web analytics
  

Sampar dalam Penyelidikan De Vogel

Minggu, 28 Juni 2020 09:39 WIB Netizen ATEP KURNIA

Kantor Dienst der Volksgezondheid (DVG) di Weltevreden, Batavia. Sumber: H.W.M. Husken-Nillissen dan D. De Moulin (1986). (Ist)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

AYOBANDUNG.COM--Pada 3 November 1910, impor beras dari Rangoon, Myanmar, tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Impor ini dilakukan pemerintah kolonial untuk mengantisipasi kekurangan pangan sebelum masa panen. 

Kebijakan ini sudah lama dilakukan Hindia Belanda, yakni sejak 1864, karena produksi beras di Jawa hanya cukup untuk konsumsi. Tidak seperti hasil perkebunan yang menjadi andalan, beras bukan barang ekspor dari pulau ini. 

Apalagi antara 1880-1890, saat perkebunan kopi dan gula diserang hama dan kemerosotan harga, penduduk Jawa sangat tertekan menghadapi kebutuhan akan beras. Jalan keluarnya Hindia Belanda mengimpor beras dari Tiongkok, Bengal (India), Rangoon, Saigon, Thailand, dan Singapura. 

Antara 1910-1911, Rangoon menjadi pengekspor beras paling dominan ke Hindia Belanda. Saat pengiriman 3 November 1910 itu, di Karesidenan Surabaya sedang terjadi kegagalan panen karena serangan hama mentek antara Oktober-November 1910.

Pada 5 November 1910, beras yang dibongkar dari kapal mulai disebarkan ke daerah-daerah yang mengalami kegagalan panen. Distribusinya menggunakan jalur kereta api. Namun, pada 10 November 1910, jalur kereta antara Malang dan Wlingi terputus karena banjir sehingga pasokan beras tertahan di Malang. Untuk sementara, pasokan beras disimpan di gudang dekat stasiun. Diduga pada tumpukan beras tersebut ada tikus-tikus terinfeksi sampar yang terbawa dari Rangoon. 

Saat itu, Afdeeling Malang, yang keadaan iklimnya dingin sehingga bisa cepat menyebarkan wabah sampar, terdiri dari delapan distrik, yakni Ngantang, Penanggungan, Karanglo,  Kota Malang, Pakis, Sangguruh, Gondanglegi, dan Turen. 

Diduga tikus dari gudang-gudang beras impor itu menyebar ke sekitar Afdeeling Malang. Akibatnya, pada Februari-Maret 1911 sudah banyak korban yang diduga terjangkit sampar di daerah ini. Pemerintah setempat masih belum mengganggap serius persoalan tersebut, karena waktu itu umumnya penyakit yang mewabah di Hindia adalah kolera, cacar, dan malaria. Sementara sampar hanya diketahui terjadi di luar negeri seperti di Tiongkok, Manchuria, Jepang, Rusia dan Belgia atau dalam buku-buku.

Titik baliknya terjadi pada 27 Maret 1911. Saat itu, Direktur Laboratorium Medis di Weltevreden menerima sampel darah seorang istri guru yang meninggal di Malang. Sampel itu dikirimkan oleh dokter swasta dan di dalam darah itulah ditemukan secara pasti basil sampar

Agar sampar tidak menyebar ke Surabaya, pada dokter di Surabaya mengadakan pertemuan untuk membahas wabah penyakit ini pada 1 April 1911. Dari pertemuan yang dipimpin dr. Wijdenes Spaans ini antara lain ada rekomendasi untuk mengadakan karantina, larangan bepergian, pemeriksaan, pembersihan, penanganan, dan perhatian khusus kepada orang Tionghoa yang baru datang dari Tiongkok. 

Sementara itu, dengan hasil positif adanya sampar di Malang, pada 30 Maret 1911, Burgerlijken Geneeskundige Dienst (BGD) mengirimkan inspecteur sous-chef Dokter De Vogel. Maksudnya untuk berusaha mencari latar belakang proses mewabahnya sampar di sana, mengumpulkan bukti dan menanggulanginya. 

Uraian di atas, saya sarikan dari skripsi Syefri Luwis (Pemberantasan Penyakit Pes di Wilayah Malang, 1911-1916, UI, 2008). Dan bagi saya sosok De Vogel ini sangat menarik, karena dialah orang pertama yang melakukan penyelidikan ihwal wabah sampar di Malang. 

Sosok dan sepak terjangnya saya cari dan temukan terutama dalam tulisan karya E.P. Sneijders: “Dr. W.Th. De Vogel 90 Jaar, Terug Blik op een Rijk Leven met een Plaat” (NTVG 97.I.12, 21 Maret 1953). Menurut Sneijders, De Vogel termasuk salah seorang para peneliti medis berbakat yang bekerja di Hindia Belanda pada peralihan abad (1890-1910) dan membawa serta gagasan etiologi, seperti Eijkman, Grijns, Vorderman, Van der Scheer, Kiewiet de Jonge, Nijland, Van Eecke, Lim, Schuffner, Kuenen, dan sebagainya.

Willem Thomas de Vogel (1863-1955) lahir pada 26 Maret 1863 di Tuban, Karesidenan Rembang, Jawa Timur. Ibunya orang Inggris. Setelah menempuh pendidikan dasar di Rembang, ia kemudian belajar di Arnhem, Belanda. Pada 1883, De Vogel masuk ke Faculteit der Wis- en Natuurkunde di Universitas Leiden. 

Tapi karena ayahnya tidak lagu mampu membiayainya, pada akhir 1884 ia keluar dan memutuskan bekerja sebagai pelaut di Hindia Belanda. Tapi setelah tiba di Hindia, dia ditawari bekerja di perkebunan kina yang dimiliki Eekhout. Kemudian, dengan bantuan biaya iparnya, pada 1886, De Vogel dapat kuliah kedokteran di Leiden (1886-1892).

Pada 28 Oktober 1892, ia lulus ujian dokter dan pada 19 Januari 1893 dia dipromosikan, dengan kajian akhirnya yang bertajuk Bijdrage tot de Kennis der Electrische Verschijnselen van het Hart. Selang dua hari, ia kembali ke Hindia Belanda dan diterima sebagai dokter sipil di Tegal, Jawa Tengah, hingga 1895. Setelah itu, De Vogel melanjutkan studinya di Berlin, untuk mempelajari bakteriologi, pengobatan internal, dan psikiater. Antara 1896-1897, dia menjadi asisten Snellen di Utrecht, dan memberinya kesempatan untuk mendalami oftalmologi kepada Leber di Heidelberg dan Fuch di Wina.

Setelah menikah pada September 1897, pada 1898, De Vogel kembali ke Hindia Belanda. Di Semarang, dia membuka praktik dan banyak melakukan kajian ihwal higienitas warga pribumi di sana, termasuk mendirikan tempat untuk orang gila. 

Tahun itu 1898 juga, ia diangkat sebagai dokter kota kelas dua dan pada 1901 diangkat sebagai dokter kota secara penuh. Pada 1906, De Vogel diangkat menjadi salah seorang anggota Dewan Kota Semarang yang pertama. Pada 1907, bersama-sama dengan Van der Scheer, dia mendirikan Nederlandsche Vereeniging voor Tropische Geneeskunde (Perhimpunan Belanda untuk Kesehatan Tropis). Hingga 1909, De Vogel terus berupaya meningkatkan taraf kesehatan di Kota Semarang.

Pada 1911, dia diangkat menjadi inspecteur sous-chef pada BGD. Dalam kapasitas inilah ketika pada 30 Maret 1911 dia pergi dari Weltevreden ke Malang untuk menyelidiki penyebaran wabah sampar

Hasil penyelidikannya didedahkan dalam laporan yang dimuat dalam Mededeelingen van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Nederlandsch-Indie 1a (1912). 
.Laporannya ditulis dalam bahasa Belanda dan Inggris: “Uittreksel uit het verslag aan de Regeering over des Pest-Epidemie in de Afdeeling Malang November 1910-Augustus 1911” dan “Extract from the report to the Government on the Plague Epidemie in the subresidency of Malang (Isle of Java), November 1910 till August 1911”. 

Dalam laporan tujuh bab itu, De Vogel menerangkan banyak hal terkait penyebaran wabah sampar di daerah Malang. “The news of the dissemination of the plague from Manchuria to South China in the course of 1910, besides some cases of plague that occurred in the beginning of 1911 on board some pilgrimships returning to Java, called the attention of several medical men to the possibility of the disease occurring in Java” (Berita penyebaran wabah sampar dari Manchuria ke Tiongkok Selatan sekitar tahun 1910, di samping kasus-kasus sampar yang terjadi pada awal 1911 pada kapal yang ditumpangi jamaah haji yang kembali ke Jawa, membetot perhatian para ahli medis mengenai kemungkinan menjangkitnya penyakit tersebut di Jawa). Demikianlah yang dinyatakan pada awal laporannya.

Pada bab 1, disebutkan alasan penugasn De Vogel ke Malang. Dari sampel darah yang diambil dari Raden Adjeng Moerko, istri guru pribumi di Sisir, Distrik Pananggungan, diketahui sampar telah menjangkit di wilayah Malang. Dengan begitu, Kepala Kesehatan dari Divisi Ketiga BGD memulai penyelidikan terhadap kasus yang sama yang terjadi di Distrik Malang, Karang Lo, Gondang Legi dan Penanggungan sejak awal Februari 1911. Padahal pemeriksaan yang teliti di sana belum pernah dilakukan, kecuali oleh Dokter Soemowidigdo. Akhirnya, pada 30 Maret 1911, De Vogel berangkat ke Malang, langsung menuju ke daerah Batu, yang disebut-sebut menjadi pusat wabah.

Tugas yang dibebankan kepadanya adalah untuk mengetahui sifat penyakit tersebut yaitu sporadis atau mewabah; tempat wabah; waktu dan tempat awal terjadinya wabah; melokalisasinya agar tidak menyebar ke Pulau Jawa; mengampanyekan dan mengenyahkannya; mengumpulkan data wabahnya di Jawa; dan membuat kesimpulan untuk memeranginya ini di masa depan.

Dalam penyelidikan di Batu, antara lain, De Vogel menemukan bahwa sejak 18 Februari 1911 di sana ada 35 kasus mematikan dan hanya 3 orang yang selamat. Bahkan ia menemukan bahwa sejak awal November-Desember 1910 sudah mulai banyak korban sampar di Distrik Turen, terutama di daerah Dampit yang ada gudang beras. Dokter Vogel juga memeriksa daerah Karang Ploso. Di sini, ia menemukan korban pertama sampar, yaitu Haji Bijang Amir yang sebulan sebelumnya baru pulang beribadah haji. 

Saat itu, juga berkembang isu. Di kalangan pers tersiar bahwa sampar mungkin dibawa orang yang berhaji dan kalangan dokter Surabaya percaya bahwa wabah itu dibawa imigran Tionghoa. Dengan penyelidikannya, De Vogel membantah kedua isu tersebut dan menyatakan bahwa wabah sampar di Malang berasal dari Rangoon. Ia melihatnya mirip dan terkait wabah di selatan Cina dan India pada 1910 serta adanya impor beras dari negara tersebut ke Jawa Timur pada September 1910.

Pada bab 5, De Vogel menyatakan cara pencegahan dan pemberantasan (bestrijding) wabah sampar. Di antaranya, dengan jalan: memberi instruksi kepada pribumi; membasmi tikus; memisahkan pasien sampar dengan tetangganya; membersihkan (desinfeksi) rumah yang ditinggalkan; menerangkan pencegahannya ke sekolah-sekolah; ke pegadaian-pegadaian; dan menyelenggarakan vaksinasi.

