web analytics
  

Cerita Didi Mainaki, Reportasekan Pertandingan Persib Hingga Piala Dunia

Kamis, 9 Juli 2020 17:47 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Didi Mainaki (Dokumentasi pribadi)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM -- Didi Mainaki menjadi sosok yang cukup familiar bagi warga Jawa Barat, khususnya bagi pendukung setia Persib Bandung. Salah satu reporter senior dari Radio Republik Indonesia (RRI) ini memiliki keahlian istimewa yakni melakukan reportase pandangan mata pertandingan skuat Maung Bandung.

Melalui reportasenya, pendukung setia Persib alias Bobotoh bisa mendapat kabar terbaru soal pertandingan tim kebanggaannya itu. Didi diketahui sudah menjadi reporter spesialis pertandingan Persib sejak 1998 dan masih aktif hingga kini.

Berkat tugasnya itu, Didi sudah menginjak kaki berbagai tempat. Tak terhitung berapa stadion yang pernah ia singgahi untuk melaporkan pertandingan Persib.

Bobotoh juga sudah tidak asing lagi dengan suara Didi. Dalam setiap pertandingan kandang Persib, Didi kerap ditunjuk sebagai MC atau the spokesman. suara Didi selalu mewarnai riuh rendahnya atmosfer stadion dalam pertandingan Persib

Tak mudah memang menjadi reporter pertandingan sepak bola. Sang reporter harus bisa menjelaskan secara detail sebuah pertandingan. Bahkan, ingar-bingar dan tingkah suporter di stadion harus bisa dijelaskan dengan baik agar pendengar bisa membayangkan bagaimana jalannya pertandingan. 

Berkat kemampuan reportasenya, Didi  sempat ditugaskan untuk meliput Piala Dunia 2018 di Rusia. Baginya, kesempatan untuk mewartakan langsung siaran Piala Dunia tak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya.

"Walaupun saya liputan Persib dari Sabang sampai Merauke. Saya sudah mulai dari Aceh sampai Wamena saya sudah injak semua tapi rasanya ada yang lain kalau meliput piala Dunia. Karena bisa melihat pecinta sepak bola dengan segala ciri khasnya dari seluruh penjuru dunia," kata Didi kepada Ayobandung.com, Kamis (9/7/2020).

Didi juga mengatakan, bisa menginjakkan kaki di Negeri Beruang Merah menjadi sebuah pengalaman luar biasa. Didi menyebut, pencapaiannya itu sebagai puncak karirnya sebagai reporter.

"Perasaannya sukar dilukiskan karena untuk wartawan sepak bola meliput Piala Dunia itu seperti 'naik haji'-nya wartawan sepak bola. Itu pengalaman yang sulit untuk saya lupakan. Pastinya menyenangkan, dan pastinya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, tidak bisa dinilai dengan apapun," katanya.

Selama menjalankan tugasnya sebagai reporter, Didi selalu membawa atribut Persib. Ia mengaku ikut bangga jika bisa ikut mengenalkan nama Persib sebagai tim kebanggaan Warga Jawa Barat.

"Saya bawa kebanggaan sebagai orang Jawa Barat, saya ingin lebih 'memasarkan' juga Persib. Dan ternyata di sana juga ada beberapa orang yang tahu ke Persib," ucap Didi.

Didi juga mengaku, selama meliput pertandingan di Rusia banyak suporter dari negara lain yang mengenal Persib sebagai klub elite sepak bola Indonesia. Kesan itu pun menjadi momen yang tak terlupakan baginya.

"Bahkan yang tidak bisa saya lupakan waktu itu ada suporter CSKA Moscow yang minta tukeran syal dengan saya. Dia tahu Persib dari media sosial kalau Persib itu tim paling terkenal di Indonesia. Saat saya tanya tim lain dia agak mengerutkan dahi tapi ketika bicara Persib dia respons positif walaupun dia gak ngomong banyak. Tapi paling tidak saya tarik kesimpulan kalau dia tahu Persib," kata Didi.

Tak kalah penting, Didi juga mengaku banyak memetik pelajaran berharga selama menyaksikan langsung ajang sepak bola paling bergengsi di seluruh dunia itu.

Didi menyebut, Piala Dunia menjadi bukti hiburan yang menyatukan segalanya. Baik ras, negara, agama, atau apapun ketika piala dunia diselenggarakan semua menikmati.

"Banyak pelajaran yang bisa dipetik. Betapa kalau sepak bola merupakan sesuatu yang bisa menyatukan semuanya. Tidak ada kulit hitam, kulit putih, orang mana-orang mana semuanya bergembira di sana," katanya.

Dia juga menilai Piala Dunia menyatukan dunia. Berbagai orang dari penjuru dunia bisa saling berkomunikasi ataupun berkenalan. Secara tidak langsung menambah relasi dari berbagai tempat dan murni hiburan. 

"Artinya tidak harus dicampuri urusan lain. Kita paham kalau di Indonesia kadang dibumbui dengan politik, atau kepentingan tertentu. Kalau di luar negeri, saya pikir mungkin ada tapi tidak kentara sehingga murni hiburan dan bisnis. Karena kalau sekarang sepak bola udah jadi bisnis, jadi industri. Itu yang bisa dipetik pelajaran untuk sepak bola Indonesia," ujarnya.

Editor: Rizma Riyandi

artikel lainnya

dewanpers