web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Tren Bersepeda di Tengah Pandemi

Sabtu, 11 Juli 2020 02:21 WIB Netizen Laili Nurul Khoir

Warga bersepeda di Jalan Aceh, Kota Bandung, Sabtu (4/7/2020). Pemerintah Kota Bandung memberlakukan protokol baru dalam bersepeda yang telah disesuaikan dengan aturan di era new normal. Pesepeda harus tetap menerapkan protokol keselamatan dan kesehatan selama bersepeda, seperti menggunakan helm, kacamata, masker, selalu mencuci tangan atau menggunakan handsanitaizer, membawa botol minum sendiri, menjaga jarak, serta selalu menjaga kebersihan sepeda. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Laili Nurul Khoir

Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik.

AYOBANDUNG.COM -- Bersepeda kini sedang diminati oleh sebagian masyarakat di tengah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau new normal. Selain bisa menghilangkan kejenuhan selama Work From Home (WFH) dan Learn From Home (LFH), masyarakat juga bisa berolahraga pada waktu yang bersamaan.  Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa kini menjadi gemar bersepeda.

Namun, di tengah maraknya tren bersepeda, muncul tanggapan pro dan kontra antar-pengguna jalan. Pesepeda yang belum mengerti tentang aturan lalu lintas kerap kali membuat jengkel pengendara lain. Selain harus mematuhi aturan lalu lintas, pesepeda sudah seharusnya mengutamakan keselamatan mereka.

Bersepeda menjadi opsi kegiatan luar ruangan yang produktif setelah terkurung di  rumah untuk waktu yang cukup lama. Selain untuk mengolah fisik, bersepeda juga bisa menyegarkan pikiran. Beberapa manfaat bersepeda bagi kesehatan diantaranya adalah mengurangi stres, mengurangi risiko kanker, mengandalikan berat badan, dan meningkatkan kekuatan, keseimbangan, dan koordinasi otot tubuh. Selain beberapa manfaat tersebut, sebenarnya masih banyak manfaat yang bisa didapatkan dengan bersepeda.

Menurut Institute for Transportation & Development Policy (ITDP), setelah diberlakukan kembali aktivitas untuk pekerja kantoran, jumlah pesepeda di kawasan Dukuh Atas Jakarta Pusat naik cukup tinggi, yaitu 10 kali lipat hingga sebanyak 325 pesepeda per harinya. Tidak hanya di dalam negeri, di lingkup global tren bersepeda ini juga muncul di sejumlah negara.

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa pandemi membawa tren baru di kalangan masyarakat. Mulai dari pekerja kantoran hingga anak sekolah menjadi gemar berolahraga yang satu ini. Di sisi lain, para pengusaha sepeda diuntungkan dengan mengalami kelonjakan penjualan pada masa pandemi.

Di Indonesia penggunaan sepeda sebagai alat transportasi tetap belum tentu akan berkelanjutan sekalipun suasana sudah kembali normal. Masyarakat masih menganggap bersepeda sebagai alat hiburan dan sarana olahraga. Agar kegiatan ini terus berlanjut, masyarakat perlu mendapatkan dorongan fasilitas dari pemerintah.

Pemerintah sudah seharusnya untuk memperhatikan pengguna sepeda di jalanan. Jalur khusus sepeda perlu untuk diperluas dan dijamin keamanannya. Penggunaan sepeda menjadi hal positif bagi berbagai sudut pandang, salah satunya adalah dampak bagi udara di lingkungan sekitar. Polusi udara akan berkurang seiring banyaknya penguunaan sepeda sebagai alat transportasi

Di Bandung sendiri sudah disediakan jalur khusus sepeda di beberapa tempat. Pengguna sepeda harus memperhatikan dan mematuhi aturan lalu lintas yang telah ditetapkan. Menghargai pengguna jalan lain juga sangat penting untuk diperhatikan guna terhindarnya kecelakaan lalu lintas.

Tak sedikit pengendara lain yang kerap mengeluh karena pengguna sepeda yang tidak mematuhi aturan lalu lintas. Jika hal tersebut terus terjadi, tak mengherankan hal yang tidak diinginkan dapat terjadi di jalanan. Tidak hanya pesepeda yang harus menghargai pengguna jalan lain, namun pengguna jalan lain pun sama halnya harus menghargai pengguna sepeda demi terciptanya kenyamanan bersama dalam berkendara.

Terdapat banyak dampak positif bagi masyarakat dalam penggunaan sepeda jika dilakukan sesuai dengan prosedur. Selain dampak bagi kesehatan fisik dan mental, bersepeda juga memiliki dampak positif bagi lingkungan.

Tren bersepeda bisa menjadi berkepanjangan tergantung dari tujuan masyarakat bersepeda. Jika masyarakat nyaman dan senang berolahraga sambil bersosialisasi, bukan tidak mungkin mereka akan bersepeda terus-menerus. Namun sebaliknya, jika masyarakat hanya menggunakan sepeda karena mengikuti tren saja, bukan tidak mungkin juga jika beberapa tahun kedepan tren ini akan berangsur terlupakan.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers