web analytics
  

Dokter Persib: PCR Test Lebih Akurat untuk Protokol Liga 1

Senin, 29 Juni 2020 18:21 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Dokter tim Persib Bandung, Raffi Ghani Rafi (Eneng Reni)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM -- Dokter tim Persib Bandung, Raffi Ghani
Rafi lebih setuju apabila acuan protokol kesehatan yang akan diterapkan PSSI untuk lanjutan Liga 1 2020 menggunakan swab atau PCR Test.

Raffi menyebut, metode pengambilan cairan saluran pernapasan atau Swab dinilai cepat mendeteksi seseorang yang terpapar virus corona.

Dia pun telah memberikan usulan kepada dokter PSSI agar wacana regulasi baru diubah menggunakan metode pemeriksaan Swab test, disusul  protokol kesehatan secara ketat.

"Usulan saya memang swab, PCR memang yang lebih baik. Ke sananya kita ikuti protokol kesehatan yang baik," kata Raffi kepada awak media di Stadion Sidolig, Senin (29/6/2020).

PSSI dan PT LIB akan menerapkan protokol kesehatan saat kompetisi kembali bergulir Oktober mendatang. PSSI juga membuat buku panduan dan telah disebar kepada seluruh klub. 

Namun dalam acuan regulasi baru itu, federasi mencantumkan rapid test sebagai salah satu panduan tim klub untuk melanjutkan kompetisi.

Raffi mengatakan, metode Swab test lebih unggul dibanding Rapid test. Raffi menjabarkan, Swab test atau Polymerase Chain Reaction test (PCR Test) juga lebih akurat dalam mendeteksi virus corona di dalam tubuh.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan tidak menyarankan penggunaan rapid test antibodi atau tes cepat untuk mendeteksi kasus virus corona.

Sejauh ini WHO menilai tes PCR merupakan standar utama. WHO tidak pernah memasukan hasil pemeriksaan menggunakan rapid test ke dalam perhitungan kasus corona yang terkonfirmasi.

"Untuk swab, PCR, kita langsung mengetahui adanya virus dan tidak adanya virus pada seseorang yang terinfeksi atau terpapar," kata Raffi.

Raffi juga mengatakan, Rapid Test kurang efektif untuk pemeriksaan Covid-19. Hal ini disebabkan antibodi tidak akan langsung terbentuk meskipun tubuh telah terinfeksi virus corona. Setidaknya, antibodi akan terbentuk setelah 7 hari sejak tubuh terinfeksi sehingga hasil Rapid Test seringkali kurang akurat.

Selama ini, pemerintah Indonesia menggunakan Rapid Test hanya digunakan sebagai skrining awal. Jika mendapatkan hasil reaktif, maka harus dipastikan keakuratan hasilnya dengan melakukan Swab Test.

"Kalau untuk rapid test, yang tadi kita hanya mengetahui antibodi pada seseorang pembentukan antibodi perlu waktu. Artinya dari terpapar awal dia butuh 7-10 hari untuk pembentukan antibodi atau si antibodinya memang reaktif tapi padahal si atletnya atau si orang tersebut sudah sehat," ujar Raffi.

Editor: Dadi Haryadi
dewanpers