web analytics
  

Mengkaji Manfaat Bila Industri Furnitur dan Kerajinan Dibantu

Selasa, 23 Juni 2020 14:11 WIB Netizen Sjarifuddin Hamid

Ilustrasi. (Graham Hobster/Pixabay )

Sjarifuddin Hamid

Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

AYOBANDUNG.COM -- Nilai ekspor barang Furnitur dan kerajinan pada tahun lalu mencapai US$1,95 miliar. Angka setinggi itu kemungkinan besar tidak tercapai pada tahun 2020 sebab wabah Covid-19 secara efektif menghentikan industri barang Furnitur dan kerajinan. Pasok bahan mentah terhenti dan tak ada permintaan dari buyers luar negeri.

Ketua Umum HIMKI Ir Soenoto beberapa waktu lalu menyatakan, sejak April 2020 sektor Furnitur dan kerajinan sudah memberhentikan 280 ribu pekerja dari total dua juta karyawan di sektor industri Furnitur dan kerajinan. “Jumlah yang diberhentikan akan bertambah bila tak ada pertolongan dari pemerintah.”

Menurut Kementerian Perindustrian, selain industri mebel dan kerajinan, yang memberi kontribusi 1,98 persen terhadap Produk Domestik Bruto, ada sembilan industri lagi yang terpukul wabah Corona atau Covid-19. Misalnya, industri logam yang memiliki kontribusi ke PDB sebesar 4,17 persen. Industri peralatan listrik dan kabel (2,7 persen). Industri semen, keramik, dan kaca (3,35 persen). Industri elektronika dan peralatan telekomunikasi (2,56 persen). Industri otomotif (5,3 persen). Industri karet (3,16 persen). Industri alat berat ( 1,69 persen). Industri pesawat terbang, kereta api, dan galangan kapal (3,98 persen). Industri tekstil 1,78 persen.

Dukungan Pemerintah

Pemerintah telah mempersiapkan berbagai skema bantuan untuk menolong industri-industri terdampak wabah Corona. Di antaranya dengan mengurangi tingkat sukubunga pinjaman atau memperpanjang masa pembayaran. Juga mengeluarkan kebijaksanaan baru terkait belanja barang, ujar Ketua DPP HIMKI Beny Soetrisno.

Persoalannya, apakah dukungan serupa itu memadai? Jawabannya adalah tidak cukup sebab setiap industri memiliki karakteristik sendiri. Jadi apakah hambatan yang tersisa itu harus ditangani manajemen industri yang bersangkutan?

Ada baiknya bila pemerintah dan kalangan asosiasi rajin berembug untuk saling bertukar informasi dan akhirnya menemukan pemberian kemudahan yang lebih luas. Bukankah saat ini merupakan waktu yang tepat untuk berbenah guna menghadapi kebangkitan?

Sebagian hambatan itu, yang mengurangi daya saing, ada di pemerintah pusat dan daerah. Minimal boleh jadi hambatan kelembagaan tidak ada,tetapi bagaimana dengan hambatan yang merupakan kreasi pribadi atas nama lembaga?

Sejumlah negara, seperti Taiwan, mengatasi sekalian hambatan itu dengan membuat kawasan ekonomi khusus. Kebijaksanaan yang mulanya ditentang pemerintah daerah, tetapi ternyata menyebabkan penyerapan tenaga kerja, meningkatkan permintaan atas sektor konsumsi, transportasi, perumahan dan sebagainya. Masyarakat memperoleh manfaat langsung, sedang pemerintah di posisi paling akhir dalam bentuk pajak.

Spesifik  

Walaupun kontribusi sektor industri barang Furnitur dan kerajinan hanya 1,98 persen terhadap PDB, tetapi layak segera memperoleh pertolongan. Bukannya hanya pada aspek pinjaman.

Sekjen HIMKI Abdul Sobur menyatakan industri barang Furnitur dan kerajinan pada umumnya diekspor, tetapi belakangan ini terhenti karena kondisi ekonomi buyers juga terdampak Covid-19. Kondisi ini menyebabkan pembatalan pesan atau penundaan pembelian.

Kebijaksanaan pengurangan pembayaran pinjaman membantu memperbaiki cashflow, tetapi perlu pula dukungan dalam mengatasi dampak seperti di atas, lanjutnya.

Kultur

China, Taiwan, Malaysia dan Vietnam merupakan pesaing bahkan mampu menghasilkan nilai ekspor yang lebih besar dibandingkan dengan Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah unggul dalam bidang promosi ke luar negeri maupun terhadap wisatawan yang datang ke dalam negerinya. Jadi ada promosi terpadu.

Sebenarnya produk buatan Indonesia juga disukai karena mempunyai kekhasan dalam bahan baku. Lebih dari itu disain dan pembuatannya sudah merupakan bagian dari budaya Indonesia.

Dalam persaingan produk, unsur budaya merupakan salah satu pendukung keberhasilan menarik pembeli. Ia menciptakan diferensiasi dibandingkan dengan produk negara lain.

Secara politis, Indonesia juga tidak memiliki masalah dengan negara-negara asal buyers sebab Indonesia politik luar negeri bebas-aktif. Masyarakatnya pun bersahabat.

Potensi meningkatkan nilai ekspor masih besar dan itu dimungkinkan bila industri Furnitur dan kerajinan mendapat bantuan yang lebih besar. Sepertinya bantuan itu tidak perlu sampai triliunan, tetapi dampaknya akan sangat besar bagi karyawan.

Bantuan akan meningkatkan daya beli karyawan terhadap kebutuhan hidup. Pada gilirannya perekonomian di kota-kota kecil dan pedesaan bergerak, berkat percepatan perputaran uang (velocity of money) yang berawal dari gaji jutaan karyawan industri barang dan Furnitur.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel lainnya

dewanpers