web analytics
  

​​​​​​​Mendaki Gunung di Situasi New Normal

Sabtu, 11 Juli 2020 10:53 WIB Netizen Faizal Mahmud

Pemandangan dari Puncak Gunung Slamet. (Faizal Mahmud)

Faizal Mahmud

Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung

AYOBANDUNG.COM -- Hampir 4 bulan kita berdiam diri di rumah mengikuti anjuran pemerintah untuk sama-sama melawan Pandemi COVID-19. Pandemi COVID-19 ini secara tidak langsung membuat suatu perubahan global dalam semua aktivitas dan kita menyebutnya Normal Baru atau lebih dikenal “New Normal”. Dengan demikian, kita perlu mempersiapkan cara terbaik untuk melindungi diri sendiri ketika Anda harus keluar dari rumah, terutama ketika kita ingin melakukan kegiatan outdoor, seperti mendaki gunung.

Namun, Apakah mendaki Gunung dimasa New Normal ini aman? Sekadar informasi bahwa penetapan pembukaan kawasan wisata atau reaktivasi TN/TWA/SM tertuang dalam Keputusan Menteri LHK No. SK.261/MENLHK/KSDAE/KSA.0/6/2020 tanggal 23 Juni 2020 tentang Kebijakan Reaktivasi Secara Bertahap Di Kawasan Taman Nasional (TN), Taman Wisata Alam (TWA), dan Suaka Margasatwa (SM) dalam kondisi Transisi Akhir COVID-19 (New Normal).

Keputusan Menteri tersebut membuat para pendaki maupun travelers bersiap siap-siap mengemas barang di tas carrier mereka untuk mulai bepergian. Hal ini tentu menjadi potensi masalah serius bahkan bisa jadi menjadi kluster baru penyebaran COVID-19 dari para pendaki ini, seiring dengan makin tenarnya trend mendaki gunung di kalangan remaja, tentu hal ini harus menjadi perhatian lebih.

Dua dokter dalam webinar Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) bertajuk "Mendaki Gunung Aman dan Sehat di Masa Pandemi" memberikan pemaparannya, Kamis (25/6/2020). Menurut mereka, Mendaki Gunung diperbolehkan di masa pandemi. Namun, para pendaki haruslah menyadari dan mengetahui kondisi dirinya agar tidak menularkan virus.

Hal ini berarti mengartikan untuk mengetahui kondisi kita sehat atau tidak, haruslah melakukan tes COVID-19 sehingga kita bisa mendapatkan bukti bahwa kita sehat dan tidak akan menularkan virus kepada orang lain. Hal ini menjadi masalah bagi pendaki yang memiliki keterbatasan dana, karena kita tahu biaya untuk melakukan tes COVID-19 ini tidak murah. Namun, untuk menjamin keselamatan aktivitas mendaki gunung,  hal itu musti dilakukan oleh para pendaki.

Jadi, cara aman mendaki gunung saat kondisi new normal ini pada dasarnya tetap mengacu pada SOP pencegahan COVID-19 diantara lain tidak berkerumun, cuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau dengan hand sanitizer, jaga jarak atau physical distancing serta penggunaan masker sesuai kebutuhan sehingga aktivitas mendaki gunung tetap dapat berjalan efektif, efisien, sehat dan aman.

Mungkin kita berpikiran bahwa di gunung tak ada virus COVID-19, namun yang harus kita ingat adalah kita akan berinteraksi dengan para pendaki yang kita tak tahu dari mana aasalnya, kita tak tahu apakah dia membawa virus atau tidak.

Beberapa gunung di Jawa Barat sudah buka, namun tampaknya protokol kesehatan belum diterapkan secara ketat oleh beberapa pengelola pendakian, masih banyak pendaki yang tidak mematuhi protokol kesehatan diantaranya tidak memiliki surat bebas COVID-19, tidak membawa hand sanitizer bahkan tidak memakai masker.

Untuk pemakain masker saat mendaki ini, beberapa ahli mengatakan bahwa sebaiknya masker tidak dipakai saaat mendaki karena bisa menyebabkan pendaki keurangan asupan oksigen ketika mendaki, namun tetap saja pendaki harus membawa masker.

Kegiatan pendakian di tengah pandemi ini harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya dan dibarengi dengan kesadaran dan kesiapan yang matang. Jangan karena tak memiliki stok foto untuk kebutuhan media sosial, kita memaksakan ego untuk bepergian mendaki gunung tanpa memperhatikan protokol kesehatan.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers