web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Era Oplet Lembang Tahun 1970-an

Jumat, 3 Juli 2020 09:14 WIB Netizen T Bachtiar

Apapun merek mobilnya, setelah dimodifikasi namanya jadi oplet. (Dok T Bachtiar)

T Bachtiar

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

AYOBANDUNG.COM--April 1965, pertama kali saya nyaba, berkunjung ke Kota Bandung. Walau hanya beberapa hari saja di Bandung, saya sangat terkesan dengan kota ini, karena banyak kendaraan yang lalu-lalang di jalan, yang tidak ada di desa kami, di Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Saat itu. Ada dua kendaraan umum yang setiap hari selama di Bandung saya naiki, sehingga sangat berkesan dan terpatri dalam ingatan. Pertama bemo, dan kedua oplet.

Oplet masih tetap melayani trayek Lembang – Ledeng – Pasar Andir-Ciroyom-Stasiun kereta api. Oplet Lembang itu sangat khas dari tampilan fisiknya. Di antara sesama jenis oplet di Bandung, oplet Lembanglah yang ukurannya paling tinggi, besar, dan panjang.

Sangat mungkin ada kerangka truk yang dimodifikasi menjadi oplet. Karena besarnya itulah, muatannya pun paling banyak. Bisa memuat sampai 18-20 orang.

Di jok paling depan, bisa muat empat orang penumpang, lima dengan sopir. Satu orang, duduknya mepet ke tempat duduk sopir, melewati tongkat persneling yang berada di tengah.

Satu penumpang lagi dengan paha yang harus dibuka lebar-lebar, karena di tengahnya ada tongkat persneling, tongkat besi hitam yang panjang.

Sopirnya, duduknya sudah mepet sekali ke arah pintu yang tak berpenutup jendela, sehingga tangan kanannya berada di luar pintu. Posisi badannya miring, apalagi kalau kaki kirinya harus mengatur gas atau rem.

Persis di belakang jok depan, ada satu jok panjang yang menghadap ke depan, penumpangnya, bila sedang penuh bisa sampai lima orang. Semua merelakan berhimpitan, yang penting terbawa. Di belakang jok baris kedua itu sampai ke pintu belakang, bangkunya dibuat dari papan yang panjang, menyamping.

 Penumpangnya duduk saling berhadapan, dengan jarak antar kaki yang cukup longgar, satu meteran lebarnya. Biasa ruang kosong itu menjadi tempat untuk menyimpan carangka, keranjang dari bambu berukuran besar. Diameter bagian atasnya 75 cm, penuh berisi kol, buncis, jagung, atau sayur lainnya dari Lembang.

Saat itu belum ada angkutan khusus untuk sayur. Kalau kebagian duduk di belakang dan bagian tengahnya penuh dengan carangka sayur, penumpang harus mengalah, kakinya benar-benar harus dilipat rapat-rapat.

Pegal, tapi dari pada tidak terbawa atau harus menunggu lama. Angkutan saat itu masih jarang, dengan jarak keberangkatan antara satu oplet dengan oplet yang lainnya cukup lama.

Inilah jalur yang selalu ramai, nyaris 24 jam, yaitu lintasan oplet mulai dari Lembang ke Ledeng, dan berakhir di Pasar Andir, Pasar Ciroyom, stasiun kereta api.

Oplet mulai ramai pukul 02.00 atau 03.00, dengan penumpang utama mereka adalah para penjual sayur dari Lembang dan mereka yang akan belanja sayur untuk dijual kembali di pasar-pasar yang lebih kecil, di warung, dan rumah makan, agar pagi-pagi dagangannya sudah tergelar dengan segar.

Dalam dunia oplet, tak perlu rikuh soal merek kendaraan. Karena, apapun merek mobilnya, begitu dibangun, dimodifikasi menjadi kendaraan umum, namanya akan berubah menjadi oplet. Merek kendaraan otomatis menjadi tidak penting lagi.

Merek kendaraan yang banyak dijadikan oplet Lembang yaitu: Fiat, Dodge, Chevrolet, Ford, Morris minor, dan GMC. Karoseri bagian belakang mobil dirombak total oleh pembuat karesori dari masyarakat setempat, umumnya menggunakan kayu yang kuat, dengan penutup luar dari kaleng, lalu dicat warna biru terang, dengan polet warna kuning di bagian bawah.

Bumpernya dari baja yang tebal, kokoh, seperti pembatas di tikungan atau jalan yang berbahaya saat ini. Cara menghidupkan mesinnya di-salenger. Batang besi bulat, panjangnya satu meter, dengan bagian ujung dibengkokan seperti dua huruf L yang menjadi pegangannya.

Salenger diputar beberapa kali dengan kedua belah tangan karena berat. Bunyinya berisik, karena besi beradu atau menggoyangkan besi bagian lainnya.

Di bawah jok bagian belakang, yang dekat dengan kenek (kernet) berdiri sambil berpegangan ke kusen tak berpintu, ada ganjal yang dibuat dari kayu yang kuat, ukurannya 30 x 15 x 15 cm dengan pegangan berbentuk silinder panjang.

Ganjal sangat penting, karena medan ke Lembang terus menanjak mulai dari keberangkatan di pasar atau di stasiun atau sebaliknya. Di bawah jok belakang itu ada juga ember untuk mengambil air bila mesinnya panas.

Kenek akan berlari ke parit yang saat itu airnya masih jernih, airnya biasa dipakai untuk mencuci sayuran sebelum dibawa ke pasar, dan mencuci pisang lumut yang baru turun dari Cihideung.

Bila tidak hujan, jendela oplet dibiarkan terbuka, siang ataupun malam. Angin masuk leluasa dengan kencangnya. Baru ditutup bila hujan mengguyur, daun jendela yang tersembunyi di balik dinding dalam karesori mobil, di bawah lubang jendela, barulah ditarik ke atas oleh penumpangnya.

Daun jendelanya bukan dibuat dari kaca, yang bila ditutup akan tetap terang, tapi dari papan kayu tipis ukuran 40 x 40 cm. Cara menutupnya, daun jendela diangkat, ditarik ke atas, dilepaskan, daun jendela itu tidak lepas lagi ke bawah seperti semula, karena di kusen jendela ada bagian yang dapat menahan.

Tahun 1982 merupakan akhir dari kejayaan oplet Lembang. Petugas gabungan terus mengadakan razia peremajaan oplet Lembang, yang masih perkasa di tanjakan

. Nasibnya harus dirumahkan, diganti dengan mobil baru buatan Jepang. Pemilik oplet akhirnya menandatangani surat perjanjian cicilan di diler yang sudah menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel lainnya

dewanpers