web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Klaster Covid-19 Secapa AD, Pemkot Bandung Kebut Skenario PSBM

Minggu, 12 Juli 2020 13:50 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Ema Sumarna (Ayobandung.com/Eneng Reni)

CIDADAP, AYOBANDUNG.COM -- Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung tancap gas mengkoordinasikan skenario terbaik untuk penerapan Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM) di daerah sekitar Kelurahan Hegarmanah, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung. Langkah tersebut dilakukan usai diketahui sebanyak 1.280 kasus positif Covid-19 berasal dari Sekolah Calon Perwira (Secapa) TNI AD. 

Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Ema Sumarna mengatakan, skema PSBM akan dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan koordinasi dan hasil pemetaan wilayah dari camat dan lurah setempat. 

"Hari ini kita dalam rangka koordinasi. Kita pagi tadi mendengarkan dulu bagaimana kesiapan pak camat dengan unsur jajaran pimpinan di kecamatan ada kepolisian, ada koramil. Faktanya saya belum mendapat gambaran yang maksimal karena tadi tidak terpetakan seperti apa yang kita bayangkan," kata Ema usai ekspose simulasi penerapan Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM), di Kantor Kecamatan Cidadap, Minggu (12/7/2020).

Terkait pembatasan sosial berskala mikro di wilayah tersebut, Ema menyampaikan, ada dua opsi skenario yang menjadi pertimbangan. Pertama,  skenario untuk memblokir seluruh wilayah kecamatan. Kedua, karantina wilayah dengan melokalisasi radius dari titik klaster Secapa AD.

Dengan skema penerapan PSBM ini , jalan masuk ke kawasan itu otomatis akan ditutup atau hanya boleh dimasuki penghuni dan diberlakukan satu pintu. Aktivitas sekunder dan tersier ditutup selama 14 hari untuk memastikan tidak ada 'kebocoran' penularan virus corona ke luar lingkungan Secapa AD.

"Di sini ternyata ada 8 RW yang saling berdekatan dari titik klaster Secapa ini. 3 kelurahan juga yang ada di Cidadap ini memiliki RW yang berdekatan baik di Ledeng, Hegarmanah, ataupun Ciumbuleuit," katanya. 

Ema pun telah mengarahkan Camat Cidadap, seluruh tokoh masyarakat dan unsur pimpinan di kecamatan tersebut untuk merundingkan opsi mana yang paling memungkinkan. Setelah adanya pemetaan, Ema menyebut, pihaknya bisa menentukan secara pasti apa saja kebutuhan hingga jumlah personel yang harus disiapkan.

"Bayangan saya, nanti orang yang akan masuk keluar di wilayah yang akan dilakukan PSBM ini semuanya harus controlable. Yang datang siapa? Mau ke mana? Datanya harus tercatat betul. Begitu pun yang keluar mereka tidak perlu sama sekali kita sarankan mereka tidak beraktivitas keluar. Kita tahan, udah stay at home aja," katanya.

Ema memastikan PSBM di wilayah tersebut akan dilakukan secepat mungkin untuk menekan penyebaran Covid-19. Terkait kebutuhan pangan masyarakat terdampak Covid-19 hingga sarana, prasarana, peralatan juga akan dikoordinasikan satu pintu melalui Camat setempat.

"Ini harus secepatnya, dan yang paling utama adalah kesepahaman sinergi dengan seluruh tokoh warga masyarakat jangan sampai ini ada kesalahpahaman. Kita ngerti lah tidak ada manusia yang suka dikerangkeng, ditahan-tahan tapi ini kan kedaruratan. Tang paling utama bagi kita adalah kesehatan, ini jangan main-main," 

Ema berharap, penerapan PSBM di wilayah sejumlah wilayah yang berbatasan dengan kompleks secapa AD dapat dilakukan secepatnya. Lantaran pelaksanaan PSBM di wilayah tersebut sebagai upaya menghentikan penyebaran Covid-19.

"Kalau saya harapkan secepatnya. Kalau hari ini memang sudah ada kesepakatan, ajukan nanti Perwal keluar, saya pikir besok lusa paling lambat ini sudah bisa diberlakukan," ucapnya.

Sementara itu, Ema menyampaikan, saat ini ada 450 warga yang akan melakukan rapid test. Pengetesan ini dilakukan pada pekan depan yakni Rabu hingga Jumat. 

Meski begitu, Ema menyebut, pelacakan harus terus dimaksimalkan khususnya untuk wilayah yang berbatasan langsung dan dekat dengan kompleks lembaga pendidikan militer tersebut. Dia mengatakan, penanganan Covid-19 adalah perang melawan waktu.

"Di sini yang namanya darurat kesehatan mobilitas manusia itu harus dibatas. Tapi pengecekan, pelacakan, justru harus jauh lebih maksimal. Kan ada 8 RW yang berbatasan, cari lagi di sana. Di tracking mereka pergi kemana saja selama beberapa hari belakang, interaksi dengan siapa saja. Mungkin saja bisa meluas, tapi gak jadi masalah, justru surveilans yang betul seperti itu, sehingga kita akan jauh lebih mengetahui lebih banyak peta-peta masyarakat yang potensi terpapar atau terpapar untuk bisa dilakukan segera penanganan," ujarnya.

Editor: Rizma Riyandi

artikel lainnya

dewanpers