web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Ilmuwan Singapura Jadikan Bayangan sebagai Sumber Listrik

Rabu, 8 Juli 2020 13:32 WIB Administrator

[Ilustrasi] Alat penghasil listrik dari bayangan yang dikembangkan ilmuwan NUS. (Royal Society of Chemistry)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Dewasa ini, listrik menjadi hal penting dalam kehidupan. Manusia pun menciptakan berbagai macam pembangkit listrik dari tenaga air, angin, surya. Terbaru, tengah dikembangkan pembangkit listrik dari bayangan.

Sekelompok ilmuwan dari National University of Singapore (NUS) baru-baru ini mengembangkan sebuah alat bernama shadow effect energy generator (SEG). Alat ini memanfatkan perbedaan tegangan antara bagian yang terang dengan bagian gelap (bayangan) sebuah benda dan mengubahnya menjadi tenaga listrik.

“Penyinaran yang kontras menginduksi perbedaan tegangan/voltase antara bayangan dan bagian yang disinari sehingga menghasilkan tegangan listrik,” kata Asisten Profesor Tan Swee Ching yang merupakan ketua tim riset untuk teknologi ini, seperti dilansir dari laman resmi NUS.

Teknologi yang dikembangkan ini berukuran kecil, yaitu 6 sentimeter persegi dan mampu menghasilkan 0,25 volt. Sebanyak 20 panel yang dikumpulkan dapat menghasilkan energi 5 volt. Daya tersebut bisa menghidupkan satu bohlam atau mengisi daya sebuah ponsel.

Cara kerjanya mirip dengan panel surya. Hanya saja alat ini harus ditutupi bayangan agar bisa memproduksi listrik.

“Jika seluruh permukaan SEG tertutup oleh sinar atau bayangan, tenaga listrik yang dihasilkan akan rendah atau tidak ada sama sekali. Kami menemukan SEG akan menghasilkan listrik yang optimal saat sebagian permukaan terkena penyinaran dan sebagian lagi tertutup bayangan,” tutur Profesor Andrew Wee, ilmuwan lain dari Fisika NUS yang juga merupakan bagian dari tim peneliti.

Menurut Profesor Tan Swee Ching kepada Reuters, teknologi seperti ini akan praktis bila digunakan di kota padat penduduk. Teknologi panel surya yang membutuhkan tempat yang luas dan akses terhadap sinar matahari yang tidak boleh terhalang sulit digunakan di kota padat penduduk. Karena itu, alat ini dapat menjadi solusi.

Saat ini, tim peneliti yang beranggotakan 6 orang tersebut masih dalam tahap menyempurnakan SEG. Tim juga memasukkan pencarian perusahaan yang bisa memproduksi alat ini secara massal agar bisa digunakan secara luas dalam rencana masa depan mereka. (Putri Shaina Madani)

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers