web analytics
  

Adab-Adab Berhubungan Intim yang Harus Diperhatikan oleh Suami

Selasa, 30 Juni 2020 06:36 WIB

Ilustrasi (Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Pernikahan merupakan sunah nabi yang sangat dianjurkan pelaksanaannya bagi umat Islam. Bagi seorang suami, ada beberapa atika atau adab dalam melakukan hubungan intim, yaitu sebelum berhubungan, saat melakukannya, dan sesudahnya.

Tiga adab Berhubungan intim atau Ijma’ ini dijelaskan dalam buku “Wejangan Pengantin Anyar & Terjemah Fathul Izar” karya Firman Arifandi: 

Sebelum Jima

Dalam terjemah Kitab Fathul Izar dijelaskan, sebelum melakukan persetubuhan seorang suami hendaknya mendahului dengan bermesra agar hati istri tidak merasa tertekan dan mudah melampiaskan hasratnya. Sampai ketika nafasnya naik turun serta tubuhnya menggeliat dan ia minta dekapan suaminya, maka rapatkanlah tubuh (suami) ke tubuh istri. 

Kedua, janganlah menyutubuhi istri dengan posisi berlutut, karena hal demikian sangat memberatkannya. Atau dengan posisi tidur miring karena dapat menyebabkan sakit pinggang. Dan jangan memposisikan istri berada di atasnya, karena dapat mengakibatkan kencing batu. 

Menurut dia, posisi jima yang paling bagus adalah meletakkan istri dalam posisi terlentang dengan kepala lebih rendah daripada bokongnya. Dan bokongnya diganjal dengan bantal serta kedua pahanya diangkat dan dibuka lebar-lebar. Sementara suami mendatangi istri dari atas dengan bertumpu pada sikunya. "Posisi inilah yang dipilih oleh para fuqaha dan para ahli medis,” tulis dia. 

Saat akan memulai  bersetubuh, seorang suami hendaknya membaca ta'awudz dan basmalah. Di samping itu, seorang suami hendaknya dapat membangkitkan syahwat istri.

Ketika Jima

Saat melakukan jima, Firman Arifandi menjelaksan, hendaknya seorang suami melakukannya secara pelan-pelan dan lembut. Selain itu, seorang suami juga hendaknya menahan keluarnya mani saat birahi bangkit, sambil menunggu istri mengalami inzal. Karena, hal itu dapat menciptakan rasa cinta di hati. 

Selanjutnya, seorang semua juga tidak terburu-buru mencabut kemaluan ketika ia merasa istri akan keluar mani, karena hal itu dapat melemahkan ketegangan dzakar. Juga jangan melakukan ‘azl (mengeluarkan mani di luar vagina) karena hal itu merugikan pihak istri.  

Setelah Jima 

Setelah jima, seorang juga hendaknya meminta istri tidur miring ke arah kanan agar anak yang dilahirkan kelak berjenis kelamin laki-laki, insya Allah. Bila istri tidur miring ke arah kiri maka anak yang dilahirkan kelak berjenis kelamin perempuan. Hal ini berdasarkan hasil uji coba riset. 

Selain itu, setelah melakukan jima seorang suami membaca dzikir dalam hati sesuai yang diajarkan Nabi, yaitu surat al-Furqan:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا ۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

“Segala puji milik Allah SWT yang telah menciptakan manusia dari air, untuk kemudian menjadikannya keturunan dan mushaharah. Dan adalah Tuhanmu itu Mahakuasa.” (QS al-Furqan ayat 54).

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Rizma Riyandi

artikel lainnya

dewanpers