web analytics
  

Menilik Eksistensi Perkebunan Kina di Jawa Barat

Sabtu, 20 Juni 2020 19:40 WIB Netizen Lia Sukriati

Perkebunan kina di Bukit Tunggul (Ayobandung.com)

Lia Sukriati

Ibu rumah tangga minat menulis, tinggal di Cilengkrang Kabupaten Bandung.

AYOBANDUNG.COM--Bandung sudah dikenal di kalangan rakyat Indonesia sebagai salah satu pemasok kina terbesar di Jawa Barat khususnya, semenjak penjajahan Belanda beratus-ratus tahun yang lalu.

Iklim Bandung yang lembap dan kering menjadi tempat yang subur untuk tanaman yang berasal dari Amerika Selatan ini.

Tanaman kina yang bernama ilmiah "chinconna" ini, sejak dulu sudah dikenal sebagai obat untuk menyembuhkan  penyakit malaria. 

Kina bekerja untuk membunuh parasit-parasit yang tumbuh di perut nyamuk anopheles betina. Nyamuk ini menyebarkan parasit-parasit yang menetap di perut nyamuk anopheles betina, dan disebarkan melalui gigitan ke tubuh manusia, sebelum akhirnya terinfeksi dan menjadi malaria.

Di Kabupaten Bandung sendiri, ada terdapat 1.000 hektare kina yang dikelola seluruhnya oleh PTPN. Dari 1.000 hektare ini, sebanyak 750 hektare di antaranya terdapat di Bandung bagian utara. 

Dalam masa perkembangannya, kina mengalami primadona di masanya. Di mana kina menjadi komoditi utama dalam industri farmasi dan obat-obatan. Namun karena masa panennya yang cenderung lama, antara 7-8 tahun sejak penanaman, menjadikan popularitasnya  tergeser oleh tanaman lain,semisal tanaman teh yang bisa dipanen lebih cepat dari tanaman kina sendiri.

Ini pula yang menjadi tantangan bagi PTPN dan BUMN yang menaunginya, apakah akan terus mempertahankan Perkebunan kina ini atau mempersempit lahan tanamnya dan digantikan oleh tanaman teh yang lebih menjanjikan. 

Hal ini bisa dilihat dari lahan kina yang semakin hari semakin menyempit, tergantikan oleh perkebunan teh yang membentang sepanjang Bandung bagian barat. Hanya lahan kina yang berada di Bandung bagian utara saja yang masih mempertahankan pengelolaan.

Kina sendiri, hanya bisa ditanam dengan ketinggian 1.000 mdpl, dengan ketinggian pohon  bisa mencapai 5-15 meter. Di masa pandemi Corona seperti saat ini, terutama pada awal-awal penyebarannya. Kina pernah disinyalir sebagai obat alternatif untuk mengobati virus Corona.  

Bersanding dengan chloroquin yang telah terlebih dulu disebut-sebut sebagai obat ampuh untuk mengobati pasien yang terjangkit Covid-19.

Selain kina, chloroquin juga terkenal sebagai obat untuk mengobati malaria. Walaupun lebih sering digunakan sebagai auto-imun bagi penderita lupus. Selain itu selama beberapa tahun, para ahli melakukan penelitian terhadap obat ini. Di antaranya untuk mengobati penyakit-penyakit yang lainnya.aka kemudian, mereka berpendapat bahwa chloroquin itu sendiri bisa digunakan sebagai antivirus, diantaranya pada kasus coronna virus. 

Namun, sejauh ini belum ada pernyataan secara resmi dari WHO, sebagai organisasi dunia yang bertanggung jawab dalam masalah kesehatan dunia yang melegalkan chloroquin ataupun kina sebagai obat dalam penyembuhan covid 19.

Terlepas dari itu semua, kita berharap Perkebunan kina dan proses  produksinya di Indonesia, khususnya di Jawa Barat bisa mempertahankan eksistensinya sebagai komoditi terbesar dalam bidang farmasi.

Memang ada banyak lagi yang harus diperhatikan untuk mewujudkan itu semua, di antaranya dana atau biaya yang harus dikeluarkan untuk  perawatannnya, ataupun kesejahteraan para pekerjanya, sehingga mereka tidak merasa pesimistis tentang prospek kina di masa mendatang.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com
dewanpers