web analytics
  

Ekonomi di Tahun Pandemi Covid-19

Senin, 29 Juni 2020 11:20 WIB Netizen A. Saebani

[Ilustrasi] Perkembangan ekonomi. (Steve Buissinne/Pixabay )

A. Saebani

Statistisi Ahli Muda di BPS Kabupaten Cianjur.

AYOBANDUNG.COM -- Di tengah gejolak ekonomi global yang tak menentu akibat pandemi Covid-19 yang menyerang semua negara di dunia. Kebijakan karantina wilayah di beberapa negara maupun pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diterapkan Indonesia dalam menekan dan pengendalian penyebaran virus corona. Akibat pendemi Covid-19 yaitu meningkatkan pengangguran, bertambahnya penduduk miskin, daya beli yang menurun sampai pada penurunan laju ekonomi Indonesia.

BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang triwulan I/2020 sebesar 2,97 persen. Angka tersebut mengalami perlambatan dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi pada triwulan I/2019 sebesar 5,07 persen.

Bagaimana pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II/2020? Ini menarik untuk dianalisis apakah laju ekonomi Indonesia bisa mempertahankan seperti halnya di kuartal I/2020 ataukah justru terkoreksi lebih dalam lagi. Beberapa pengamat memprediksi laju ekonomi Indonesia bisa terkoreksi lebih dalam lagi sampai minus 4,8 persen bahkan sampai minus 7 persen.

Melihat perkembangan ekonomi Indonesia kuartal I/2020 lebih baik jika dibandingkan dengan laju ekonomi Indonesia di masa krisis ekonomi tahun 1998. Pada saat krisis ekonomi yang didahului krisis moneter dan krisis kepercayaan terhadap pemerintah, ekonomi Indonesia terkoreksi cukup dalam sampai angka minus 13,13 persen.

Begitu pun dengan ekonomi dunia, jika pada januari IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi sebesar 3,3 persen, maka pada april 2020 pertumbuhan ekonomi diprediksi menurun sampai minus 3 persen. Prediksi ini disertai asumsi persebaran covid-19 memuncak pada kuartal kedua dan menurun pada semester 2 tahun ini.

Dengan revisi angka pertumbuhan ekonomi global tersebut, IMF menyebut perekonomian 2020 menjadi yang terburuk setelah great depression pada tahun 1930-an juga lebih buruk dari krisis ekonomi global tahun 2008 dan 2009.

Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 sebesar 2,3 persen. Prediksi laju ekonomi BI lebih tinggi dari prediksi IMF yang tertera pada laporan Word Economic Outlook 2020, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 0,5 persen.

Beberapa faktor yang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2020 akan terkoreksi diantaranya karena pendapatan masyarakat yang menurun. Covid-19 mengakibatkan dunia usaha menjadi lesu sehingga pendapatan masyarakat terus mengalami penurunan. Dilain pihak pos untuk pengeluaran masyarakat semakin meningkat, mulai dari pengeluaran bahan makanan dan makanan jadi, kesehatan maupun paket data dan pulsa, dan pendidikan di ajaran baru tahun ini.

Beberapa indikator yang menjadikan perekonimian Indonesia terkoreksi diantaranya masih menurunnya pertumbuhan sektor industri, sektor parawisata, perdagangan baik ritail maupun besar, transportasi serta pergudangan. Juga akibat menurunya ekspor impor akibat adanya penurunan ekonomi dunia.

Penguatan Ekonomi Domestik

Dalam menjaga ekonomi dari keterpurukan dan tetap tumbuh maka pemerintah Indonesia menerapkan tatanan baru (new normal). Dalam tatanan baru ini, masyarakat harus menjaga produktivitas di tengah pandemi virus corona covid-19.

Untuk merealisasikan skenario new normal, dimana pemerintah telah menggandeng seluruh pihak termasuk para ahli kesehatan, tokoh masyarakat, akademisi untuk merumuskan protokol atau SOP dalam memastikan masyarakat dapat beraktivitas kembali untuk berusaha dan bekerja sehingga bisa meningkatkan produktivitas di tengah pandemi covid-19.

Dilihat dari struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia beberapa tahun, komponen konsumsi rumah tangga menjadi faktor dominan yang memberikan pertumbuhan dalam perekonomian. Potensi penguatan konsumsi rumah tangga perlu dipertahankan supaya dapat meningkatkan laju ekonomi yang positif.

Dalam mempertahankan tingkat konsumsi rumah tangga yang tinggi, pengeluaran pemerintah terhadap bantuan sosial perlu ditingkatkan khususnya yang menyasar rumah tangga berpendapan rendah. Berbagai bantuan sosial seperti BOS, BPJS penduduk miskin, PKH maupun bantuan pangan nontunai (BPNT) perlu dipertahankan sampai akhir tahun 2020.

Mempertahankan ekonomi perdesaan menjadi salah satu strategi meningkatkan laju eknomi Indonesia. Transfer Dana Desa yang dijadwalkan pada awal tahun perlu segera digunakan untuk membiayai proyek infrastruktur maupun untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat perdesaan. Program bantuan sosial Dana Desa pun mengalir dan perlu dipertahankan untuk membantu masyarakat kurang mampu di perdesaan.

Menjaga pertumbuhan dari investasi mejadi kunci supaya dapat menggerakan roda perekonomian lebih tinggi. Daya ungkit investasi terhadap pertumbuhan ekonomi mempunyai pengaruh yang signifikan. Dampak investasi akan menciptakan lapangan pekerjaan yang akhirnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Pendapatan masyarakat akan meningkatkan pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga.

Indonesia perlu lebih ekspansif dalam menjaring investasi supaya pertumbuhan ekonomi dapat tumbuh lebih tinggi lagi. Minat investor untuk berinvestasi sangat dipengaruhi bagaimana suatu negara dapat memberikan jaminan bahwa investor akan diuntungkan. Selain kondisi politik dan keamanan yang stabil, peraturan atau regulasi harus lebih mudah dalam perizinan, dan jauh dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi covid-19 perlu menyasar pelaku ekonomi kecil menengah (UMKM). Banyak pelaku UMKM yang gulung tikar dan perlu modal usaha untuk membuka kembali usahanya. Untuk itu peranan pemerintah melalui program KUR dan pemberian kredit modal perlu difokuskan sehingga dapat menggerakan ekonomi nasional.

Yang terakhir tentunya, pemerintah selain peningkatan infrastruktur fisik yang semakin baik. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) perlu ditingkatkan baik dengan pendidikan yang berorentasi dengan kemajuan teknologi. Pemerataan lembaga pelatihan untuk meningkatkan keterampilan serta keahlian SDM supaya dapat meningkat produktivitas kerja.

Produktivitas kerja meningkat, penghasilan juga bertambah, maka pengeluaran terhadap konsumsi rumah tangga juga akan semakin baik. Hal ini akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik ditengah gejolak wabah virus corona yang dapat terkoreksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers