web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Berhenti Merugikan Orang Lain karena Hal yang Dianggap Kecil

Sabtu, 4 Juli 2020 06:00 WIB Netizen Deandra Salsabila

Ilustrasi (Pixabay)

Deandra Salsabila

Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran angkatan 2019

AYOBANDUNG.COM -- Perbedaan skala prioritas pada setiap orang dinilai dapat memengaruhi usaha yang dilakukan orang tersebut dalam melakukan suatu hal. Seseorang pasti akan melakukan usaha yang lebih maksimal di saat ia melakukan hal yang dianggapnya penting.

Namun, adanya skala prioritas ini terkadang membuat seseorang melakukan usaha yang tidak maksimal pada sesuatu yang dianggap kurang penting atau biasa saja. Padahal, saat seseorang menganggap sesuatu merupakan hal yang biasa saja, bisa jadi sesuatu tersebut merupakan hal yang luar biasa untuk orang lain.

Adanya perbedaan skala prioritas ini mudah ditemukan dalam lingkungan sehari-hari. Contoh yang bisa dilihat dalam bidang pendidikan adalah ketika mengerjakan tugas kelompok. Tidak asing ketika mendengar cerita tentang seseorang yang tidak ikut berkontribusi dalam tugas kelompok.

Puluhan alasan dilontarkan oleh sang pelaku yang tidak ikut berkontribusi tersebut. Tidak tahu harus bantu apa, ada kegiatan lain yang harus dilakukan, merupakan contoh alasan yang cukup sering diucapkan.

Semua itu tentu kembali lagi kepada skala prioritas setiap orang. Namun, perilaku yang terlalu menjunjung skala prioritas dan mengesampingkan hal yang dianggap tidak penting ternyata dapat merugikan orang lain.

Kata mereka yang dirugikan

“Aku sendiri kalau ketemu orang yang punya anggapan kalau kerja kelompok itu hal yang kecil sih kesal banget ya dan jadi gedek sendiri,” ujar Chandra, seorang mahasiswa asal Bandung.

Ia menjelaskan jika kondisi kuliah online di masa pandemi ini juga membuat dirinya cukup sulit untuk koordinasi dengan temannya jika ada tugas kelompok. Maka dari itu, adanya mahasiwa yang tidak kontribusi pada tugas kelompok membuatnya merasa rugi.

“Apalagi kuliah online gini jadi koordinasi juga lewat chat gitu, masih suka ada teman yang enggak ikut diskusi dan cuman baca grup aja, ditanya juga enggak jawab. Jadinya ngerasa nambah beban aja,” jelas Chandra.

Chandra menambahkan, sebagai mahasiwa, kita harus sadar diri dan ikut tanggung jawab dengan apa yang memang sudah menjadi kewajiban kita. Apalagi dalam hal kerja kelompok karena nilai yang nantinya akan diberi merupakan hasil dari kerja sama kelompok.

Riska, seorang mahasiwa asal Bandung juga merasakan hal yang sama. Adanya mahasiwa yang tidak ikut berkontribusi dalam pengerjaan tugas kelompok membuatnya merasa sebal.

“Kalau lihat orang yang gitu tandanya dia gabisa manajemen waktu sih. Judulnya juga sudah tugas kelompok, ya berarti harus kerja bersama dan ikut kontribusi,” ujar Riska.

Ia berpendapat, jika seseorang memang tidak bisa ikut berkontrbusi karena ada hal lain, seperti urusan kepanitiaan atau sakit, sebaiknya langsung berkomunikasi dengan anggota kelompok yang lain. Hal tersebut dilakukan agar anggota kelompok yang lain bisa ikut mencari solusi dan meminimalisir terjadi kesalahpahaman.

“Setidaknya kalau memang enggak minat atau ada urusan lain sih komunikasi, intinya saling menghargai aja jangan tiba-tiba menghilang atau susah dihubungi,” jelasnya.

Tanggapan dari yang merugikan

“Jujur ga ada niat untuk merugikan orang lain sih. Kalau enggak bantu di tugas kelompok gitu sebenarnya gara-gara bingung mau bantu apa dan kadang masih ada keperluan lain juga,” ujar seorang mahasiswa yang enggan disebut namanya.

Ia mengatakan jika adanya skala prioritas juga memang memengaruhi kinerjanya di sebuah kerja kelompok. Tugas yang diberikan oleh dosen juga ikut menentukan, jika tugas tersebut tidak sesuai minatnya, maka kontribusinya dalam pengerjaan tugas itu akan semakin sedikit.

“Kalau kurang minat di suatu mata kuliah juga berpengaruh, kadang itu yang buat aku menganggap remeh tugas kelompok. Aku pastinya bakal lakuin sesuatu lain yang memang lebih disukai,” jelasnya.

Menurutnya, skala prioritas ditentukan oleh minatnya dalam suatu hal. Semakin hal tersebut diminati, maka semakin penting hal tersebut untuk dilakukan. Meskipun demikian, ia mengaku bahwa dirinya sudah menyadari jika pemikiran tersebut dapat merugikan orang lain dan ia pun akan belajar untuk tetap bertanggung jawab kepada hal yang memang merupakan kewajibannya.

Perlunya keseimbangan

Melakukan suatu hal yang lebih disukai atau dianggap lebih penting memang tidak dilarang. Namun, sebagai makhluk sosial yang berhubungan secara timbal-balik dengan manusia lain, kita juga perlu memikirkan kepentingan orang lain.

Hal itu diperlukan agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Seperti contoh yang sebelumnya telah dibahas, yaitu kerja kelompok. Masih terdapat anggota kelompok yang tidak berkontribusi dalam tugas tersebut, sehingga membuat rugi anggota lainnya.

Melalui berbagai alasan seperti ada tugas lain di kepanitiaan atau organisasi, tentunya bukan alasan yang kuat untuk meninggalkan kewajiban di tugas akademis. Maka dari itu, keseimbangan dalam semua kewajiban sangat diperlukan, baik dari skala prioritas tertinggi maupun yang terendah.

Satu hal yang harus diingat, bukan hanya kamu saja yang sibuk, semua orang juga punya kesibukannya masing-masing. Oleh karena itu, mari saling menghargai, saling berjuang, dan berlatih untuk tidak lari dari tanggung jawab.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers