web analytics
  

Inilah Arca Dewa Siwa, Umurnya Lebih Tua dari Goa Sunyaragi

Rabu, 24 Juni 2020 13:43 WIB Erika Lia
Umum - Unik, Inilah Arca Dewa Siwa, Umurnya Lebih Tua dari Goa Sunyaragi, Gua Sunyaragi,Berita Cirebon Hari Ini,Berita Cirebon,Arca Dewa Siwa

Patung Kaji Sela di area Taman Goa Sunyaragi, Kota Cirebon, yang dulunya merupakan arca Dewa Siwa. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Seonggok batu di area Taman Goa Sunyaragi, Kota Cirebon, bisa jadi luput dari pengamatan. Padahal, kisah di baliknya melebihi tampilannya sekarang.

Batu yang terletak tak jauh dari Goa Pengawal di alun-alun Goa Sunyaragi itu berbentuk lonjong dengan lekukan di sejumlah bagian yang menjulang ke atas. Bagian bawahnya bulat dan tampak layaknya piringan tempat bertumpunya batu lonjong.

Di sampingnya sejumlah batu lain 'menemani'. Keberadaan batu berukuran sekitar 50 cm di area Goa Sunyaragi yang terbentuk sejak era Kesultanan Cirebon tersebut tampak wajar saja.

Namun, seperti halnya destinasi wisata yang menyimpan sejarah, batu itu pun rupanya memiliki kisah. Tak sekadar bentuk fisiknya, batu tersebut konon sudah ada sebelum Goa Sunyaragi berdiri.

Dikenal dengan sebutan Kaji Sela, patung itu diketahui sebelumnya merupakan arca Dewa Siwa. Sayang, bagian wajah patung itu tak lagi nampak dan hanya menyisakan bagian tubuhnya.

"Bagian wajahnya hilang karena kuncen (juru kunci) yang lama membersihkan patung dengan sikat kawat. Tujuannya memang baik, hanya tidak tahu saja dampaknya," ungkap pengelola Taman Goa Sunyaragi yang ditunjuk Keraton Kasepuhan Cirebon, Jajat Sudrajat.

Hal lain yang hilang dari patung tersebut berupa tongkat pusaka yang sebelumnya tergenggam pada tangan patung. Tongkat itu hilang diduga diambil orang tak bertanggung jawab.

Menurut Jajat, patung tersebut sudah ada sejak sekitar abad ke-7 Masehi di masa Kerajaan Indraprahasta, jauh sebelum Goa Sunyaragi berdiri pada sekitar 1.500.

Kala area yang kini menjadi destinasi wisata unggulan Kota Cirebon itu masih berupa hutan, umat Hindu di masa Kerajaan Indraprahasta menjadikannya lokasi ritual mandi suci.

"Dalam ritual itu, mereka melakukan persembahan kepada Dewa Siwa," ujarnya.

Manakala Cirebon terbentuk, lanjutnya, Kesultanan Cirebon menjadikan area Taman Goa Sunyaragi sebagai tempat bersuci atau panyepi ing raga. Arca Dewa Siwa yang ada di area itu pun dijadikan sebagai patokan lokasi.

Mengingat ketika itu ajaran Islam telah menyebar di Tanah Caruban (Cirebon), nama baru disematkan atas arca tersebut, Kaji Sela. Jajat menerangkan, nama itu berarti menguatkan iman, layaknya batu.

Dalam konteks ini, kekuatan iman dimaksud berupa upaya untuk menyempurnakan ibadah, salah satunya haji. Ibadah ini membutuhkan kekuatan fisik dan mental.

Meski luput dari atensi, batu Kaji Sela kerap didatangi warga sekitar yang hendak menggelar hajatan, seperti pernikahan, khitanan, syukuran, dan lainnya.

"(Tradisi mendatangi patung Kaji Sela) sudah lama sih, ritual turun temurun dari leluhur," cetusnya.

Namun, dia meyakinkan, ritual yang dilakukan warga lebih sebagai penghormatan terhadap warisan budaya leluhur. Tak ada sesaji yang dipersembahkan di hadapan batu itu yang menandai kemusyrikan.

"Ritualnya masih menggunakan cara Islami," tandasnya.

Editor: Adi Ginanjar Maulana
dewanpers