web analytics
  

3 Bulan Tak Beli Baju untuk Kurangi Sampah Pakaian

Senin, 6 Juli 2020 06:39 WIB
Umum - Unik, 3 Bulan Tak Beli Baju untuk Kurangi Sampah Pakaian, Zero Waste,pakaian,sampah,Hidup Minimalis

Ilustrasi (Pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Komunitas Zero Waste Indonesia (ZWID) mengajak masyarakat berkomitmen tidak membeli pakaian baru selama 3 bulan. Hal tersebut sebagai implementasi slow fashion untuk mengurangi sampah fesyen dan limbah tekstil.

Gerakan bernama Mulai dari Lemari ini akan berlangsung mulai 15 Juli hingga 15 Oktober 2020. Orang yang ikut berpartisipasi diajak untuk mencari alternatif baju baru seperti meminjam, menyewa, bertukar, menjahit sendiri, atau membeli baju bekas.

Membeli baju baru sah-sah saja bila memang butuh dan bukan sekadar tergiur tren. Terlebih bila membeli dari label fesyen berkelanjutan atau label lokal untuk mendukung wirausaha yang terdampak pandemi Covid-19.

Seiring berkembangnya zaman, industri fesyen bergulir begitu cepat. Berbagai label gencar mengeluarkan koleksi barunya demi mengikuti tren.

Fesyen cepat (fast fashion) menjadi sesuatu yang banyak diminati berimbas pada perilaku konsumerisme. "Orang-orang membeli pakaian baru demi mengikuti tren semata dengan jumlah lebih dari yang mereka butuhkan," kata pendiri Komunitas Zero Waste Indonesia, Maurilla Sophianti Imron, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (5/7/2020).

Dia mengatakan, industri tekstil merupakan salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia. "Jika terus menerus seperti ini bukankah tidak baik juga untuk diri sendiri dan lingkungan," kata dia.

Dilansir di Global Fashion Agenda, limbah tekstil diperkirakan bertambah sebanyak 60% antara 2015 sampai 2030. Untuk itu, gerakan ini diharapkan bisa diikuti setidaknya 5.000 orang yang mendaftarkan komitmennya hingga 14 Juli bisa berkontribusi memperpanjang umur pakaian hingga 9 bulan dan dapat mengurangi emisi karbon global hingga 30%.

Orang-orang diajak untuk menjadi konsumen yang lebih bijak dan memaksimalkan pakaian yang ada. Membeli baju baru pun tak masalah, selama didorong oleh kebutuhan, bukan cuma keinginan atau sekadar ikut-ikutan tren.

Head of Public Relations and Marketing yang juga Project Manager #TukarBaju, Amanda Zahra Marsono, mengatakan kampanye ini fokus kepada pembentukan kesadaran mengenai implementasi slow fashion dalam konsep fesyen berkelanjutan.

Orang-orang yang telah mendaftarkan komitmennya punya kontrol penuh mengenai konsumsi pakaian sesuai kenyamanan berproses dan kebutuhan masing-masing. Diharapkan gerakan ini bisa memberikan kesadaran bahwa berkontribusi untuk lingkungan juga bisa dimulai dari lemari pakaian sendiri.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers