web analytics
  

Bonus Demografi, Mau Dibawa ke Mana Negara Kita?

Jumat, 26 Juni 2020 11:05 WIB Netizen Dindin Maeludin

[Ilustrasi] Bonus Demografi. (Pixabay)

Dindin Maeludin

Statistisi BPS Kabupaten Ciamis

AYOBANDUNG.COM -- Akhir-akhir ini kita sering mendengar yang namanya Bonus Demografi, baik itu dari media massa maupun dari beberapa konten internet. Dikutip dari UNFPA Bonus Demografi adalah potensi pertumbuhan ekonomi yang tercipta akibat perubahan struktur umur penduduk, yakni populasi usia kerja (15-65 tahun) lebih besar daripada proporsi bukan usia kerja (0-14 tahun dan >65 tahun).

Bahkan lebih jauh UNFPA menyatakan, suatu negara dapat menikmati bonus demografi ketika setiap orang menikmati kesehatan yang baik, pendidikan yang berkualitas, pekerjaan layak, dan kemandirian anak muda.

Kondisi tersebut dapat terjadi manakala suatu negara yang memiliki potensi jumlah penduduk tersebut juga memiliki kebijakan yang baik. Indonesia sendiri dinilai siap menghadapi bonus demografi hingga tahun 2036.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo telah mengadopsi konsep ini dalam kebijakan pembangunannya. Presiden Jokowi optimistis bahwa bonus demografi yang akan dicapai bangsa ini bisa menjadi bonus lompatan kemajuan bangsa (disampaikan pada pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia dalam rangka HUT RI ke 74 Tahun 2019 pada sidang bersama DPR RI dan DPD RI). Dikatakan bonus demografi karena setiap negara hanya akan memperoleh masa emas tersebut hanya satu kali saja.

Dilihat dari data BPS proyeksi penduduk tahun 2015-2045 hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015, jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 269,6 juta jiwa pada tahun 2020. Angka tersebut terdiri atas 135,34 jiwa laki-laki dan 134,27 jiwa perempuan. Jika dilihat dari kelompok umur posisi terkecil ada di kelompok umur 0-4 tahun (66,07 juta jiwa) disusul pada usia tidak produktif yaitu usia 65+ tahun (18,2 juta jiwa) dan terbesar berada pada usia 15-64 tahun (185,34 juta jiwa). Inilah yang akan negara kita alami yaitu “Bonus Demografi”.

Pada masa ini (dilihat dari data di atas), usia produktif lebih banyak sehingga angka ketergantungan (diharapkan) akan semakin kecil. Karena tingginya penduduk usia produktif akan mampu secara optimal berkontribusi dalam pembangunan negara ini.

Hal yang tidak kita harapkan adalah jangan sampai dari segi usia tergolong produktif namun dari segi kualitas rendah terutama dari segi karakter dan sikap, karena akan dikhawatirkan dengan kondisi demikian kita tidak akan mampu bersaing dengan bangsa lain dalam era perdagangan bebas seperti sekarang ini terlebih dengan adanya revolusi industri 4.0.

Untuk memulainya adalah membentuk karakter dari keluarga kita sendiri, karena secara tidak langsung merupakan subjek sekaligus objek dimana pada saat ini anak-anak kita sudah memasuki masa keemasaanya yang diharapkan dapat menjadi generasi untuk membangun Indonesia lebih maju dan bermartabat.

Namun bukan hal yang mudah untuk membentuk karakter anak-anak kita, meskipun dalam kesehariannya selalu berkumpul dengan keluarga dan tidak akan dihasilkan karakter secara instan atau melalui proses pendidikan secara formal.

Menurut praktisi pendidikan Prof Suyanto Ph.D, karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama dalam lingkup keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Jika dilihat dari pernyataan di atas, dibutuhkan peranan penting dalam pembentukan karakter dimulai dari keluarga karena merupakan elemen terkecil namun berpengaruh sangat besar dalam masa depan anak dan bisa diibaratkan orang tua merupakan guru yang akan mengajarkan nilai-nilai kebaikan, kemudian dari masyarakat kita sebagai orang tua harus bisa memfilter anak-anak kita dari pergaulan yang akan menjerumuskan kepada hal-hal yang tidak baik.

Dari proses inilah diharapkan akan menghasilkan generasi penerus yang berkualitas dan berkarakter. Bukan generasi yang mudah putus asa, namun generasi yang kita harapkan adalah generasi yang tangguh, yang tidak mudah menyerah dan penuh tanggung jawab dalam menjalani pilihan hidupnya.

Mari jadikan anak Indonesia menjadi generasi berkualitas yang berkarakter unggul penuh dengan nilai-nilai yang luhur, sesuai dengan apa yang dicita-cita para pemimpin dan pendahulu kita, sehingga negara Indonesia akan mampu bersaing bahkan tidak hanya menjadi negara berkembang tetapi masuk dalam jajaran negara maju…semoga!

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers