web analytics
  
Banner Kemerdekaan

Persib Bandung Tak Setuju Rapid Test untuk Syarat Lanjutan Liga 1

Senin, 29 Juni 2020 17:47 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Latihan Persib Bandung (Irfan Al-Faritsi)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM -- Dokter tim Persib Bandung, Rafi Ghani menyoroti metode pemeriksaan dalam regulasi baru yang akan ditetapkan PSSI jelang lanjutan Liga 1 2020. 

PSSI dan PT LIB akan menerapkan protokol kesehatan ketat saat Liga 1 2020 kembali bergulir Oktober mendatang. PSSI pun membuat buku panduan dan telah disebar kepada seluruh klub.

Raffi mengatakan, dalam regulasi baru tersebut, federasi mencantumkan rapid test sebagai salah satu panduan tim klub untuk melanjutkan kompetisi.

"Saya sudah melihat sepintas protokol kesehatan untuk dimulainya Liga 1. Di sana ada salah satu poin yang saya tidak setuju karena pemeriksaan dengan rapid test. Artinya setiap orang yang boleh masuk lapangan (harus) sudah lolos pemeriksaan rapid test yang nonreaktif," kata Rafi kepada awak media di Stadion Sidolig, Senin (29/6/2020).

Raffi mengaku tidak setuju dengan metode pemeriksaan ini. Rapid test dirasa kurang efektif untuk mendeteksi Covid-19. 

Beberapa waktu lalu, Persib melakukan polymerase chain reaction (PCR) bagi pemain, staf, dan official. Metode pemeriksaan itu efektif mendeteksi kehadiran Covid-19 di tubuh salah satu pemain.

"Mengapa saya tidak setuju karena ada salah seorang atlet saya yang pada bulan Maret terpapar Covid-19 dengan pemeriksaan PCR. Setelah melakukan isolasi mandiri sembuh dengan sendirinya," kata Raffi.

Metode pemeriksaan rapid test belum bisa menjamin keselamatan para pemain dari bahaya Covid-19. Dia juga menilai, rapid test tidak bisa menjadi acuan klub terbebas dari virus Corona.

Raffi khawatir banyak pesepak bola yang dinyatakan reaktif Covid-19 lantaran memiliki antibodi saat menjalani rapid test.

Secara klinis, rapid test pun hanya mendeteksi adanya ada atau tidaknya antibodi di dalam tubuh. Saat ini untuk memastikan seseorang positif Covid-19 diperlukan pemeriksaan melalui swab atau PCR.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel lainnya

dewanpers