web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Wiranatakusumah V, Presiden Pertama dan Terakhir Negara Pasundan

Sabtu, 4 Juli 2020 15:21 WIB Nur Khansa Ranawati

Wiranatakusumah V (Wikimedia Commons)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Meskipun tidak banyak disinggung dalam buku sejarah, sosok Raden Aria Adipati Wiranatakusumah V (1888-1965) merupakan salah satu tokoh yang berpengaruh dalam pembentukan NKRI pascakolonial.

Ia merupakan seorang priyayi dari tanah Priangan yang dikenal dekat dan memihak ide-ide para tokoh pergerakan nasional.

Ia juga sekaligus merupakan wali negara atau presiden pertama salah satu 'negara boneka' bentukan Belanda, Negara Pasundan, berdasarkan hasil pemilihan suara. Namun, ia dan sejumlah menteri negara tersebut dikenal hanya memanfaatkan posisi yang diberikan untuk menjaga wilayah Pasundan dari intervensi lebih jauh pihak Belanda.

Negara Pasundan pada awalnya terbentuk atas inisiasi mantan Bupati Garut periode 1929-1944, Soeria Kartalegawa. Ia yang juga merupakan pendiri Partai Rakyat Pasundan (PRP) memproklamasikan negara tersebut di Alun-alun Bandung pada 1947 dan berusaha meraih simpati warga dengan menggelar aksi orasi di kebun binatang di bilangan Cikini, Jakarta.

Namun, warga tidak menyambut baik hal tersebut. Pasalnya, mayoritas warga terutama warga Pasundan menolak berdirinya Negara Pasundan. Letan Gubernur Jenderal Van Mook yang hadir dalam momen proklamasi Negara Psasundan pun menyadari bahwa Kartalegawa dan tokoh-tokoh PRP bukanlah sosok yang berpengaruh di Pasundan.

Dari sanalah ia kemudian menggelar konferensi beberapa kali dengan mengundang tokoh masyarakat Pasundan. Pada konferensi yang terakhir, Wiranatakusumah V akhirnya terpilih sebagai Wali Negara Pasundan pada 1948. Salah satunya karena Wiranatakusumah V dianggap sebagai tokoh Sunda yang cerdas dan disegani, meskipun pihak Belanda kurang menyukainya.

Negara Pasundan dan sejumlah negara bagian lainnya merupakan bagian dari negara federal Republik Indonesia Serikat (RIS), negara bentukan Belanda yang belum rela wilayah jajahannya lepas setelah revolusi meletus. Jabatan Wiranatakusumah V yang notabene merupakan sosok pro republik Indonesia sebagai Wali Negara Pasundan pun didukung oleh Soekarno.

Sebelum menjabat sebagai Wali Negara Pasundan, Wiranatakusumah V juga pernah menjabat sebagai Bupati Bandung sebelum kemudian diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri pertama Indonesia oleh Soekarno. Posisinya sebagai kepala salah satu 'negara boneka' buatan Belanda tak lantas membuatnya pro federal.

Sejarawan UPI Agus Mulyana mengatakan, Wiranatakusumah V adalah seorang 'priyayi nasionalis'. Meskipun menyecap pendidikan ala Eropa dan menjabat sebagai pegawai negara Hindia Belanda di sebagian besar masa karirnya, kecenderungan politiknya selalu dekat dengan kaum pergerakan nasional.

"Menak atau priyayi itu ada yang nasionalis dan ada yang birokratis. Menak nasionalis adalah yang menolak jadi pegawai negeri, contohnya Soekarno, Cipto Mangunkusumo, dan lain-lain. Pendidikan ala Eropa digunakan untuk memberontak dan mendirikan organisasi kebangsaan," ungkap Agus dalam disuksi daring Menggali Tokoh Sang Dalem Haji Wiranatakusumah V belum lama ini.

Sementara menak birokratis adalah mereka yang biasanya menjabat sebagai pegawai negeri seperti bupati selepas lulus dari sekolah. Wirantakusumah V disebut sebagai menak yang memilih jalur birokratis tapi tetap nasionalis.

"Wiranatakusumah V punya pandangan nasionalis tapi masuk jalur birokratis. Ia tidak memihak Belanda, ia pro pada republik," ungkapnya.

Oleh karenanya, pada saat Belanda menegur dan mengecam akan membubarkan negara Pasundan akibat progam yang digagas Djumhana, salah satu petinggi Negara Pasundan yang juga pro republik, Wiranatakusumah V mengancam akan mundur dari jabatannya. Posisi negara Pasundan pun perlahan goyah.

Negara Pasundan kemudian menjadi semakin lemah setelah munculnya peristiwa Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pimpinan mantan KNIL Raymond Westerling pada 1950. Setelah itu, serah terima kekuasaan Negara Pasundan pada Komisaris Republik Indonesia pun dilkasanakan pada Maret 1950, sehingga negara tersebut resmi bubar dan kembali bergabung dengan Republik Indonesia.

Penulis sejarah dan biografi, Iip Yahya mengatakan, Wiranatakusumah V merupakan salah satu sosok sentral dalam pembentukan NKRI. Penyerahan kekuasaan Negara Pasundan disebut mengawali momentum runtuhnya negara-negara boneka lainnya.

"NKRI mungkin tidak akan ada kalau tidak ada Negara Pasundan yang menggabungkan diri. Dengan dia menggabungkan Pasundan ke republik (Indonesia), semua jadi lemah dan ngikut. Ini yang jarang dilihat, bahwa dia yang pertama menggabungkan kembali Negara Pasundan ke Indonesia," ungkap Iip dalam kesempatan yang sama.

Iip bahkan menilai Wiranatakusumah V layak dijadikan sosok pahlawan nasional atas upayanya menjaga persatuan Republik Indonesia.

"Tapi itu butuh proses. Yang jelas mari kita bahas terus sosok Wiranatakusumah V sehingga jadi pengetahuan yang dipahami masyarakat luas," ungkapnya. 

Editor: Andres Fatubun

artikel lainnya

dewanpers