web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Tawarkan Osprey, Cara AS Selamatkan Boeing

Sabtu, 11 Juli 2020 16:05 WIB Netizen Sjarifuddin Hamid

V-22 Osprey. (Youtube/Airboyd)

Sjarifuddin Hamid

Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

AYOBANDUNG.COM -- Pada dekade 1960-an, Angkatan Udara Amerika Serikat ingin memiliki pesawat angkut yang bisa membawa tank, helikopter, pesawat terbang, truk dan personel militer. Pesawat militer terbesar di dunia ini diharapkan mampu terbang antarbenua tanpa henti.

Boeing Company mengikuti tender tapi dikalahkan Lockheed Corp. yang kemudian memproduksi pesawat angkut militer terbesar di dunia, C-5 Galaxy. Daya angkutnya 120 ton atau sanggup memuat dua buah tank Abrams, enam helikopter Apache dan sebagainya. Jarak tempurnya 5.526 km. Dek atas Galaxy bisa membawa 73 personel militer.

Sejak penerbangan pertama pada 1968, Lockheed telah membuat 131 unit, yang terdiri dari 81 C-5A: 81 dan sisanya seri C-5B. Pada seri B dilakukan modifikasi sayap, penyederhanaan landing gear, dan sistem avionik.

Belakangan, Lockheed juga memperbaiki 49 C-5B, 2 C-5C, dan 1 C-5A menjadi C-5M Super Galaxy dengan peningkatan daya dorong mesin sebanyak 27 persen. Jarak tinggal landas yang lebih pendek. Tinggal landas 58 lebih cepat. Membawa muatan lebih banyak dengan jarak tempuh lebih jauh. Pesawat yang disempurnakan ini diberi nama C-5 M Super Galaxy yang terbang perdana tahun 2006.

Bukan Kiamat

Kalah tender bukan berarti kiamat. Boeing Corp. malah mendapat permintaan dari maskapai Pan American (Pan Am) untuk membuat penumpang terbesar di dunia. Permintaan Pan Am memecahkan mitos bahwa yang diperlukan adalah pesawat penumpang sipil dengan kecepatan supersonik, bukan subsonik yang kecepatannya sekitar 900 km per jam.

Boeing Commersial Airplanes kerepotan lantaran belum pernah membuat pesawat jumbo, yang ukurannya dua setengah kali Boeing 707. Joseph F Sutter yang sedang merancang Boeing 737 dimutasi.

Dia ditugaskan membuat B-747 yang bisa mengangkut lebih dari 350-550 penumpang. Daya tempuhnya Sydney – London, Sydney – Los Angeles, London/Amsterdam/Frankfurt-Singapura. Sejauh 12.500 km.

Boeing juga terpaksa membangun pabrik seluas 50 kali lapangan sepak bola, di Everett, negara bagian Washington. Sejumlah 50 ribu pekerja dilibatkan. Selain hanggar raksasa, di situ dibangun landasan terbang.        

Akhirnya, Boeing Commercial Airplanes memproduksi  dua Boeing 747-100 pada September 1968 untuk diuji. Dua tahun kemudian pesawat sejenis diserahkan kepada Pan American World Airlines, sebagai pemesan pertama. Pan Am 25 unit.

Boeing Commercial Airplanes sukses besar. Total produksinya hingga Januari 2020 hampir mencapai 1.600 unit. Ia memproduksi berbagai seri 747 untuk keperluan kargo, semi kargo, performa khusus sampai seri 747-400 dan 8 yang mampu mengangkut 450 dan 465 penumpang.

Garuda Indonesia, termasuk airlines yang pernah mengoperasikan B-747-400. Captain Pilot Rosihan Makmur menyatakan ‘queen of skies’ mudah dikendalikan. “Bisa tinggal landas walaupun dalam kecepatan rendah”.

Rahasia Sukses

Para petinggi Boeing Commercial Airplanes berani ambil resiko dengan menerima permintaan Pan American World Airways kendati belum punya pengalaman membuat pesawat jumbo. Pesawat terbesar yang dibuatnya ketika itu adalah Boeing-707 yang dapat mengangkut 140 -175 penumpang dengan jarak tempuh 6.700 km sampai 9.300 km, Jakarta-Tokyo. Pesawat bermesin empat ini bising dan boros bahan bakar, tetapi terjual 865 unit. Laris.

Investasi besar-besaran untuk membuat Boeing hampir bangkrut pada 1970. Ternyata pesawat jumbo terbukti laku di pasaran. Seyogyanya dengan hanya memproduksi 465 unit saja, Boeing Commercial Aeroplanes sudah impas tapi ternyata produksinya mencapai hampir empat kali lipat.

Selain sukses berkat berkolaborasi dengan Pan Am, Boeing juga dapat merealisasikan permintaan Pan Am karena mempunyai pekerja yang andal. Terutama berkat kepiawaian Joseph F Sutter, sang perencana.

Boeing juga diuntungkan dengan keberanian membalikkan keadaan. Saat ini, persepsi yang berlaku adalah maskapai memerlukan pesawat supersonik bukan subsonik. Ternyata, Boeing 747 yang kecepatan maksimalnya 900km menang bersaing dibandingkan Concorde.

Cara Trump Selamatkan Boeing

Berdasarkan data Worldmeter , Covid-19 melanda 213 negara dan teritori. Di negara berkembang,wabah ini menyebabkan sekitar 400 juta orang menjadi miskin dan 265 juta orang kelaparan.

Wabah menimbulkan pukulan hebat terhadap pemangku perjalanan udara. Puluhan maskapai penerbangan terpaksa menonaktifkan ratusan pesawat. Mereka menunda atau bahkan membatalkan pembelian pesawat baru. Mem-PHK penerbang, awak kabin dan pekerja kontrak.

Boeing Corp. juga terpengaruh. Tak ada lagi pemesanan pesawat untuk B-787- Dreamliner atau B-737- Max yang nahas. Pasar tidak tertarik membeli obligasi Boeing senilai US$25 miliar yang tidak diterbitkan pada Mei tahun 2020.  

Presiden Donald Trump telah menyatakan tidak akan membiarkan Boeing ‘bangkrut’ sebab mata rantai produksinya melibatkan 17 ribu perusahaan dengan 2,5 juta pekerja. Bagaimana caranya?

Salah satu caranya adalah menciptakan ketegangan dengan China, kemudian menawarkan persenjataan kepada sekutunya dan negara-negara yang berhampiran.

Defense Industry Daily pada 7 Juli lalu melaporkan, pemerintah Jepang dan Amerika Serikat tengah memulai pembicaraan membuat pesawat tempur baru. Mitsubishi Heavy Industries, Lockheed Martin, Boeing dan Northrop Grumman dilibatkan.

Lockheed memiliki keunggulan dalam teknologi siluman. Boeing dalam material komposit. Northrop Grumman canggih dalam teknologi peran elektronik dan radar.

Dalam waktu yang relatif bersamaan berbagai media internasional memberitakan, Di sisi lain, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat baru saja telah menyetujui rencana penjualan kepada Indonesia delapan pesawat tiltrotor MV-22 Osprey Block C buatan Bell Helicopter dan Boeing Space, Defense and Security seharga US$2 miliar atau Rp 28,9 triliun.

Menurut Badan Kerja Sama Pertahanan Keamanan AS (DSCA) alasan persetujuan rencana penjualan Osprey karena Indonesia dianggap penting sebagai penjaga stabilitas politik dan kekuatan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik.

Sekjen Kemhan Marsekal Madya Donny Ermawan Taufanto membantah Indonesia akan membeli Osprey. “ Pernyataan pembelian merupakan klaim sefihak Amerika Serikat. Pemerintah lebih memprioritaskan pembelian peralatan dari dalam negeri.”

Osprey merupakan pesawat yang dapat tinggal landas seperti helikopter dan terbang jelajah seperti pesawat terbang konvensional . Selain dipakai untuk keperluan militer, Osprey yang mampu terbang dengan kecepatan 340-465 km per jam juga digunakan untuk mendukung operasi ampibi dan pemulihan dampak bencana alam.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers