web analytics
  

Pandangan Anak dan Orang Tua Soal Sistem Pembelajaran Daring

Sabtu, 11 Juli 2020 14:00 WIB M. Naufal Hafizh
Bandung Raya - Bandung, Pandangan Anak dan Orang Tua Soal Sistem Pembelajaran Daring, Pembelajaran Daring,Belajar,Rumah,Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim,Tahun Ajaran Baru 2020/2021

[Ilustrasi] Orang tua mengajari anak selama belajar di rumah. (Pixabay/ddimitrova)

CIBIRU, AYOBANDUNG.COM -- Tanggal 13 Juli 2020, tahun ajaran baru akan dimulai. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sebelumnya telah mengeluarkan kebijakan hanya sekolah di daerah berstatus zona hijau yang boleh melakukan pembelajaran tatap muka. Sekolah yang berada di zona kuning, oranye, dan merah masih diharuskan mengadakan pembelajaran daring atau online.

Selain berada di zona hijau, banyak syarat lain yang harus dipenuhi oleh sebuah sekolah bisa menyelenggarakan pembelajaran langsung.

“Untuk bulan pertama pada saat itu ceklis sudah terpenuhi, hanya diperkenankan SMA, SMK, dan SMP. Jadi hanya level yang lebih menengah. Jadi SD saat ini belum boleh dipersilakan membuka,” tutur Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dalam keterangan pers melalui kanal Youtube Kemendikbud RI (15/6/2020).

Penyelenggaraan pembelajaran dengan sistem daring ini menuai reaksi yang berbeda-beda dari orang tua siswa. Terutama setelah melewati sistem daring selama beberapa bulan belakangan. Ada yang bereaksi positif, ada pula yang negatif.

“Sebetulnya agak beban juga ya karena kan saya kerja. Tapi mau tidak mau kita harus ngikutin itu daripada sangat waswas untuk masuk sekolah juga,” kata Lia, warga Cipadung.

Lia memiliki 2 anak laki-laki di jenjang pendidikan SMP dan SD. Dia cukup kesulitan karena harus mendokumentasikan kegiatan pembelajaran siswa di rumah sebagai laporan ke pihak guru.

Selain Lia, Faizal Riza, warga Cikarang, juga menyampaikan kesulitan yang dihadapi selama berlakunya sistem pembelajaran daring. Faizal memiliki seorang putri yang tengah menempuh pendidikan jenjang SMP di sebuah sekolah boarding (asrama) di Cikarang.

“Jadwalnya itu numpuk, dan begitu juga pengajarannya. Tugas yang pelajaran pertama belum selesai, tapi sudah harus masuk ke pelajaran yang kedua,” ungkap Faizal.

Faizal dan Lia juga mengeluhkan perihal pemberian ponsel pada anak mereka. Pembelajaran daring menuntut siswa memiliki akses terhadap gawai. Padahal Lia belum ingin memberikan smartphone bagi anaknya yang masih SD. Begitu pula Faizal yang menetapkan untuk tidak membelikan ponsel hingga anaknya berusia 18 tahun.

Kendati begitu, keduanya mengakui anak mereka terlihat senang dengan sistem pembelajaran daring.

“Satu pihak dia senang, ngga harus ke sekolah. Satu pihak lagi bosan juga karena ngga ketemu teman-temannya. Tapi yang paling asyik dia santai aja, nungguin belajar sama ibu. Karena selama ini lebih senang belajar sama Ibu daripada sama guru,” kata Lia.

Meskipun memang sedikit menyulitkan, namun baik Lia maupun Faizal merasa sistem ini menjadi tantangan bagi orang tua untuk bisa menggantikan peran guru dalam mendidik anak mereka. “Selama ini kita hanya menitipkan pembelajaran itu ke sekolah. Sekarang buat saya sih ini merupakan challenge ya bagaimana orang tua bisa menjadi orang tua, bisa menjadi guru. Dan itu berat,” komentar Faizal.

Lia dan Faizal sama-sama sepakat ini menjadi hikmah dari pembelajaran sistem daring. Orang tua juga harus ikut serta dalam pendidikan anak-anaknya, tidak hanya menyerahkannya pada pihak sekolah. (Putri Shaina)

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers