web analytics
  

“Embung sangeuk Disuntik”: Penolakan Vaksinasi Sampar di Cibugel

Rabu, 8 Juli 2020 08:04 WIB Netizen ATEP KURNIA
Netizen, “Embung sangeuk Disuntik”:  Penolakan Vaksinasi Sampar di Cibugel, Wabah Sampar,Cibugel,sampar,Sumedang,Blatterman

Sketsa administratur perkebunan teh dan kopi Tjiboegel, O. Blatterman. (Sumber: De Locomotief, 4 Juni 1938.)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

AYOBANDUNG.COM--Pukul setengah lima sore, Kamis, 20 Mei 1937, hujan besar mengguyur Malangbong. Petugas vaksinasi sampar dari Bandung dr. M.U. Thierfelder, ditemani dokter kabupaten dr. Porwo Soewardjo saat itu tertahan dalam mobil.

Keduanya hendak menuju Desa Cibugel, Distrik Darmaraja, Kabupaten Sumedang, untuk menyelenggarakan kampanye vaksinasi.  Tetapi longsoran tanah di depan mobil menyebabkan perjalanan mereka terhenti sekitar 7 km dari tempat tujuan.

Di depan mobil, ada truk besar dari Onderneming Tjiboegel. Orang-orang dari perkebunan sedang membersihkan jalan yang dipenuhi tanah segar yang meluncur dari atas tebing. Polisi datang mengatur lalu lintas kendaraan.

Setelah dibersihkan, mobil yang ditumpangi dr. Thierfelder bisa melaju lagi. Perjalanannya dilanjutkan ke Perkebunan Cibugel. Kedua dokter disambut administratur perkebunan Tjiboegel O. Bletterman, asisten residen, bupati dan patih Sumedang; wedana dan camat Darmaraja; dan Komisaris Satu R. A. Jasper dari Kota Bandung.

Semua merasa gembira, setelah keributan yang terjadi pagi hari. Kehebohan itu melibatkan penduduk desa karena mendengar adanya rencana vaksinasi sampar pada 1 Juni 1934 dan penempatan mantri sampar di sana.

Saat pengumuman disiarkan, sekitar 600 orang berkumpul di sekitar balai desa. Saat itu, wedana Darmaraja menyatakan bahwa vaksinasi sangat penting untuk dilakukan seraya menggarisbawahi ketidakbertentangannya dengan agama Islam. Apalagi penyuntikan tersebut sebelumnya dilakukan di sepuluh desa di Darmaraja.

Namun, penduduk tetap resah dan gaduh. Kata-kata “embung” dan “emboeng sangeud di soentik” (embung sangeuk disuntik, tidak mau disuntik) terus bermunculan. Tiba-tiba, di antara mereka ada yang menyerang camat dan kepala Desa Cibugel.

Meski wedana sempat menembakkan pistolnya ke udara, tetapi penduduk tetap kacau. Para petugas pemerintah itu pun kemudian berlindung di dekat balai desa dan menghubungi kepolisian di Bandung. Penduduk tetap berteriak-teriak dan mengepung balai desa.

Seorang polisi desa menyelinap keluar melalui jendela. Dia buru-buru ke perkebunan Cibugel untuk meminta bantuan Bletterman, agar segara menghubungi residen Priangan dan mengirim bantuan polisi.

Atas permintaan residen, kepolisian Bandung mengirimkan 16 orang dari barak Kosambi. Dengan bersenjatakan karaben, kepala barak, tiga orang perwira Belanda dan 12 orang agen pribumi, berangkat ke Cibugel.

Asisten residen dan bupati Sumedang yang sedang rapat di Cirebon pun cepat kembali,  langsung ke Cibugel, dengan membawa serta satu detasemen polisi yang terdiri dari sepuluh orang. Kejadian itu menyebabkan kegemparan baik di Sumedang maupun Bandung.

Setiba di Cibugel, polisi dari Bandung mengamankan keadaan dan menangkap para perusuh. Seluruhnya ada 26 orang yang ditahan. Kamis malamnya, Komisaris Jasper melakukan penyelidikan awal, sementara patih Sumedang melakukan interogasi.

Hasilnya, 15 orang dilepaskan lagi, dan sebelas orang tetap ditahan. Kesimpulan sementara, diduga ada dua kelompok yang terlibat kerusuhan, yakni kelompok intelektual dan eksekusi. Selama pemeriksaan tersebut, asisten residen dan bupati Sumedang hadir di sana.

Dengan tertanganinya kerusuhan itu, malam 20 Mei 1937 itu dinyatakan keamanan Desa Cibugel sudah terkendali. Sementara buntut kerusuhannya terus dikembangkan. Ini terbukti dengan ditangkapnya 12 orang lagi, termasuk jurutulis Desa Cibugel yang pertama kali memukul camat Darmaraja dan menjadi buronan. Ada pula kepala kampung Cibugel dan kepala kampung Antara, yang menolak vaksinasi dan mengumpulkan tanda setuju orang-orang untuk menolak.

Jum’at, 21 Mei 1937, sekitar pukul 6 petang, 14 orang tahanan dari Cibugel dibawa dengan bus dan dikawal oleh agen kepala (hoofdagent) Blogg, ke Sumedang.

Dari hasil pemeriksaan jaksa R. Tanoedikoesoemah, diketahui bahwa kepala kampung Sarangtengah, Bapa Soemin, merupakan penghasut utama. Semuanya direncanakan dengan matang. Ratusan orang penduduk desa dipengaruhi untuk menolak vaksinasi dan disediakan daftar yang harus dibubuhi oleh jempol. Sekali kata “suntik” diucapkan pegawai pemerintah, harus dijawab dengan kata “embung” (tidak mau).

Enam orang mengaku menyerang camat Darmaraja dan menganiaya opas Manta. Setelah mendengar pengakuan ini, para pelaku kerusuhan diancam hukuman karena melanggar artikel 106 dari het Wetfocek van Strafrecht. Di sisi lain, atas bantuan dari Bletterman, tamu dari Dinas Kesehatan dr. M.U. Thierfelder dan dr. Porwo Soewardjo pulang lagi ke Bandung dan tiba di sana pada dini hari.

Interogasi lain dilakukan oleh Patih Sumedang R. Kartahadimadja, di rumahnya. Dengan informasinya yang mirip disebutkan bahwa yang ditahan adalah mantan jurutulis Desa Cibugel Sumadiredja. Saudara lurah Cibugel ini sudah sebelas tahun bekerja sebagai jurutulis. Ada Parta, petani kaya, yang baru terpilih sebagai anggota dewan desa.

Mantan kepala desa Cibugel Bapa Roeni menjadi propagandis penolakan vaksinasi dan kepala Kampung Antara Noerhasim yang membuat daftar penduduk yang menolak. Pemimpin kerusuhannya sendiri Bapa Soemin, yang menyatakan kejadian tersebut merupakan hasil dari “koempoelan”.

Para pejabat yang memerintahkan vaksinasi itu mereka anggap sebagai “djoerik onom” (sic) dan “djoerik lonsroest” (sic). Sementara Joeda, kepala Desa Cibugel, yang melindungi wedana harus dirawat oleh dokter kabupaten dr. Djoenaedi, di Sumedang.

Seminggu kemudian, Kamis, 27 Mei 1937, di tengah hujan rintik-rintik, asisten residen dan bupati Sumedang tiba lagi di Cibugel pada pukul sepuluh pagi. Di sekitar balai desa, ada tiga ratusan orang yang sudah hadir.

Mereka dengan tenang menunggu penjelasan ihwal vaksinasi sampar yang akan dilaksanakan pada 1 Juni 1937. Selama dua jam lebih, penduduk mendengarkan uraian tentang sampar dan pencegahannya. Sesekali bila ditanya, mereka serempak menjawab “semoehoen dawoeh, dampal Goesti” (baiklah, tuanku).

Pertengahan Juni 1937, para pelaku kerusuhan dilimpahkan dari asisten resieden ke pengadilan (landraad) Bandung. Semua pelakunya mengerucut menjadi sembilan orang, dengan tiga pelaku utama yakni Bapa Soemin, Bapa Roeni, dan Soemadiredja.

Enam orang lainnya Parta, Marhadi, Saltim alias Bapa Sastra, Ehod alias Mir'ad alias Bapa Sandria, Irta, dan Aslam alias Bapa Oesni. Sedangkan sembilan orang lainnya sudah dibebaskan di Sumedang, karena keterlibatannya dianggap kecil dan tak cukup bukti.

Meski dilimpahkan ke Bandung, pengadilannya sendiri dilakukan di Sumedang. Pada 18 Juni 1937 diberitakan bahwa pengadilan untuk kasus Bapa Soemin dan kawan-kawan itu akan dilaksanakan pada 13 Juli 1937 di pendopo Kewadanaan Darmaraja.

Adapun orang yang akan menanganinya terdiri dari mr. R. Soetikno (ketua), R. Mas Soedibjo (griffier), dan sebagai anggota R. Tisnadikarta (pensiunan camat Wado), M. Wiriadiradja (pensiunan jurutulis pengadilan di Bandung), R.H. Moeh. Hamim (penghulu kepala Sumedang, sebagai penasihat agama), R. Tanoedikoesoemah (jaksa, wakil dari Openbaar Ministrie).

Buntut kasus di Cibugel tambah panjang. Pada 5 Juli 1937, ada berita yang mengumumkan wedana Curug yang berada di lingkungan kabupaten Batavia, Mas Soewandi, dipecat. Sebelumnya, ia adalah wedana Darmaraja. Dengan keputusan gubernur Jawa Barat itu, dia dianggap bertindak tidak pantas pada kejadian di Cibugel.

Ihwal pemecatan tersebut dibawa ke Volksraad. Wakil pemerintah untuk urusan polisi, mr. Marcella, pada 19 Agustus 1937, menyatakan alasan di balik pemecatan tersebut ke hadapan anggota dewan perwakilan rakyat ala pemerintah kolonial itu. Ia menegaskan ketidakcakapan atau kegagalan Soewandi untuk menjaga ketertiban saat kampanye vaksinasi sampar.

Pada 10 September 1937, Jum’at pagi, pengadilan atas para pelaku dilanjutkan. Parta, Marhadi, Saltim, Ehod, Irta dan Bapa Oesni diminta lagi menyatakan pengakuan. Saksi-saksi seperti Djaedji, Djasir, Djoemas alias Bapa Sari, Eon dan Dira, dihadirkan.

Demikian pula dengan kepala kampung dari Desa Cijaha, Madrais. Selanjutnya, Parta dan kawan-kawan menjadi saksi atas perbuatan yang dilakukan Bapa Soemin, Bapa Roeni dan Soemadiredja. Dan ternyata Parta masih berkerabat dekat dengan Bapa Soemin dan Bapa Roeni. Keduanya adalah paman Parta, sehingga salah satu media menyebut kasus itu sebagai “De Actie was één Familie-Complot” (tindakan komplotan sebuah keluarga).

Akhirnya, Oktober 1937, para pelaku kerusuhan divonis. Pengadilan Sumedang memutuskan para pelaku bersalah dan dijatuhi hukuman kurungan selama masing-masing 3, 2, dan 1,5 tahun. Selang setahun kemudian, pada 5 Juni 1938, O. Blatterman yang mengelola Onderneming Tjiboegel merayakan 50 tahun atau tahun emas kiprahnya di dunia perkebunan (Gouden plantersjubileum O. Bletterman 50 jaar planter).

Lahir pada 20 November 1871 di pabrik gula Cigobang, Cirebon, Blatterman mulai terjun ke dunia perkebunan sejak 1888 di Onderneming Djatinangor dan sejak 1919 mulai mengelola perkebunan teh dan kopi di Cibugel: tempat dia membantu menangani kerusuhan sekaligus jadi tuan rumah bagi  dr. M.U. Thierfelder dan dr. Porwo Soewardjo.

Kisah penolakan vaksinasi sampar di Cibugel yang ternyata berbuntut panjang di atas saya kumpulkan dan sarikan dari pelbagai liputan koran berbahasa Belanda sejak edisi 21 Mei 1937. Di antaranya dari De Indische courant, De Sumatra Post, Bataviaasch Nieuwsblad, Soerabaijasch Handelsblad, Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie, De Locomotief dan Het Nieuws van den voor Nederlandsch-Indie.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana
dewanpers