web analytics
  

Begini Cara Bedakan Batuk Pilek Akibat Corona atau Alergi

Selasa, 30 Juni 2020 11:11 WIB

Batuk dan pilek. (Anastasia Gepp/Pixabay )

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM – Terdapat cara mengenali apakah gejala batuk dan pilek yang Anda alami tergolong infeksi corona atau hanya Alergi.

"Untuk membedakannya perhatikan ada tidak demam?" kata konsultan Alergi dan Imunologi Anak, dikutip dari Republika.co.id, Selasa (30/6/2020).

Selain itu, amati bagaimana kejadiannya misal batuk dan pileknya, apakah terjadi sepanjang hari atau lebih ke malam hari. Terakhir, perhatikan apakah dahak atau ingus berwarna dan kental.

Jika ada demam, lalu batuk pileknya muncul pagi dan malam hari, serta dahak atau ingusnya kental dan berwarna, maka dia kemungkinan mengalami infeksi.

"Kalau Alergi biasanya tidak disertai demam. Kejadian batuk pileknya terutama pada malam dan biasanya dahak atau ingusnya bening, tidak berwarna," tutur Budi.

Deteksi Alergi

Budi menekankan pentingnya deteksi dini Alergi terutama pada anak agar bisa segera mendapatkan penanganan sehingga tidak menganggu tumbuh kembangnya. Alergi merupakan respons sistem imun yang tidak normal untuk mengenali bahan-bahan yang sebenarnya tidak berbahaya bagi orang lain.

"Deteksi dini dan nutrisi tepat mencegah Alergi anak. Kalau tidak dicegah bisa menjadi komorbid pada anak yang menempatkannya rentan terkena Covid-19," tutur Budi.

Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyebut penduduk dunia mengalami Alergi 30-40 persen. Hingga 550 juga orang diketahui mengalami Alergi makanan, salah satunya Alergi susu sapi. Di Indonesia sekitar 7,5 persen anak mengalami Alergi susu sapi.

Alergi biasanya dialami pada anak dengan bakat Alergi yakni diturunkan dari salah satu atau kedua orang tuanya. Jika kedua orang tua memiliki riwayat Alergi maka berisiko membuat anak mereka 40-60 persen terkena Alergi.

Risiko akan meningkat menjadi 60-80 persen jika orang tua memiliki manifestasi yang sama. Bila hanya salah satu orang tua yang memiliki riwayat Alergi, risiko anak terkena Alergi sekitar 20-40 persen. Risiko anak terkena Alergi masih tetap ada yakni 5-15 persen bahkan jika orang tua tak memiliki riwayat Alergi.

"Apabila dikenali dini, ditangani dini akan optimal tata laksana, sehingga tidak berlanjut ke penyakit seperti eksim, asma, rhinitis Alergi. Kalau terlambat diagnosa, akan muncul dampak-dampak disebakan penyakit Alergi, dari sisi kesehatan misalnya meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti obesitas, hipertensi dan sakit jantung," kata Budi.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers