web analytics
  

Pengamat dan Orang Tua: Prioritaskan Bantuan untuk Belajar Online

Sabtu, 11 Juli 2020 13:36 WIB M. Naufal Hafizh
Bandung Raya - Bandung, Pengamat dan Orang Tua: Prioritaskan Bantuan untuk Belajar Online, Pendidikan,Cecep Darmawan,Pembelajaran Jarak Jauh,Bantuan Operasional Sekolah (BOS),Uang Kuliah Tunggal,UKT,Corona,COVID-19,Belajar Online

[Ilustrasi] Relawan beserta siswa mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi Bandung ke-8 di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (19/2/2020). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Pengamat Kebijakan Pendidikan dan Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Cecep Darmawan menekankan pentingnya bantuan untuk sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Hal ini disampaikan berdasarkan skema tahun ajaran baru yang rencananya dimulai Senin, 13 Juli 2020.

“Pemerintah harus bisa meringankan biaya peserta didik. SMA dan SMK juga seharusnya digratiskan saja biaya sekolahnya,” ucapnya.

Cecep mengajukan optimalisasi penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang disalurkan pemerintah murni untuk fasilitas PJJ. Untuk tingkat perguruan tinggi negeri, Cecep pun mengajukan pengurangan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) minimal 50%.

“Pertama, evaluasi kelemahan (PJJ) kemarin,” tuturnya, menjelaskan langkah yang harus ditempuh untuk memperbaiki sistem PJJ. “Kedua, pemerintah pusat harus mampu memperbaiki infrastruktur daerah yang tidak terjangkau internet.”

Secara keseluruhan, Cecep berpendapat lebih baik sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tetap diterapkan. Kerja sama dengan perusahaan swasta, terutama perusahaan komunikasi yang menyediakan layanan internet, perlu dilakukan.

“Saya kira keuntungan mereka (perusahaan penyedia layanan internet dan jasa belajar jarak jauh) takkan berkurang. Pemerintah Pusat harus membuat penyesuaian kurikulum untuk sistem belajar di masa ini,” ujarnya.

Mengenai apakah sudah waktunya Indonesia kembali membuka sekolah, Cecep cenderung berpendapat untuk tetap belajar dari rumah.

Setau saya yang boleh buka hanya zona hijau, itu pun harus melewati persyaratan yang ketat dan lebih baik tingkat SMA saja yang dibuka. Namun, sepertinya hingga Desember nanti lebih baik tetap jarak jauh saja, setidaknya sampai ada penanganan yang lebih baik untuk COVID-19,” simpulnya.

Orang Tua Menekankan Penyesuaian Sekolah

Salah seorang orang tua murid SMP di Kota Bandung, menuntut penyesuaian sekolah.

“Memang ‘kan seharusnya biaya sekolah itu gratis, tapi faktanya selalu saja ada biaya untuk pembangunan sekolah,” katanya.

“Memang itu kan cita-cita sekolah, tapi ya jangan mau di atas terus. Seharusnya dari mulai sistem zonasi diberlakukan sudah penyesuaian pembiayaan, ‘kan yang bersekolah di sana macam-macam kemampuan ekonominya. Ditambah lagi sedang pandemi,” katanya.

Sang ibu menuntut sekolah untuk berhenti menargetkan “sedekah” setiap kelasnya. Pasalnya, “sedekah” yang dialokasikan untuk pembangunan itu dianggap sia-sia, toh sekarang sedang diprioritaskan PJJ.

“Lebih baik dialokasikan untuk memberikan pendanaan internet dan fasilitas belajar online buat yang Rawan Melanjutkan Pendidikan (RMP). Biaya yang lain seperti seragam, pembangunan, itu nanti saja. Tidak terpakai juga,” katanya.

Saat ditanya apakah sang ibu siap mengirim kembali anaknya untuk bersekolah secara tatap muka seandainya sekolah dibuka, sang ibu menolak tegas.

Nggak mau. Pertama, Bandung baru aja turun ke zona kuning dalam waktu kurang dari seminggu, dari hijau ke biru ke kuning. Kedua, belum ada penurunan drastis angka penderita Covid-19 per harinya,” ungkapnya, juga meragukan kemampuan anak SMP menjaga kebersihan dengan benar.

“Fokus aja sama belajar onlinebenerin sistemnya. Buat jadwal terstruktur per harinya, agendakan tugas dan ujian dengan benar. Edukasi guru mengenai cara baru mengajar, anak-anak juga harus disosialisasi dengan baik biar efektif,” tuturnya. (Farah Tifa Aghnia)

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers