web analytics
  

Terdampak Covid-19, Gojek Susul Grab Umumkan PHK Karyawan

Rabu, 24 Juni 2020 11:18 WIB

Ilustrasi (Ayobandung.com)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Pandemi Covid-19 berdampak berat ke perekonomian dalam negeri. Dampak ekonomi Covid-19 di Tanah Air pun akhirnya merambah ke bisnis perusahaan transportasi berbasis aplikasi yang berkembang menjadi multi layanan yaitu Gojek. 

Perusahaan yang didirikan Mendikbud Nadiem Makarim itu membenarkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 430 karyawan atau 9% dari total karyawan.

Sebagian besar karyawan yang harus meninggalkan Gojek tersebut berasal dari divisi yang terkait dengan GoLife dan GoFood Festival. PHK adalah bagian dari evaluasi terhadap struktur perusahaan secara keseluruhan di tengah situasi pandemi Covid-19.

"Kami telah melakukan berbagai langkah untuk mengoptimalkan perusahaan supaya dapat terus tumbuh dan memiliki dampak. Namun kami sangat naif karena berpikir bahwa pertumbuhan akan terus terjadi," ujar Co-CEO Gojek Andre Soelistyo dalam email kepada karyawan Gojek, yang dikutip Antara, Selasa (23/6/2020).

"Kami tidak cukup mengantisipasi adanya penurunan yang tidak dapat dihindari seperti pandemi yang terjadi saat ini, dan sekarang kami membayar untuk itu," dia melanjutkan. Karyawan Gojek yang terdampak dengan keputusan ini akan mendapat benefit termasuk pesangon di atas standar yang ditetapkan pemerintah.

Untuk pasangon, karyawan yang terdampak akan menerima pesangon (ditetapkan minimum gaji empat pekan) ditambah tambahan empat pekan gaji untuk setiap tahun lamanya bekerja.

Selanjutnya, Gojek tidak mewajibkan karyawan yang terdampak untuk bekerja saat sudah memasuki periode pemberitahuan. Tujuannya agar karyawan dapat fokus memikirkan mengenai rencana mereka di masa mendatang. Namun, Gojek tetap akan membayar gaji mereka secara penuh.

Masa tunggu (annual cliff) bagi karyawan yang memiliki hak kepemilikan saham akan dihapus, sehingga karyawan yang meninggalkan Gojek dapat memiliki saham di perusahaan yang telah mereka bangun.

Gojek akan membayarkan cuti tahunan yang tidak digunakan, selain juga hak-hak lainnya termasuk cuti melahirkan. Gojek juga akan memperpanjang skema asuransi kesehatan bagi karyawan yang terdampak dan juga bagi keluarga mereka, hingga 31 Desember 2020. Karyawan juga dapat tetap memiliki laptop mereka untuk membantu mencari peluang lain.

Selain itu, Gojek juga memperpanjang masa dukungan program layanan kesehatan mental, finansial, dan konsultasi lainnya selama tiga bulan ke depan. Gojek juga memberikan program outplacement yang akan membantu untuk mencari pekerjaan.

Pemangkasan 430 karyawan Gojek tersebut menyusul dihentikannya layanan GoLife yang meliputi layanan GoMassage dan GoClean, serta GoFood Festival yang merupakan jaringan pujasera GoFood di sejumlah lokasi. Andre memastikan bahwa keputusan pengurangan karyawan tersebut merupakan satu-satunya yang dilakukan Gojek di tengah situasi pandemi Covid-19.

"Fokus kami pada bisnis inti adalah untuk memastikan pertumbuhan Gojek secara berkesinambungan dan mampu bertahan di tengah pandemi ini yang kita tidak tahu kapan berakhir. Gojek berupaya menjaga ekosistem secara keseluruhan agar tetap mampu memberikan dampak sosial secara luas kepada sekitar 2 juta mitra dan 500.000 UMKM," ujar Co-CEO Gojek, Kevin Aluwi dan Andre Soelistyo, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (24/6).

Kedua Co-CEO mengungkapkan layanan bisnis inti yaitu transportasi online (GoRide dan GoCar), lalu pesan-antar makanan dan kebutuhan pokok (GoFood), serta dompet digital (GoPay) sangat dibutuhkan oleh masyarakat di tengah pandemi. Menyusul strategi yang diumumkan ini, Gojek akan mengkonsentrasikan sebagian besar sumber daya untuk mendukung bisnis inti.

Di samping bisnis inti tersebut, bisnis lain yang tumbuh di tengah pandemi adalah layanan logistik GoSend dengan peningkatan permintaan mencapai 80 persen sejak diberlakukannya PSBB di sejumlah daerah. Begitu juga dengan transaksi belanja kebutuhan sehari-hari di GoFood yang naik dua kali lipat.

"Sejumlah layanan lainnya juga masih memiliki peluang untuk lebih berkembang misalnya layanan di bidang kesehatan yang bekerja sama dengan Halodoc," kata Kevin Aluwi dan Andre Sulistyo.

Adapun pandemi global Covid-19 mengubah perilaku masyarakat yang kini lebih mengedepankan jaga jarak (physical distancing). Berbagai penyesuaian bisnis telah dilaksanakan oleh Gojek guna mengakomodir kebiasaan baru pelanggan sejak adanya pandemi.

Perusahaan tersebut bekerja sama erat dengan mitra merchant untuk mengakomodasi adanya perubahan pada permintaan, membantu merchant yang sebelumnya hanya menjajakan produk secara offline menjadi bisa bermigrasi ke online dengan cepat, dan mengimplementasikan berbagai inisiatif guna mendukung mata pencaharian mitra driver.

Gojek telah bertumbuh secara eksponensial sejak pertama meluncur tahun 2015. Kini Gojek memiliki lebih dari 170 juta pengguna di Indonesia dan seluruh Asia Tenggara.

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Rizma Riyandi

artikel lainnya

dewanpers