web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Epidemiolog Unpad: Peningkatan Kasus Covid-19 Jabar Masih akan Terjadi

Minggu, 12 Juli 2020 10:15 WIB

Ilustrasi (Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Pakar epidemiologi mengimbau masyarakat Jawa Barat (Jabar) kembali mendisiplinkan diri menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Pasalnya, masyarakat adalah garda terdepan perang melawan Covid-19

Menurut staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof Bony Wiem Lestari, banyak bukti ilmiah bahwa memakai masker dan jaga jarak dapat mencegah penularan. 

Menurutnya, para pakar di Jabar sebelumnya telah memprediksi lonjakan kasus ini bakal terjadi dewasa ini. “Sekarang kasus positif di Jabar 4.951 bertambah 105 orang. Tidak beda jauh dengan estimasi kami di angka 5.000 kasus positif,” ujar Bony kepada wartawan akhir pekan ini. 

Bony menjelaskan bagaimana masyarakat seharusnya membaca secara bijak data tersaji agar tidak ada misperspsi dan salah menyikapi. Menurutnya, ada tiga kemungkinan dari data positif yang tersaji. Pertama, laju infeksi memang sedang terjadi. “Prediksi kami menunjukkan satu bulan ke depan masih akan naik,” katanya. 

Kedua, kata dia, efek peningkatan tes masif. Saat ini Jabar sedang mengejar target WHO tes PCR 1 persen dari jumlah penduduk atau sekitar 500.000. Saat ini Jabar sekarang sedang gencar uji usap (tes swab/PCR). Minggu uji usap, sudah di angka 78.000. ”Sekarang mungkin di 88.000. Makin banyak yang dites, makin banyak temuan positif, makin bagus untuk pelacakan,” kata Bony. 

Ketiga, kata dia, pelimpahan administrasi. Jabar berpotensi menerima limpahan kasus dari provinsi lain. Dalam arti tertular di provinsi lain tapi karena KTP-nya Jabar, maka dihitung sebagai kasus warga Jabar. “Kita juga menerima limpahan kasus dari provinsi lain,” kata Bony. 

Fakta di lapangan, kata dia, para pakar sebetulnya kesulitan menentukan kurva penularan apakah Indonesia saat ini telah melewati gelombang pertama Covid-19 atau belum. Syarat untuk menentukan kurva adalah kapasitas tes masif yang baik. Di awal wabah terjadi tes masif belum sebaik seperti saat ini. 

“Sebenarnya agak sulit menentukan kurva apakah kita masih first wave (gelombang pertama) atau menyongsong second wave (gelombang kedua),” katanya. 

Dalam situasi seperti ini, Bony merekomendasikan, beberapa hal untuk dilakukan pemerintah daerah. Pertama, pemda harus memastikan institusi atau organisasi di bawahnya lebih rajin turun ke lapangan mengecek ventilasi udara berfungsi baik, serta disinfeksi alat pendingin udara (AC) baik di kantor, pabrik, bioskop, mal, pesantren, asrama dan tempat berisiko tinggi lainnya. 

“Ada wabah yang sumbernya dari AC, itu sempat outbreak di Amerika. Jadi radang pernapasan akut ternyata sumbernya adalah AC. Jadi harus lebih sering bebersihna,” kata Bony. 

Kedua, kata dia, pemda harus menyediakan sistem pelayanan kesehatan dan SDM memadai mengantisipasi ledakan pasien. “Kalau ada peningkatan kasus dan misalnya semua harus dirawat, apakah tempat tidur di rumah sakit dan tenaga medis cukup. Ini harus disiapkan pemerintah,” katanya.

Pada saat yang sama, kata dia, pemda juga perlu memperkuat edukasi masyarakat tentang pentingnya menerapkan protokol kesehatan. Menurut Bony, betapa pun pemerintah mewajibkan banyak tapi kalau masyarakatnya tidak patuh, tetap akan sulit berjalan.

“Ini momen kita introspeksi apakah sudah menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Saling mengingatkan satu sama lain karena dengan itu kita bisa kuat,” katanya. 

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Rizma Riyandi

artikel lainnya

dewanpers