pasar milenial dan dewasa muda, Mei mengolah minuman teh menjadi lebih 'kekinian'. Tak hanya diseduh secara konvensional, beberapa jenis teh di Teabumi juga disajikan secara dingin dengan campuran buah, hingga dibuat menyerupai sampanye.

"Di Bandung harus ada upaya lebih (untuk mengenalkan jenis teh) karena tiap makan dikasih teh gatis. Makannya di sini ada menu-menu blend yang lebih menarik secara penampilan," ungkapnya.

Seperti Laras Teabumi. Teh tersebut disuguhkan dalam sebuah botol yang ditaruh dalam bucket berisi es. Sekilas, minuman tersebut menyerupai sampanye.

Ketika disajikan, teh berwarna kemerahan tersebut dituang ke dalam gelas berisi es. Irisan lemon ditaruh di atas teh, yang memperkaya keseluruhan rasanya dengan sensasi masam yang segar.

Mei mengatakan, menu tersebut merupakan perpaduan dari dua varietas teh, yakni Assamica dan Sinensis. Selain ada pula perpaduan rempah lain seperti sereh, jahe, lemon, persik hingga madu.

"Ini inspirasinya dari orang yang menikah, menggabungkan dua jiwa menjadi satu. Saya membuat teh inspirasinya dari mana saja sesuai mood, kemudian diriset," ungkapnya.

Selain Laras Teabumi, dia juga meracik menu lainnya seperti "Menak Priangan". Aneka menu teh tersebut dipadukan dengan menu makanan yang mengedepankan cita rasa Sunda.

"Di sini juga ada spageti aglio olio tapi pakai jambal roti, supaya kesan Jawa Barat-nya tetap ada," ungkapnya.

Dia berharap, inovasi menu teh yang disajikan dapat menarik minat generasi muda untuk menjadikan minuman tersebut sebagai minuman yang bergengsi.

"Ternyata memang perlu upaya untuk mengenalkan teh di tanah kelahirannya," ungkap Mei.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers