web analytics
  

Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon, Kapsul Waktu Pembangkit Kognisi

Rabu, 1 Juli 2020 13:07 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon, Kapsul Waktu Pembangkit Kognisi, Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon,Keraton Cirebon,Sultan Arief Natadiningrat

Tusuk konde dari bahan kuningan, salah satu koleksi Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- "Kita ada karena leluhur kita ada. Hormati dan rawat lah pusakanya. Tauladani gemilang sejarahnya".

Kalimat penuh makna itu dituliskan Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat pada salah satu sudut Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon. Menjadi sebuah pajangan yang mengingatkan setiap pengunjung untuk memedulikan warisan leluhur.

"Di era sekarang, tidak banyak yang peduli lagi terhadap benda-benda kuno, apalagi memeliharanya," ungkapnya, Rabu (1/7/2020).

Bahkan, imbuhnya, masih ada orang-orang yang selalu memandang negatif dan sinis terhadap benda-benda kuno dan museum. Menurutnya, pandangan semacam ini tak lepas dari minimnya wawasan dan pengetahuan.

Menangkal ketidaktahuan dan membangkitkan kesadaran, pihaknya membangun museum pusaka di area Keraton Kasepuhan Cirebon. Dalam museum, benda-benda kuno peninggalan leluhur tersimpan aman dan terpelihara baik.

"Saat ini, koleksi museum pusaka berjumlah sekitar 1.000 item," ujarnya.

Beberapa benda kuno yang bisa dilihat di antaranya kereta Singabarwang yang digunakan untuk kirab sultan, Ani-ani/ketam yakni pisau kecil untuk panen padi, meriam, aneka senjata khas, aneka aksesori seperti tusuk konde, perhiasan pengantin, dan lainnya, aneka ukiran kayu, seperangkat gamelan Sekaten, dan masih banyak lagi.

Selain menikmati nuansa masa lalu dengan nyaman, koleksi museum pun dapat dipelajari pengunjung. Pasca hampir tiga bulan tutup akibat pandemi Covid-19, museum pusaka kembali dibuka bagi umum sejak 30 Mei 2020 dengan kewajiban penerapan protokol pencegahan Covid-19.

Seribuan koleksi di museum ini dijamin kebersihannya. Arief menyebut, setiap Selasa, benda-benda pusaka di museum dibersihkan.

Pembersihan dilakukan menggunakan kuas dan lap untuk menyingkirkan debu-debu yang menempel. Perlakuan berbeda diberlakukan terhadap keris yang dibersihkan dengan air kelapa dan jeruk.

"Pembersihan bagian dari pemeliharaan dan pelestarian benda-benda kuno yang ada di Keraton Kasepuhan," terangnya.

Meski merupakan benda kuno, dia meyakinkan, tak ada ritual khusus pada aktivitas satu ini. Pembersihan tersebut hanya bersifat rutinitas setiap Selasa.

Namun begitu, semua pusaka tetap dibersihkan pada 1 Suro dengan ritual khusus. Khusus malam Jumat Kliwon, ritual sejenis diberlakukan bagi kereta Singabarwang.

"Ritual khusus pembersihan hanya pada 1 Suro untuk semua pusaka dan malam Jumat Kliwon untuk kereta Singabarwang. Kalau setiap Selasa hanya pembersihan rutin biasa," tuturnya.

Meski masih banyak yang tak memperdulikan peninggalan leluhur, dia menjamin, pihaknya, termasuk para wargi dan abdi dalem di Keraton Kasepuhan akan tetap melestarikannya. Dia memandang, pelestarian itu merupakan bentuk pengabdian terhadap leluhur bangsa.

Lebih jauh, pihaknya berharap Keraton Kasepuhan Cirebon menjadi destinasi wisata budaya unggulan Jawa Barat dan nasional.

"Kami akan tetap semangat melestarikan dan memajukan budaya bangsa," tegasnya.

Editor: Adi Ginanjar Maulana
dewanpers