Pada bab 6 mengenai informasi epidemologi sampar, ia menjelaskan kemungkinan pola penyebarannya. Katanya, wabah sampar di Malang berasal dari tikus terinfeksi di antara tikus-tikus rumah; tikus yang terinfeksi sampar mendahului terpaparnya manusia dengan sampar; dan tikus-tikus tersebut mulanya tidak bergerak jauh, tetapi secara bertahap menyebar dengan cara melanting dari pusatnya (sentripugal) dan terhalang jalanan, selokan, dan lain-lain.

Kemudian pada bab 7, De Vogel menyajikan kesimpulan hasil akhir penyelidikannya. Ia menemukan bahwa wabah sampar di Jawa Timur itu berasal dari sampar yang menginfeksi tikus-tikus rumah. Tikus-tikus tersebut kebanyakannya masuk ke Surabaya melalui muatan beras dari pelabuhan yang terinfeksi sampar dan kemudian dibawa ke pedalaman dengan menggunakan kereta api pada akhir tahun 1910. 

Upaya-upaya yang dikedepankannya antara lain: pendirian karantina pelabuhan yang tertata sehingga mampu mencegah masuknya tikus baru ke Hindia Belanda; mengedepankan kajian ilmiah yang ditujukan untuk menemukan metode praktis untuk memberantas tikus terinfeksi; meningkatkan kondisi rumah di tempat terjadinya wabah; dan kontrol khusus terhadap transportasi beras atau jagung dengan kereta api dari daerah yang terjangkit.

Barangkali dengan prestasi itu pada 1913, De Vogel diangkat menjadi inspektur kepala (hoofdinspecteur) dan mendapatkan penghargaan Ridder in de Orde van de Nederlandse leeuw. Sebelumnya ia mendapatkan anugerah Officier in de orde van Oranje Nassau dari Kerajaan Belanda pada 1906. Dua tahun setelah diangkat sebagai inspektur kepala, De Vogel melakukan kajian kesehatan di Sibolga, Sumatra Utara, terutama berkaitan dengan wabah malaria berikut penanganannya. 

Pada 1917, ia menerbitkan brosur bertajuk De taak van de Burgerlijke Geneeskundige Dienst in Nederlandsch Indie. Brosur ini berkaitan dengan reorganisasi dinas kesehatan masyarakat di Hindia Belanda. Pendapatnya untuk perbaikan organisasi itu akhirnya mewujud dengan perubahan dari BGD menjadi Dienst der Volksgezondheid (DVG). Selain itu, selama menjabat sebagai inspecteur sous-chef dan hoofdinspecteur di BGD, di bawah kepemimpinannya, ordonansi karantina diterbitkan pada 1911; perluasan dan peraturan pendidikan medis STOVIA ke Centraal Burgerlijke Ziekeninrichting; penyelenggaraan pelatihan bagi perawat pribumi; serta melakukan kajian sampar, malaria, dan lain-lain. 

Pada 1921, De Vogel pensiun dari BGD. Tetapi segera saja dia diminta menjadi wakil Hindia Belanda (delegue des Indes Neerlandaises) bagi Office international d’hygiene publique di Paris, Prancis, hingga pecahnya Perang Dunia II. Pada masa itu, ia mendapat lagi anugerah Commandeur  in de orde van Oranje Nassau pada 1933 dan Groot Officier in de orde van Oranje Nassau pada 1939. Dan akhirnya, De Sneijders menyatakan bahwa De Vogel tidak terlalu suka berbasa-basi dalam diplomasi, karena yang ditekankannya hanyalah ketepatan dan kebenaran (de exactheid en de waarheid).

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Tag
Editor: Adi Ginanjar Maulana
dewanpers