web analytics
  

Arab Saudi Buka Ibadah Haji 2020, Jumlah Jemaah Kurang dari 1.000

Rabu, 24 Juni 2020 09:11 WIB Republika.co.id

Makkah. (ramy ajej/Pixabay )

JEDDAH, AYOBANDUNG.COM -- Kerajaan Arab Saudi memutuskan membuka pelaksanaan ibadah haji 1441 H atau 2020 dengan jumlah jemaah kurang dari 1.000 orang.

"Jumlah jemaah haji dibatasi hingga kurang dari 1.000 untuk melindungi kesehatan masyarakat dari virus corona," ujar Menteri Kesehatan Saudi Tawfiq Al-Rabiah dalam konferensi persnya yang dilansir Arab News pada Rabu (24/6/2020).

Al-Rabiah menuturkan, jemaah yang akan melaksanakan haji akan diisolasi terlebih dahulu. Begitu juga setelah selesai melakukan ibadah haji mereka akan dikarantina terlebih dahulu.

"Kementerian Kesehatan telah memiliki pengalaman dalam memberikan pelayanan kepada para jemaah haji, termasuk SDM dan teknis yang cukup untuk melayani para jemaah dan menjaga kesehatan mereka," kata Al-Rabiah.

Selain itu, pihaknya telah menyediakan rumah sakit terpadu di tempat-tempat suci termasuk membuka pusat kesehatan di Arafat. Hal ini dilakukan untuk menangani kondisi darurat apabila terjadi selama haji. Petugas medis akan terus berjaga dan turut mengawasi para jemaah sepanjang perjalanan mereka.

Selain itu, mengenai kriteria 1.000 jemaah pemukim yang diizinkan haji harus mereka yang berusia di bawah 65 tahun serta tidak memiliki penyakit kronis. "Mereka akan dites sebelum tiba di tempat-tempat suci dan akan menjalani isolasi diri setelah melakukan haji," tuturnya.

Bukan hanya jemaah, petugas yang melayani jemaah selama haji juga akan dites. Sebelum munculnya pengumuman haji terbatas ini, banyak negara-negara di Asia Timur memutuskan untuk menanguhkan ibadah haji 2020.

Menteri Haji dan Umrah Saudi Mohammed Saleh Bentin mengatakan, pembatasan jemaah haji dilakukan untuk melindungi kesehatan mereka selama melakukan ibadah haji. Karena sejak awal, prioritas kerajaan adalah melindungi kesehatan masyarakat sehingga ibadah umrah telah dihentikan sejak jauh-jauh hari pada saat virus mulai menyebar.

Sedangkan keputusan tetap melangsungkan ibadah haji dengan pembatasan jumlah jemaah dilakukan berdasarkan prinsip Kerajaan dan pengalaman masa lalu dalam mengelola haji.

"Ini adalah proses yang sulit dan kami bekerja dengan para ahli di kementerian kesehatan, kementerian dalam negeri, dan pihak berwenang lainnya untuk memastikan pelaksanaan haji akan aman," kata Bentin.

Bentin menambahkan, kementerian haji akan bekerja sama dengan para diplomat di Kerajaan untuk menentukan jumlah penduduk non-Saudi yang memenuhi syarat untuk bisa haji. Selain itu, dia menegaskan, tidak akan ada jemaah dari luar negeri yang dapat masuk menyusup ke Saudi untuk melaksanakan haji.

“Kami sadar akan bahaya virus ini. Negara-negara di seluruh dunia telah menutup perbatasan negara mereka. Karena itu, tidak ada pengecualian yang akan dibuat,” katanya.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers