web analytics
  

Literasi Media saat New Normal

Jumat, 10 Juli 2020 10:36 WIB Netizen M. Ansor Mubarok
Netizen, Literasi Media saat New Normal, literasi media,COVID-19,Instagram,Youtube

[Ilustrasi] Literasi media (Pixabay)

M. Ansor Mubarok

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Bandung

AYOBANDUNG.COM -- Saat ini kita sudah memasuki babak baru di tengah pandemi Covid-19 yang masih belum usai.

Era new normal sudah di depan mata, siap ataupun tidak masyarakat harus mulai beraktivitas dengan segala adaptasi kebiasaan baru. Salah satu hal yang penting dilakukan saat situasi seperti sekarang adalah literasi media.

Melalui literasi, masyarakat akan semakin melek dengan segala hal yang terjadi karena mampu mengeksplorasi informasi lebih mendalam.

New normal membawa masyarakat kepada aktivitas sosial yang sedikit dilonggarkan setelah sebelumnya melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dalam menghadapi pandemi. 

Era ini sudah pasti berbeda dengan sebelumnya, satu persatu banyak aktivitas luar ruangan mulai bisa dilakukan walaupun tetap harus mematuhi protokol kesehatan.

Saat ini, terjadinya gelombang kedua merupakan momok menakutkan bagi setiap lapisan kalangan. Bagaimana tidak, sebagian masyarakat masih belum teredukasi dengan baik mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Untuk itu literasi media wajib dilakukan untuk meminimalisir hal-hal yang sifatnya tidak diinginkan.

Beraktivitas saat new normal sebenarnya bukanlah hal yang sulit mengingat informasi-informasi mengenai hal yang bersangkutan sangat mudah didapatkan. 

Hal tersebut disebabkan karena perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih telah melahirkan berbagai kemudahan bagi khalayak ramai. Banyak media massa seperti televisi, surat kabar, radio, bahkan new media internet berbondong-bondong menelurkan berita tentang pandemi Covid-19.

Di era digitalisasi seperti sekarang gempuran media sudah tidak bisa lagi dibendung. Kecanggihan dan kemudahan yang kita rasakan disadari atau tidak sudah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. 

Hal ini kemudian banyak menelurkan tren baru yang memiliki dua sisi seperti koin, di satu sisi positif dan sisi sebaliknya malah negatif.

Salah satu dampak positif yang dapat dirasakan adalah akses informasi yang semakin mudah, bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun tanpa harus berlama-lama menunggu penjual surat kabar ataupun jam tayang siaran di televisi maupun radio. Kemudahan ini tentu sangat dibutuhkan semua orang pada saat new normal seperti sekarang.

Sayangnya, di sisi lain kecepatan akses informasi yang didapatkan tidak cukup membuat masyarakat tertarik untuk melakukan literasi media. Justru dengan kemudahan ini, masih banyak masyarakat yang tidak memanfaatkannya dengan tepat. 

Pesatnya arus informasi membuat masyarakat merasa kebingungan dalam memilah dan memilih berita, sehingga informasi yang diterima begitu saja ditelan mentah-mentah tanpa menyelesaikannya terlebih dahulu.

Literasi media merupakan hal yang sangat positif, dengan melakukan hal tersebut kita semua didorong untuk menjadi pribadi yang lebih kritis terhadap informasi yang diterima dari media. Artinya, masyarakat harus mampu memilih, menganalisis, mengevaluasi, serta memanfaatkan informasi.

Menjadi pribadi yang kritis terhadap informasi merupakan modal penting untuk saat ini mengingat pesatnya arus informasi sudah tidak bisa lagi dibendung dengan tangan kosong. 

Setiap informasi yang kita terima tidak boleh dikonsumsi secara mentah dan perlu dieksplorasi secara mendalam karena media sifatnya banyak kepentingan di dalamnya.

Banyaknya informasi palsu atau hoaks yang tersebar juga merupakan salah satu pendorong kuat mengapa kita harus benar-benar melakukan literasi media. Kita semua menyadari bahwa berita palsu telah menimbulkan banyak kekacauan yang merugikan.

Lebih parah lagi, berita hoaks malah menjadi sebuah tren yang tidak ada habisnya. Hal ini tentu saja disebabkan oleh masyarakat yang tidak bisa mencerna dengan baik berita yang diterima.

Saat new normal bukan berarti sifat media berubah berita hoax menghilang, justru di era seperti ini kita harus benar-benar cerdas dalam menyikapi informasi yang diterima, entah itu yang bersumber dari portal berita online maupun media-media mainstream lainnya seperti Instagram, Youtube, dan sebagainya.

Berita-berita yang simpang siur mengenai pandemi Covid-19 saat ini banyak tersebar di berbagai platform, jika masyarakat tidak menyikapinya dengan bijak sudah pasti akan menjadi sebuah bumerang yang bisa saja berakibat fatal. 

Oleh karena itu, masyarakat harus memiliki kontrol atas apa yang telah disuntikan media. Di mana hal tersebut dapat kita peroleh melalui literasi.

Selain masyarakat, media juga harus ikut andil melakukan pemberitaan yang berimbang. Narasi yang disampaikan kepada publik haruslah berkualitas dan mampu menumbuhkan kesadaran serta optimisme di masa transisi sekarang. 

Hal yang harus menjadi pusat perhatian masyarakat bukan hanya pemberitaan betapa mengerikannya dampak pandemi, tetapi juga hal-hal positif yang bisa dilakukan saat masa pandemi.

Masyarakat harus memiliki opsi dengan apa yang diberitakan media, jika media hanya melakukan pemberitaan terhadap salah satu sisi dan tidak objektif, maka sudah dipastikan akan ada efek samping yang mengikuti di belakangnya. Ini tentu saja karena peran media sangatlah besar, perilaku masyarakat dapat ditentukan oleh apa yang disuntikan media.

Selain protokol kesehatan, literasi media juga mendukung kesuksesan berlangsungnya new normal. Di situasi ini, kesadaran masyarakat terhadap literasi media nyata dibutuhkan adanya. Masyarakat harus bisa mengeksplorasi informasi mengenai perkembangan Covid-19 yang didapat secara mendalam. 

Media telah menyajikan narasinya mengenai perkembangan kasus pandemi Corona kepada publik sejak diumumkannya kasus pertama, di sini masyarakat hanya perlu menjadi seseorang yang bijak dalam memilah dan memilih berita yang dikonsumsi.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel terkait

dewanpers