web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Tempat Hiburan dan Jasa di Kota Cirebon Mulai Dibuka Kembali

Jumat, 10 Juli 2020 14:55 WIB Dede Nurhasanudin

Ilustrasi (Pixabay)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Lebih dari 13 tempat hiburan dan penyedia jasa, hingga event di hotel, pada sektor kepariwisataan di Kota Cirebon sudah dibuka. Pembatasan jumlah pengunjung berlaku demi mencegah penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Tempat-tempat hiburan dan penyedia jasa yang sudah kembali buka meliputi rena permainan anak, panti pijat, hingga karaoke. Pun begitu dengan aktivitas di hotel, mulai pertemuan/meeting, insentif/incentive, konvensi/convention, dan pameran/exhibition (MICE), yang kembali diizinkan untuk dilaksanakan.

Sebelum beroperasi, para pengelola harus mengantongi rekomendasi dari otoritas setempat. Tempat-tempat hiburan dan penyedia jasa yang kembali dibuka di antaranya Panda Karaoke, NAF Karaoke, RAIN Karaoke, WAHAHA Karaoke, MIXO Karaoke, Happy Puppy Karaoke, Fantasy Karaoke, PaguyubanGantanganBurung, Fun World CSB, Trans Studio, Seoul Thai Panti Pijat, dan lainnya.

Sementara, sejumlah hotel yang dibolehkan kembali menggelar MICE antara lain Amaris Hotel, Hotel Santika, Hotel Bentani, dan lainnya.

"Aktivitas hiburan dan MICE di hotel sudah buka sekitar sepekan terakhir ini bersamaan diberlakukannya AKB," kata Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (DKOKP) Kota Cirebon, Wandi Sofyan kepada Ayocirebom.com, Jumat (10/7/2020).

Tempat hiburan dan penyedia jasa yang dibuka mulai akhir Juni 2020 sendiri sebelumnya telah didahului objek wisata. Sejumlah objek wisata di Kota Cirebon,  khususnya wisata budaya yang dikelola Keraton Kasepuhan Cirebon, sudah dibuka bagi umum sejak sekitar akhir Mei 2020.

Jumlah itu dimungkinkan bertambah, menyusul pengajuan dari tempat-tempat hiburan dan penyedia jasa lain agar diizinkan beroperasi kembali.

Dia mengakui, bioskop menjadi salah satu tempat hiburan yang belum buka sampai kini. Pihaknya masih menanti pemenuhan syarat yang diberlakukan bagi setiap pengelola sektor kepariwisataan.

"Kalau mau buka, silakan penuhi syarat," ujarnya.

Dia menyebutkan, khusus pengelola tempat hiburan dan penyedia jasa wajib menjalankan rapid test atau RT-PCR (uji swab) bagi minimal 30% karyawannya. Pelaksanaan tes Covid-19 bagi karyawan ini tak hanya berlaku sekali, namun berkala.

Rapid test atau RT-PCR, imbuhnya, dapat pula dilakukan pelaku sektor kepariwisataan lainnya untuk menjaga kesehatan karyawan. Bahkan, dia menyebut ada manajemen pada salah satu tempat hiburan di Kota Cirebon yang melaksanakan tes bagi 90% karyawannya.

Selain itu, para pengelola pula harus menyatakan kesiapan secara tertulis untuk menyiapkan segala sarana dan prasarana hingga kelengkapan penerapan protokol kesehatan di lokasi, baik bagi pengelola maupun pengunjung.

Dalam proses penerbitan rekomendasi, dia memastikan, verifikasi dilakukan pihaknya dengan mengecek langsung kondisi di lapangan. Bila dinilai sudah terpenuhi, pihaknya akan menerbitkan rekomendasi dan pengelola diizinkan membuka objek usahanya.

"Tapi, kami tetap monitoring pelaksanaannya," janjinya.

Meski diizinkan membuka usaha, jumlah pengunjung dibatasi hanya 50% dari kapasitas lokasi. Kebijakan pembatasan berlaku guna mencegah kerumunan yang berpotensi mempercepat penularan virus.

Dalam hal ini, sambungnya, pengelola sektor kepariwisataan wajib menunjuk person in charge (PIC) internal selaku penanggungjawab penerapan protokol kesehatan di tempat. PIC juga bertanggungjawab melaporkan segera bila ditemukan pengunjung yang menunjukkan gejala sakit.

"Di tempat hiburan dan penyedia jasa misalnya, harus disediakan tempat khusus untuk penanganan bagi yang sakit," tuturnya.

Dia pun mengingatkan masyarakat mematuhi protokol kesehatan, mulai dari mengenakan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun atau cairan pembersih tangan lain, hingga menjaga jarak fisik.

Selain itu, pengunjung diwajibkan memberikan kartu identitasnya guna pencatatan oleh pengelola. Pencatatan identitas dimaksudkan sebagai upaya penelusuran (tracing) bila kelak terjadi kasus pada tempat bersangkutan.

"Sebenarnya yang lebih aman diam di rumah kalau tak ada keperluan mendesak," cetusnya.

Namun dia meyakinkan, pengoperasian kembali aktivitas usaha, salah satunya pada sektor kepariwisataan, merupakan penyelarasan ekonomi dan aktivitas sosial masyarakat. Penerapan protokol kesehatan dalam hal ini menjadi kunci krusial dalam menekan laju paparan virus.

Editor: Rizma Riyandi
dewanpers