web analytics
  

Ketangguhan UMKM saat Pandemi Covid-19

Jumat, 26 Juni 2020 12:49 WIB Netizen Wisnu AJ

Ilustrasi. (Lalmch/Pixabay )

Wisnu AJ

Sekretaris Forum Komunikasi Anak Daerah (Fokad) Kota Tanjungbalai.

AYOBANDUNG.COM -- Ir. H. Soekarno, atau biasa disapa dengan nama Bung Karno, Presiden pertama Negara Kesatun Republik Indonesia (NKRI) mengatakan, "Kemerdekaan hanya jembatan emas untuk mencapai kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

Indonesia bukan bangsa kuli, bangsa tempe, bukan bangsa yang lembek. Kami menggoyangkan langit, menggemparkan daratan, dan menggelorakan samudra agar tidak menjadi bangsa yang hidup hanya dari dua setengah sen sehari. Bangsa yang bekerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli, bangsa yang rela demi kepentingan pencarian."

Hal itu disampaikannya dalam Pidato Bung Karno 17 Agustus 1945.

Apa yang disampaikan oleh Bung Karno secara tersirat mengingatkan kita, bahwa kita adalah bangsa pekerja keras yang mampu untuk berdiri diatas kaki sendiri (Berdikari) tampa harus mengemis, meminta sesuatu demi untuk memperjuangkan dan mempertahankan kehidupan.

Implementasi dari apa yang disampaikan oleh Bung Karno itu, kini diterapkan oleh para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam menjalankan  usahanya, dengan menerapkan ekonomi Pancasila, berdasarkan asas kekeluargaan dan kegotongroyongan nasional.

Sistem ekonomi Pancasila memberikan kebebasan kepada setiap warga negara untuk berusaha atau membangun usaha prekonomian dengan batasan dan syarat syarat tertentu.

Sistem ekonomi Pancasila tidak hanya menguntungkan secara pribadi, namun juga memberikan konstribusi kepada masyarakat dan dijalankan oleh rakyat dengan modal yang kecil. Berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis, perdagangan dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pihak swasta dengan modal besar, dengan tujuan memperoleh keuntungan dalam ekonomi pasar.

Pemilik modal dalam melakukan usaha, berusaha untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya untuk kepentingan pribadi mereka. Menurut Bung Karno, sistem ekonomi kapitalis, yaitu sistem sosial di masyarakat yang muncul dari cara produksi dan memisahkan buruh dengan alat alat produksi yang ada.

Para pelaku UMKM dalam menjalankan usahanya memang belum mendapat perhatian yang penuh dari pihak pemerintah jika dibandingkan dengan perusahaan perusahaan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mendapat kucuran dana dari pihak pemerintah, walaupun dengan cara pinjaman.

Kendatipun banyak dari perusahaan perusahaan BUMN yang merugi sehingga menimbulkan utang utang yang cukup besar yang dapat merugikan negara.

Seperti yang diungkapkan oleh Adian Napitupuluh, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPRRI) dari fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam tulisannya yang berjudul  “BUMN dan UMKM dalam cerita dan angka siapa pahlawan sesungguhnya" Adian mengungkapkan utang BUMN sebesar Rp5.600 triliun. Bahkan Adian membandingkan dengan utang luar negeri negara Malaysia pada kisaran Rp3.500 triliun.

Walaupun BUMN dengan ratusan perusahaan, mulai dari perusahaan induk, sampai kepada anak dan cucu perusahaan yang dikelola oleh BUMN yang memiliki utang lebih besar dari utang luar negeri negara Malaysia, pemerintah tetap percaya terhadap BUMN. Bahkan dalam masa pandemi Covid-19 pemerintah telah menyetujui untuk memberi dana talangan kepada BUMN sebesar Rp152 triliun.

Sementara para pelaku UMKM, jangankan untuk mendapat dana talangan dari pemerintah, untuk mendapatkan pinjaman modal dari perbankan harus melalui birokrasi yang berbelit dan rumit yang ujung ujungnya gagal untuk mendapatkan pinjaman.

Ketangguhan UMKM:

Padahal para pelaku UMKM telah diuji ketangguhannya di saat negara mengalami kerisis ekonomi disebabkan oleh sesuatu hal. Mulai dari situasi reformasi tahun 1998, sampai kepada masa pandemi Covid-19 dimana mewabahnya virus Corona yang penyebarannya cukup masif, setiap orang yang terpapar virus ini berujung kematian.

Pemerintah pun mengeluarkan berbagai peraturan. Mulai dari melakukan sosial distancing, disusul dengan physical distancing, sampai kepada imbauan di rumah saja dan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB), yang membuat prekonomian nasional mengalami mati suri.

Berbagai tempat tempat hiburan dan wisata yang dapat mendatangkan pundi pundi keuangan untuk negara ditutup, pusat-pusat perbelanjaan tempat orang-orang bertransaksi, juga terkena imbas penutupan. Pabrik pabrik industri rodanya tidak lagi berputar, buruh, dan karyawannya dirumahkan, bahkan banyak yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Transportasi umum tidak lagi bergerak untuk mendistribusikan barang barang industri. Namun para pelaku UMKM tetap menjalankan aktivitasnya.

Para tukang ojek online maupun pangkalan, para penarik becak, supir angkot tetap mengantar jeput penumpangnya. Para pedagang sayur mayur bakulan, penjual ikan eceran, pedagang kaki lima, dan pedagang keperluan sehari-hari masyarakat tetap mendistribusikan dagangannya, ada yang menggunakan sepeda motor, sepeda dayung sampai kepada yang menggunakan gerobak dan beca barang. Dari lorong ke lorong, dari rumah ke rumah, transaksi jual beli terus berjalan. Perputaran uang dari masyarakat ketangan para pelaku UMKM terus berputar.

Kendatipun dengan modal yang paspasan, di bawah ancaman Covid-19 para pelaku UMKM tetap beraktivitas, agar prekonomian nasional tidak mengalami kolaps. Karena prinsip pelaku UMKM, biar untung sedikit asal dapur mengepulkan asap.

Di samping untuk membantu masyarakat yang terdampak PSBB. Para pelaku UMKM bekerja dalam diam, tanpa membanggakan diri sebagai pahlawan ekonomi. Betapa tangguhnya para pelaku UMKM dalam menghadapi Covid-19 demi untuk tetap berputarnya roda prekonomian nasional.

Menguji terhadap ketangguhan para pelaku UMKM bukan hanya dalam menghadapi masa pandemi Covid-19 saja, tapi melainkan ketika negeri ini mengalami gonjang anjing diawal era reformasi tahun 1998, terjadinya kerusuhan masal, para pelaku bisnis kapitalis banyak yang obsodus keluar negeri. Perekonomian nasional mengalami kerisis, nyaris lumpuh ketitik nadir.

Para pelaku UMKM tetap menjalankan aktivitasnya, geliat prekonomian nasional masih terasa getarannya ditangan tangan para pelaku UMKM, tukang bakso, penjual jamu gendong tetap melayani konsumennya, penjual gorengan, pedagang kaki lima tetap menggelar dagangannya, dan para pelaku UMKM lainnya tetap beraktivitas demi untuk menghidupkan roda prekonomian nasional, agar tetap berputar.

Setelah situasi membaik, prekonomian nasional kembali bangkit, para pelaku bisnis kapitalis yang obsodus keluar negeri kembali pulang ke tanah air, dan kemudian berteriak-teriak sebagai pahlawan ekonomi, para pelaku UMKM pun tersisihkan.

Namun pun begitu mereka tidak menuntut banyak kepada pemerintah. Padahal merekalah sesungguhnya yang layak untuk mendapatkan julukan sebagai pahlawan ekonomi nasional.

Perlu Perhatian:

Indonesia bukan bangsa kuli, bukan bangsa tempe, bukan bangsa yang lembek, seperti yang disampaikan oleh Bung Karno, dan itu telah dibuktikan oleh para pelaku UMKM dalam menghadapi setiap terjadinya kerisis ekonomi nasional. Para pelaku UMKM bertekad untuk berdikari ditengah situasi ekonomi nasional yang tidak menguntungkan.

Di tengah masa pandemi Covid-19, UMKM adalah bidang usaha yang paling terdampak. Walaupun demikian mereka masih tetap tegar untuk menghadapinya. Pada hal UMKM menyerap 99% dari total tenaga kerja dan 94% dari total lapangan kerja. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), saat ini terdapat 64,2 juta unit UMKM dan memiliki konstribusi sebesar 60,3% dari total Produksi Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Oleh sebab itu, sudah saatnya pemerintah untuk memberikan perhatian khusus terhadap para pelaku UMKM ditanah air, setidaknya perhatian yang diberikan oleh pemerintah, dengan cara memberikan pinjaman lunak dari perbankan dengan kemudahan prosesnya.

Hal itu untuk menjaga agar sektor UMKM jangan sampai terganggu oleh keadaan pandemi Covid-19. Jika UMKM sampai terganggu maka dampak buruknya akan terasa bagi prekonomian nasional.

Jika sampai prekonomian nasional terganggu, maka akan banyak masyarakat kehilangan penghasilan. Belum lagi berdampak kepada jumlah tenaga kerja yang terkena PHK. Karena UMKM berjasa besar dalam menyerap tenaga kerja. Semoga!

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers