web analytics
  

Kisah Pilu Bung Karno Mendekam di Penjara Banceuy Bandung

Jumat, 19 Juni 2020 14:51 WIB Nur Khansa Ranawati

Penjara Soekarno di Jalan Banceuy. (Ayobandung.com/Nur Khansa Ranawati)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Di tengah ingar-bingar Jalan Braga dan Asia Arfrika Kota Bandung, terdapat situs sejarah yang lokasinya cukup terpencil. 

Letaknya berada di belakang gedung perkantoran dan pertokoan Kompleks Banceuy Permai, Jalan Banceuy.

Situs tersebut tak lain merupakan monumen Penjara Banceuy yang sempat menjadi saksi sejarah penahanan proklamator Indonesia, I. Soekarno dan kedua rekannya, Gatot Mangkuprdja, dan Maskun Sumadirejaselama kurang lebih 7 bulan. 

Mereka ditahan akibat aktivitas di Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dinilai mengancam stabilitas pemerintahan Hindia Belanda.

Mereka menghabiskan waktu-waktu yang menyesakan dengan fasilitas minim di dalam kamar sel yang tidak lebih besar dari 2x1,5 meter. 

Seperti "Peti Mati", demikian Soekarno mendeskripsikan sel yang dihuninya di penjara Banceuy pada Cindy Adams, penulis biografi berjudul "Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia".

Saat ini, sel nomor 5 yang dihuni Soekarno dapat dikunjungi warga. Di dalam area situas tersebut juga dibangun patung Soekarno bercat emas yang tengah memegang buku, serta rangkuman perjalanan Soekarno juga kedua rekannya di penjara tersebut.

Menempati "Penjara Sangar"

Berdasarka penuturan Her Suganda dalam bukunya Jejak Soekarno di Bandung (2015), kiah ketiganya hingga dapat menghuni penjara tersebut bermula pada suatu subuh di bulan Desember 1929. 

Kala itu, ketiganya tengah berada di Yogyakarta untuk melakukan kampanye politik Partai Nasional Indonesia (PNI) bersama para penggerak partai tersebut.

Para petugas penjemputan paksa pemerintah Hindia Belanda kemudian 'menculik' Soekarno dan kedua rekannya untuk naik kereta di pagi buta dengan gerbong tertutup tanpa celah. 

Hal tersebut menyusul terbitnya telegram rahasia pemerintah Hindia Belanda yang memerintahkan penangkapan terhadap para aktivitas organisasi pergerakan.

Hingga akhirnya sampailah ketiganya di Stasiun Cicalengka. Dengan menggunakan mobil, Soekarno, Gatot, dan Maskun dibawa berkendara hingga tiba di penjara Banceuy dalam keadaan lunglai.

Penjara tersebut dibangun pemerintah kolonial Belanda pada 1887 di daerah yang dulunya bernama Kampung Banceuy. 

Sebagai penjara paling tua, penjara Banceuy juga dikenal paling sangar karena kerap digunakan untuk menahan para pelaku kriminal seperti rampok, begal atau maling.

Ketika sampai, mereka disambut sang direktur penjara yang telah menempatkan satu regu tentara KNIL atau Tentara Hindia Belanda bersenjata lengkap dipimpin oleh seorang sersan. 

Saat itu, penjara Banceuy teah dipenuhi para penggerak dan pengikut PNI yang turut ditangkap dalam razia besar-besaran.

Di antaranya adalah Marwoto, Suka, Subagio hingga Mr Ishaq Tjokrohadisurjo. Karena situasi semakin ramai, maka Soekarno dan kedua rekannya yang ditangkap di Yogyakarta dipindahkan ke dalam satu bangunan.

Di sana, sel mereka bersebelahan. Soekarno menempati sel nomor 5, Gatot nomor 7, sementara Maskun di sel 9. Pintunya terbuat dari besi tebal, dan di dalamnya hanya terdapat tempat tidur lipat dari besi beralaskan jerami yang dilapisi tikar.

"Tidak ada perlengkapan lainnya keculi temat minum yang terbuat dari kaleng. Selain itu, ada pula kaleng segi empat untuk buang air besar dan kecil yang harus dibersihkan setiap pagi," tulis Her Suganda.

Kepada Cindy Adams, Soekarno mendeksripsikan betapa situasi sel tersebut membuat dirinya tertekan.

"Aku adalah seorang yang biasa rapi dam pemilih. Aku adalah seorang yang suka memuaskan perasaa, menyukai pakaian bagus, makanam enak, mencintai sesuatu dan tidak dapat menahankan pengasingan kekotoran kekakuan dan penghinaan-penghinaan keji yang tidak terhitung banyakya dari kehidupan tawanan," ungkap Soekarno dalam biografinya.

"Berkawan" dengan Cicak dan Curi-curi Baca Koran

Di dalam sel tersebut, Soekarno dan para tahanan lainnya dilarang keras membaca surat kabar dan melakukan hal-hal lainnya. Keadaan yang sepi dengan sel yang kosong membuat Soekarno akhirnya kerap memerhatikan dan memberi makan cicak-cicak.

"Makanan kami diantarkan ke sel. Jadi apabila cicak-cicakku berkumpul, aku pun memberinya makan. Kuulurkan sebutir nasi dan menantikan seekor cicak kecil merangkak dari atas loteng," tutur Soekarno dalam biografinya.

"Tentu ia akan merangkak turun di dinding, mengintip kepadaku dengan mata seperti butiran mutiara, kemudian melompat dan memungut nasi itu, lalu lari lagi,” ungkapnya.

Lama kelaamaan, salah satu sipir penjara tersebut merasa iba dan memperkankan Soekarno untuk membaca surat kabar di malam hari. Ia kerap membaca surat kabar AID de Prianganbode dan Sipatahoenan, surat kabar pimpinan Otto Iskandar Dinata yang rutin memberitakan perkembangan PNI.

Setelah selesai membaca, Seokarno mengoper surat kabar tersebut kepada para kawannya. Mereka kemudian saling estafet membaca koran dengan memanfaatkan seutas benang lewat celah di antara daun pintu dan dinding sel.

Bila akan dipindahkan, Seokarno akan mengetuk-ketuk dinding tembok yang bersebelahan dengan sel Maskun. Nantinya, Maskun akan menarik perlahan ujung benang yang ada di selnya.

Hal ini terus berlanjut hingga surat kabar tiba di sel nomor 11 yang dihuni Suriadinata, anak muda propagandis PNI yang tertangkap di Cianjur. Situasi ini terus berlanjut hingga pengawasan berangsur melonggar di masa-masa terakhir penahanan mereka.

Di penghujung masa tahanan mereka, Soekarno diam-diam menyusun naskah pledoi untuk dibacakan di persidangan di Gedung Landraad Bandung. Naskah legendaris tersebut dikenal dengan sebutan "Indonesia Menggugat".

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel lainnya

dewanpers