web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Sejarah Menak Terkemuka di Tanah Pasundan (Bag.1)

Rabu, 1 Juli 2020 13:14 WIB Rizma Riyandi

Ilustrasi Para Bupati (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV))

LENGKONG, AYOBANDNG.COM -- Eksistensi para menak atau bangsawan di tatar pasundan sudah tidak begitu diperhatikan di masa milenial sekarang. Pasalnya nilai-nilai egaliter dan kesamarataan tidak lagi membuat masyarakat priangan menjunjung tinggi keberadaan para menak.

Meski begitu, tak ada salahnya jika kita mengetahui sejarah para menak dan bagaimana silsilah mereka sampai ditempatkan dalam tatanan tinggi di struktur kemasyarakatan. Berikut penjelasan mengenai silsilah para menak yang diambil dari buku 'Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942' karya Prof. DR. H. Nina Lubis pada Bab 'Genealogi Keluarga-keluarga Ménak Terkemuka di Priangan':

Menurut silsilah keluarga, leluhur Keluarga Kusumadinata dari Sumedang dimulai dari tokoh   Prabu Guru Aji Putih yang berkuasa di Kerajaan Hindu, Sumedanglarang sekitar tahun 1500 Masehi. Konon ia adalah seorang saudara Sri Baduga Maharaja. Masa keprabuan berakhir pada generasi ke-9, yaitu sewaktu Prabu Geusan Ulun memerintah. Ada dugaan bahwa Geusan Ulun sebenarnya keturunan Galuh.  

Hal  ini  terbukti  dari  pemakaian nama "Kusumadinata" yang selain dipakai oleh ménak Sumedang juga dipakai  oleh ménak Galuh.  Putra raja terakhirini  yang bemama  Radén Aria  Suriadiwangsa menjadi bupati pertama di Sumedang. Bupati ini diberi sebutan Pangeran Kusumah Dinata dan juga diberi gelar Raden Gempol oleh Sultan Mataram. Dalam sumber-sumber Belanda, ia disebut Pangeran Kusumadinata I. 

Tidak semua keturunan keluarga Kusumadinata memakai nama ini, lebih-lebih pada waktu bupati lain memerintah di daerah Sumedang, yaitu pada masa Raden Adipati Tanubaya (1773-1775) dan Tumenggung Patrakusuma (1775-1789) yang berasal dari Parakanmuncang.

Pemakaian  nama  secara turun-temurun hingga menjadi nama keluarga seperti dalam tradisi Barat, tidak dikenal dalam adat Sunda, tetapi ada kebiasaan untuk mengambil sebagian nama  leluhur, baik dari pihak ayah maupun pihak ibu yang dianggap berhasil dalam hidupnya, tinggi  derajatnya, dan banyak rejekinya.

Jadi, dalam hal nama penguasa ternyata ada kekhusus-an karena sebutan bahkan gelar kadang-kadang dipakai secara turun-temurun secara utuh. Oleh karena itu, penulis menggunakan nama keluarga "Kusumadinata" sebagai perwakilan kaum ménak Sumedang. Selanjutnya dapat dikemukakan asal-usul Keluarga Wiratanudatar dari Cianjur. Awal silsilah dimulai dari tokoh Mundingsari, ayah Prabu Siliwangi (I). 

Tujuh generasi kemudian muncul tokoh Prabu Siliwangi (II). Dan tokoh ini hingga Afi Wangsa Goparana, dalem yang  beragama  Islam,  juga  terhalang  tujuh  generasi. Putranya yang bernama Raden Jayasasana, setelah menjadi dalem menggantikan ayahnya, ditugaskan oleh Cirebon untuk menjaga daerah perbatasan dengan Banten. Untuk itu, ia pindah ke daerah Cikundul, Cianjur dan kemudian memakai gelar "Aria Wira Tanu".

Seperti halnya  Sumedang, bupati-bupati yang  memerintah Cianjur tidak semua memakai nama  "Wiratanudatar", terlebih pula ada bupati yang bukan berasal  dari keturunan keluarga  Wiratanudatar, yaitu R. Tumenggung Wiranatakusumah (1912-1920), keturunan Bandung, dan R.  Tumenggung Suriadiningrat (1920-1932) keturunan Limbangan. Dalam hal ini mereka berdua  tetap tidak termasuk ménak Cianjur.

Masih ada dua orang keturunan ménak Cianjur yang memakai nama Wiratanudatar, yaitu  Tumenggung Jayaningrat yang biasa disebut Wiratanudatar VII.  Ia  diangkat menjadi Bupati   Limbangan (1836-1871) karena menikah dengan putri Bupati Limbangan sebelumnya. Yang  kedua adalah Raden Adipati Wiratanudatar VIII yang menggantikan ayahnya menjadi Bupati  Limbangan (1871-1915).

Leluhur ménak Bandung diawali dengan tokoh Prabu Siliwangi. Sedangkan nama  Wiranatakusumah baru dipakai oleh generasi  ke-6. Leluhur yang namanya mulai dikenal dalam catatan VOC pada akhir abad  ke-17  adalah Ngabehi Astamanggala dari Cihaurbeuti yang  digelari gelar Tumenggung Wira-angunangun oleh Sultan Agung. Ia dianggap berjasa karena ikut menumpas Dipati Ukur yang dianggap memberontak  terhadap Mataram. Kemudian ia digantikan oleh putranya yaitu Tumenggung  Nyili.  

Tidak  lama  kemudian,  ia  diganti  oleh  saudara iparnya,  Raden  Ardisuta,  putra  Demang  Timbanganten  Wira-dipura keturunan Sunan Gordah dari Timbanganten.(16)Buyut Ra-dén Ardisuta dan keturunannya kembali memakai nama Wirana-takusumah  I  sampai  V  dengan  diselingi  oleh  dua  orang  bupati yang tidak memakai nama ini, yaitu Tmg. Raden Kusumadilaga (adik  Wiranatakusumah  IV)  danR.A.A.  Martanagara  (1893-1918), keturunan ménak Sumedang.

Puncak asal-usul keluarga Wiradadaha dimulai dengan Sultan Pajang. Bupati pertama yang bisa dilacak secara historis yaitu Ngabehi Wirawangsa yang diangkat oleh Mataram bersamaan de-ngan Bupati Bandung. Ngabehi Wirawangsa diberi gelar Ra-dén Tumenggung Wiradadaha. Beberapa di antara keturunan-nya  juga  memakai nama Wiradadaha dengan menambah  angka Romawi di belakangnya.

 

Editor: Rizma Riyandi

artikel lainnya

dewanpers