web analytics
  

5 Hal Keliru yang Bisa Picu Gelombang Kedua Covid-19

Sabtu, 11 Juli 2020 06:12 WIB

[Ilustrasi] Berkerumun karena yakin lebih kebal terhadap virus corona. (Pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM – Berbagai klaim yang keliru muncul seiring dilonggarkannya aktivitas selama pandemi Covid-19.

Padahal, berbagai klaim tersebut membuat mereka sangat berisiko terinfeksi dan memperluas kasus virus corona.

Berikut ini 5 klaim keliru yang bisa memicu gelombang kedua virus corona Covid-19, seperti dilansir dari The Sun.

1. Kaum muda lebih kebal terhadap virus corona

Kaum muda tetap berisiko terinfeksi virus corona Covid-19.

Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang dewasa muda dan anak-anak terinfeksi virus corona dengan gejala ringan atau tidak menunjukkan gejala. Artinya, kaum muda masih berisiko terinfeksi dan sangat mudah menularkan virus corona Covid-19 ke orang lain.

2. Masker tidak berfungsi efektif

Masker wajah memang tidak menjamin menghentikan penularan virus corona Covid-19. Namun, masker bisa membantu mencegah orang terinfeksi dan menyebarkannya ke orang lain.

Pengguaan masker setidaknya bisa menghentikan partikel virus ketika bersin, batuk atau berbicara. Karena itu, Anda disarankan memakai masker ketika berada di ruang publik, terutama transportasi umum.

3. Tak alami gejala, maka aman dari Covid-19

Sebagian besar kasus, orang yang terinfeksi virus corona Covid-19 akan menunjukkan gejalanya setelah 5 hari. Namun dalam beberapa kasus, seseorang bisa juga menunjukkan gejalanya hingga 15 hari.

Para ahli masih tidak tahu banyaknya orang yang terinfeksi virus corona tanpa gejala. Karena itulah, penting untuk mengisolasi diri selama 14 hari ketika Anda merasa terpapar virus corona Covid-19.

4. Seseorang lebih kebal setelah terinfeksi virus corona

Banyak orang mengira seseorang akan lebih kebal bila sudah terinfeksi virus corona Covid-19. Namun, membiarkan semua orang terinfeksi untuk mendapatkan kekebalan bisa menyebabkan dampak negatif lebih serius.

5. Virus corona Covid-19 tidak bisa menular di musim panas

Kasus flu memang menurun selama musim panas, tapi para ahli belum mengetahui kondisi ini akan berdampak baik pada virus corona Covid-19 atau tidak.

Namun, banyak orang menduga bahwa virus corona Covid-19 tidak mampu bertahan hidup dan menular ketika musim panas. Kepercayaan itulah yang bisa menyebabkan gelombang kedua virus corona.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers