web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Rela Berubah demi Pasangan Bukan Tanda Cinta Sejati?

Jumat, 10 Juli 2020 06:29 WIB M. Naufal Hafizh

Ilustrasi. (Pixabay/Ben Kerckx)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Saat jatuh cinta, tidak sedikit orang mengubah diri seperti yang diminta sang kekasih. Namun, apakah hal tersebut tanda cinta sejati atau hanya takut ditinggalkan?

Membuat perubahan dari segi penampilan maupun sikap memang bukan hal terlarang. Namun, sebaiknya hal itu tidak dilakukan karena pasangan. Bagaimanapun, apa yang dia minta belum tentu yang terbaik untuk Anda, kan?

Meski begitu, mengapa banyak orang rela berubah demi pasangan mereka?

Dibandingkan dengan pria, Rebekah Montgomery, PhD, seorang psikolog hubungan di Washington DC, menyatakan, wanita cenderung lebih sering mengubah diri mereka sendiri demi pasangannya.

Menurut Rebekah, wanita biasanya merasa memiliki tanggung jawab lebih saat menjalani hubungan asmara. Hal itulah yang kemudian membuatnya merasa perlu beradaptasi dengan pasangannya atau lebih fleksibel.

Keinginan untuk menjadi pacar atau istri yang baik membuatnya berusaha mengubah dirinya agar diterima dan dicintai. Padahal, mungkin Anda sendiri kurang yakin dengan perubahan tersebut.

Menurut Eli Finkel, Ph.D., seorang profesor psikologi di Northwestern University, Chicago, setiap orang dalam hidup kita punya pengaruhnya tersendiri. Nah, pasangan merupakan salah satu orang yang berpengaruh sangat kuat. Pengaruh ini bisa berefek baik atau buruk.

Ketika memutuskan berubah, bisa jadi seseorang ingin mendekati sosok ideal yang diharapkan pasangannya. Harapannya, pasangan akan terus mencintainya dan tak berpaling pada orang lain.

Perasaan insecure semacam inilah yang kemudian membuat seseorang rela mengubah dirinya menjadi apapun seperti yang diinginkan pasangan.

Dilansir dari laman Doquesne University, kondisi ini dinamakan efek Pygmalion. Pygmalion adalah keadaan ketika seseorang berusaha bertindak sesuai keinginan orang lain dengan harapan orang lain tersebut melakukan hal serupa. Demikian dikutip dari Hellosehat.

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers