web analytics
  

Bandar Narkoba Menarget Anak-anak Kita

Jumat, 19 Juni 2020 09:40 WIB Netizen Djasepudin

Ilustrasi narkoba (Pixabay)

Djasepudin

Guru (Honorer) SMA Negeri 1 Cibinong, Bogor

AYOBANDUNG.COM -- Nyata terguncang dan tak percaya artis AB 3 Widi Mulya menghadapi kenyataan suaminya, aktor Dwi Sasono tertangkap menyalahgunakan narkoba atau napza.

Fakta baru terungkap, Dwi Sasono sudah jadi pecandu barang haram sejak masih remaja. Yaitu saat masih SMA. Widi saja terpukul jiwanya, bagaimana jika narkoba dikonsumsi keluarga kita? Anak-anak kita?

Keterlibatan sejumlah selibritas menggunakan napza tentu semua orang tahu. Dari mulai aktris Zarina, komedian Gogon daj Tesy, hingga aktor Roy Marten. Pun yang dilakukan sejumlah oknum pejabat eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Mereka mengonsumsi jenis magadon, rohypnol, dumolid, lexotan, pil koplo, BK, LSD, dan mushroom.

Saya percaya, para pemakai itu tahu bahaya narkotika, psikotropika, dan zat-zat adiktif (napza). Namun, mengapa kasus yang sama terus terulang. Satu yang pasti, disadari atau tidak, tindakan ceroboh itu pada hakikatnya merugikan publik tanah air. Terlebih bagi para remaja dan anak-anak.

Cobalah mengerti, selibritas adalah pesohor yang segala ucapan, usilan, tulisan, dan perilaku keseharian lainnya kerap diiukuti para pengagumnya. Para pengagum rela mati-matian takzim dan taklid mengekor dan melakukan sesuatu yang dicontohkan para pesohor tersebut.

Apalagi kondisi kejiwaan anak-anak itu masih labil. Mereka mudah tergoyah dan terpengaruh akan segala sesuatu yang dianggap baru. Dengan kata lain anak-anak kita belum memiliki saringan yang kuat dalam memilih dan memilah sesuatu yang dianggap benar atau salah.

Di sinilah dibutuhkan perhatian yang lebih dari para orang tua, guru, dan pemuka agama. Jelaskan kepada anak-anak kita tentang napza.

Ungkapkan bahaya napza jika disalahgunakan. Beberkan sejumlah dampak negatif penggunaan napza seperti yang terjadi pada sejumlah selibritas, atlet, atau politikus.

Tentu saja cara menyampaikannya dengan metode yang santai nan menyenangkan. Melakukan penyampaian yang otoriter dan sok tegas bisa kontra produktif. Dalam hal ini selain mengetahui kondisi kejiwaan anak kita pun mesti mengkuti perkembangan terkini dunia termasuk ihwal teknologi.

Khusus penanganan bagi anak-anak setingkat SMA/SMK para guru pun patut bekerjasama dengan aparat pemerintah setempat. Terutama dengan para Ketua Rukun Tetangga (RT). 

Sebab anak-anak SMA saat ini lebih 'pintar' dalam mengakali aturan dan pengawasan. Di antaranya, beberapa tahun belakangan ini di Kota/Kabupaten Bogor anak-anak SMA dalam sejumlah kelompok sengaja menyewa rumah.

Rumah itu dijadikan 'markas' pada siang hari. Mereka kerap bolos dan bermain di rumah sewaannya. Bahkan saat jam pulang sekolah pun tidak langsung ke rumah masing-masing tapi lebih dahulu singgah dan berkumpul di rumah sewaannya.

Rasanya baik-baik saja jika rumah sewaan itu dijadikan pusat belajar non-sekolah. Namun berdasarkan pemantauan beberapa guru dan laporan masyarakat rumah sewa itu lebih sering digunakan tempat main PS, game online, permainan kartu, dan aneka kenakalan remaja lainnya.

Satu yang menjadi kekhawatiran rumah sewa itu mungkin dijadikan tempat mengonsumsi napza. Sebab rumah itu jauh dari pemantauan guru dan orang tua. Mereka merasa aman dan nyaman.

Kasus yang menimpah Dwi Sasono dan kawan-kawan bukan tidak mungkin jadi penegas atau dijadikan cermin bagi anak-anak kita untuk melakukan tindakan yang nyaris sama dengan perberbedaan cara. Itulah salah satu tugas utama para guru dan orang tua dalam melindungi nasib anak-anak bangsa dari ancaman narkotika.   

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Redaksi AyoBandung.Com

artikel lainnya

dewanpers