web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Pentingnya Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Seks Diterapkan di Indonesia

Sabtu, 4 Juli 2020 06:14 WIB Netizen Andita Savira Azwar

[Ilustrasi] pentingnya edukasi tentang kesehatan reproduksi dan seksual. (Shutterstock/SpeedKingz)

Andita Savira Azwar

Mahasiswa Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran.

AYOBANDUNG.COM -- Melirik perjanjian International Conference in Population and Development (ICPD) 25 tahun silam, Indonesia termasuk negara yang menyepakati perubahan paradigma dalam mengelola permasalahan kependudukan dan pembangunan. Semula fokusnya pada pengendalian populasi dan penurunan fertilitas. Kemudian mengutamakan pelayanan kesehatan untuk pemenuhan hak-hak reproduksi individu, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Namun, apakah target kesepakatan itu sudah terwujud di Indonesia?

Pemerintah memang sudah mencanangkan beberapa program untuk mengendalikan populasi salah satunya dari program keluarga berencana. Selain itu, juga terdapat program Pelayanan Kesehatan Reproduksi Terpadu (PKRT), oleh kementrian kesehatan. Bahkan program tersebut telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 97 Tahun 2014 mengenai pelayanan kesehatan dalam lingkup kesehatan reproduksi yang meliputi kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, kesehatan reproduksi remaja, pencegahan dan penanggulangan infeksi menular (HIV AIDS), serta pelayanan kesehatan reproduksi lainnya.

Namun dari sekian program yang dicanangkan pemerintah, permasalahan kesehatan reproduksi dan seksualitas masih menjadi masalah di Indonesia. Menurut laporan Departemen Kesehatan, kasus penyakit menular HIV dari tahun 2005 hingga 2019 mengalami peningkatan setiap tahunnya. Di pertengahan tahun 2019, kasus HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2019 sebanyak 349.882 (60,7%) dari estimasi odha tahun 2016 sebanyak 640.443.

Belum lagi kasus hamil pranikah, juga angka kematian ibu dan bayi. Menurut data demografis dan kesehatan, di antara wanita dan pria, 12 persen kehamilan tidak diinginkan dilaporkan oleh wanita dan 7 persen dilaporkan oleh pria yang mempunyai pasangan dengan kehamilan tidak diinginkan. Data menunjukkan, kehamilan yang tidak diinginkan ini dialami oleh pasangan yang melakukan hubungan seks pranikah.

Kehamilan yang tidak diinginkan, tentu saja memiliki dampak serius jika tidak ditangani dengan seharusnya. Dampaknya akan mempengaruhi kesehatan ibu dan juga janin, seperti kesehatan mental, hingga tidakan aborsi yang mengakibatkan hilangnya nyawa janin maupun sang ibu.

Meski program-program untuk mencegah permasalahan kesehatan reproduksi sudah dicanangkan pemerintah, namun dirasa masih belum terlaksana dengan maksimal. Salah satunya dikarenakan sosialasi dan akses informasi belum dilakukan secara menyeluruh dan merata. Akses informasi kesehatan reproduksi belum menjangkau semua lapisan masyarakat. Sehingga masih banyak masyarakat yang awam mengenai kesehatan reproduksi.

Biasanya, sosialisasi dan edukasi kesehatan reproduksi dan seksual dilakukan di sekolah, perkumpulan masyarakat suatu desa atau perumahan, atau informasi melalui internet. Informasi mengenai kesehatan reproduksi sudah sering dibahas dan disorot media, juga informasi mengenai ini sudah banyak ditemukan di internet. Namun hal ini belum tentu dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Sehingga masyarakat Indonesia yang berada di pinggiran, tidak sekolah, dan tidak memiliki akses internet masih belum mendapatkan Informasi mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas.

Faktor lain yang menyebabkan sulitnya pemahaman pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas yaitu karena edukasi tentang seks masih dianggap tabu di masyarakat, bahkan dalam keluarga. Padahal keluarga dan lingkungan sekitar merupakan wadah informasi yang paling dekat oleh anak. Hal ini yang menyebabkan anak kurang mendapat edukasi atau mendapatkan informasi dari luar yang belum terjamin kebenarannya.

Dengan begitu, rasanya sosialisasi pentingnya edukasi kesehatan reproduksi dan seksualitas juga perlu diberikan kepada orang tua. Agar orang tua dapat memahami penting untuk memberikan edukasi kepada anak, juga sebagai pencegahan tindakan seks yang dilakukan karena ketidaktahuan anak atas dampak didalamnya.

Selain orang tua, sekolah juga menjadi tempat pembelajaran anak untuk mengakses informasi kesehatan reproduksi dan seksualitas. Para pengajar pada bidang ini tentu perlu ikut serta didalamnya, dan menjadi informan bagi muridnya.

Untuk hasil yang lebih maksimal, program-program pemerintah perlu dimaksimalkan dan ditingkatkan untuk dapat mencapai tujuan. Mulai dari pemerataan akses informasi mengenai kesehatan reproduksi dan seks, hingga aksi nyata untuk penanggulangan permasalahan tersebut. Pemerataan ini mencakup semua lapisan masyarakat mulai dari lapisan ekonomi bawah hingga tingkat atas. Sehingga tidak ada masyarakat yang terabaikan dan menciptakan gap informasi mengenai edukasi seks.

Hal tersebut perlu dilakukan, karena jika informasi dan edukasi mengenai kesehatan reproduksi belum dilakukan secara menyeluruh, permasalahan kesehatan reprodusi dan seksualitas akan terus terjadi. Masih akan ada remaja yang melakukan seks pranikah tanpa mengetahui dampak negatifnya. Serta masih akan ada kehamilan pranikah yang bisa berdampak pada kesehatan fisik dan mental sang ibu. Belum lagi penyakit menular yang salah satu penyebabnya yaitu minim informasi kesehatan seksual.

Permasalahan kesehatan ini, juga memberikan dampak bagi Indonesia dari segi human capital. Hal tersebut menunjukkan belum terselesainya permasalahan penduduk dan pembangunan, sesuai kesepakatan ICPD. Bahkan dapat menyebabkan Indonesia gagal mencapai target Pembangunan Berkelanjutan. Sebab permasalahan kesehatan merupakan masalah penduduk yang menyangkut Sumber Daya Manusia sebagai modal dalam menunjang pembangunan ekonomi.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers