web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Dikungkung Keterbatasan, Gitar Yono Diekspor Hinga Australia

Senin, 13 Juli 2020 12:40 WIB Irpan Wahab Muslim

Yono dan gitar buatannya (Ayotasik.com/Irpan Wahab)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Keterbatasan fisik, tidak membuat Yono Mulyono warga Sindangsono lebak Rt 01/02 Desa Sukamanah, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya berpangku tangan. Di tengah keterbatasan fisiknya, Yono justru terus mengasah kemampuan dalam berbagai bidang, mulai dari bidang grafis atau desain hingga membuat alat musik jenis suling dan gitar.

Ditemui Ayotasik.com dirumahnya, Senin (13/7/2020) Yono mengisahkan perjalanan hidupnya hingga bisa membuat sebuah gitar. Bermula awal tahun 1994, Pria kelahiran 7 Juni ini mulai menyukai dan mencintai seni musik. Dari situ, muncul keinginan membuat gitar sendiri dengan bahan membeli dua lembar triplek.

"Tapi gagal semua, tripleknya bahkan saya jadikan kayu bakar, " ucap Yono singkat.

Namun, kegagalan itu tidak menjadikan pria kelahiran 1973 itu patang arang. Meski sempat berhenti mempelajari pembuatan gitar karena mengerjakan pekerjaan lain, akhirnya tahun 2017 lalu, gitar hasil karya Yono pun sukses terbuat.

"Delapan belas tahun, keinginan membuat gitar itu baru terwujud tahun 2017. Selama delapan belas tahun itu, saya menggeluti seni tulisan, cerpen puisi dan lainnya, " kata Yono.

Terbentuknya sebuah gitar tahun 2017 pun, lanjut Yono, bukan disengaja. Awalnya ia melihat banyaknya triplek dan kayu yang tidak terpakai didepan rumah. Tanpa banyak berfikir, ia langsung membuat gitar impiannya.

"Langsung dibuat, itu selesai dalam satu minggu. Alatnya juga sederhana, hanya kapak, pisau cutter dan pecahan kaca," ucap Yono.

Setelah sukses membuat satu gitar itu, pesanan berbagai model dan jenis gitar bermunculan. Mulai dari pesanan dari tetangga, Ciamis, Jakarta, Bandung, Batam, hingga negara Australia dan Abu Dhabi.

Pesanan dari Australia itu, ucap Yono, bermula dari tetangganya yang bekerja di Batam. Tetangganya itu mempunyai teman kerja warga Australia. Saat pulang ke Australia, pesanan pun datang via pesan singkat Facebook.

"Jadi itu pesanan via tetangga saya yang bekerja di Batam. Saya kirim ke sana, itu juga tanya-tanya gimana ngirimnya ke Australia. Alhamdulilah rezeki selalu ada. Kalau dihitung sekitar 20 gitar sudah saya buat," ucap anak pertama dari dua bersaudara ini.

Namun, selama ini, ucap Yono, ia terkendala modal dan pasar. Artinya, pembuatam gitar tidak selalu diproduksi setiap hari. Ia hanya mengerjakan pesanan gitar saja. Selama tidak ada pesanan gitar, Yono mencoba usaha lain di bidang desain grafis.

"Ada pesanan baru dikerjakan, karena modal dan pasarnya saya tidak punya. Kalau selama ini, alhamdulilah tidak ada halangan atau hambatan apa-apa dalam pembuatan gitar," ujarnya.

 

Editor: Rizma Riyandi

artikel lainnya

dewanpers