web analytics
  

Penghunian Cekungan Bandung, Sejak Megalitik hingga Pemerintahan Kolonial

Jumat, 19 Juni 2020 09:35 WIB Netizen T Bachtiar

Asal ibu kota Kabupaten Bandung di Karapyak, di pusat gelung meander Ci Tarum (A), yang sekarang namanya menjadi Dayeuhkolot. ((Dok. T Bachtiar))

T Bachtiar

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

AYOBANDUNG.COM -- Angin sejuk berhembus di bentangan alam yang hijau, pedataran yang dibentengi oleh rangkaian gunung-gunung. Pesona alam dan kesejukan kawasannya diabadikan dalam nama Gunung Wayang dan Gunung Windu.

Wayang berasal dari kata wa yang berarti angin, dan hyang berarti dewata. Di belantara Gunung Windu, kesejukan udara berubah menjadi tetes embun (windu). Toponim dua gunung ini menandakan bahwa pesona bentang alam di kawasan itu sejuk dan indah mempesona, membuat kagum siapa saja yang melihatnya.

Pesona bentang alam itu telah memicu religiusitas warganya, menjadikan puncak-puncak gunung yang selalu berselimut kabut sebagai tempat suci untuk menghaturkan rasa terima kasih atas keberkahan alam, dan memanjatkan permohonkan doa dan harapan untuk keselamatan seluruh warganya.

Di kaki gunung, di sumber mata air, menjadi tempat bersuci sebelum melakukan lakupuja di sana, seperti di mataair Cisanti, yang suci dan menyucikan.

Di bawah pepohon yang berlumut di belantara Gunung Wayang, ada seorang warga yang berbaju rapi dengan ikat kepala dari kain batik, duduk khusu di dekat arca batu, yang diabadikan dalam foto, terdapat dalam buku Nyi Anah, Beschrijving van Pengalengan en Omstreken, kemungkinan terbit tahun 1930 atau 1931.

Buku guguritan untuk mamaos Cianjuran ini menceritakan pesona bentang alam, perkebunan teh, dan tempat-tempat wisata yang indah dan resik di Pangalengan dan sekitarnya, termasuk cerita Gunung Wayang, yang menurutnya digubah dari cerita bujangga kuna, yang diturunkan secara lisan dan menyebar di masyarakat.

Adanya situs peninggalan masa lalu di Gunung Wayang, dan berita serta hasil-hasil penelitian kepurbakalaan di Jawa Barat lainnya, kemudian disusun oleh Dr NJ Krom pada tahun 1914, yang kemudian diterjemahkan oleh Drs Budiaman dan Drs Atja pada tahun 1970-1971, menjadi Laporan Kepurbakalaan Jawa Barat 1914.

Dalam laporan itu dituliskan, bahwa di atas puncak Gunung Wayang terdapat beberapa arca dari batu padas yang pengerjaannya kasar, juga terdapat 40 arca. Dalam salah satu kuburan terdapat pecahan-pecahan tembikar, kapak batu, dan tulang-tulang.

Gunung Wayang sudah menjadi tempat ziarah, seperti pernah dilakukan oleh tohaan dari Pajajaran, Bujangga Manik, dalam perjalanan ziarahnya menyusuri Tanah Jawa, (J Noorduyn dan A Teeuw, 2009). Bujangga Manik menulis: …

Kusebrangi Ci Carengcang,
Aku menyebrangi Ci Santi,
Mendaki ke Gunung Wayang
….

Dari laporan NJ Krom menyiratkan, bahwa jauh sebelum kedatangan periode raja-raja, di pinggiran Cekungan Bandung dan di puncak-puncak gunung yang mengelilingi Cekungan Bandung itu sudah berpenghuni, sudah mempunyai alat untuk melangsungkan kehidupannya.

Temuan terbaru, di dalam Guha Pawon, ditemukan perkakas manusia prasejarah yang terbuat dari beragam bahan, dari batu adesit yang lonjong, perkakas dari tulang binatang besar, kulit keras kemiri, perkakas kecil-kecil dari batu obsidian dan arang kayu. Lutfi Yondri (dalam Budi Brahmantyo dan T Bachtiar, 2004) menuliskan, bahwa manusia Gua Pawon itu hidup dalam rentang waktu antara 9.500-5.600 tahun yang lalu.

Jejak peradaban dengan perkakas batu-batu kecil dari obsidian, dapat diamati dalam Peta Penyebaran perkakas mikrolitik di sekeliling Danau Bandung Purba (dalam Ch E Sthen, 1935).

Tentang jejak peradaban di perbukitan-perbukitan di Bandung Timur laut, diteliti oleh Rothpletz tahun 1951 (dalam RP Koemadinata, 2001), menggambarkan, bawa di lereng dan di puncak-puncak perbukitan itu sudah dijelajahi, dengan tinggalan yang beragam, mulai dari tradisi megalitik sampai cetakan untuk cor logam.

Masyarakat kuna yang meninggalkan jejak peradabannya di perbukitan, dilaporkan oleh NJ Krom tahun 1914, seperti terdapat di Bukit Tunggul, Cimanggu, Cipada, Rajamandala, Cikalong, Sekepeuris, Cihonje, Banjaran, Cisondari, Tambakruyung, Ciwidey, Cipicung, Cililin, Gandasoli, Cicalengka, Tenjolaya, Cibodas, Ciparay, Bojongkalong, Majalaya, dan Gunung Manglayang.

Jejak peradaban dekat sungai, terdapat juga dalam Laporan NJ Krom 1914, seperti di Ci Kapundung, di atas teras berukuran 12 meter, di atas segiempat terdapat 16 patung, di antaranya patung Polinesis dan satu patung kodok.

Juga di dekat Ci Sangkuy yang bermuara ke Ci Tarum, terdapat patung batu banteng, sapi, dan dua alas patung. Di dekat hulu Ci Tarum terdapat guci dan arca dengan mahkota. Di Pameuntasan di pinggir Ci Tarum, terdapat patung ganesa dari batu.

Dari uraian di atas memberikan gambaran, di Cekungan Bandung sudah dihuni oleh para pendukung kebudayaan megalitik. Satu kawasan, bisa jadi menjadi tempat hunian atau tempat berkegiatan, dari generasi ke generasi dengan peradabannya.

Tempat yang nyaman sebagai tempat hunian dan berkegiatan bagi masyarakat, akan berlanjut dihuni oleh masyarakat yang datang kemudian, dengan kebudayaan yang lebih maju.   

Demikian juga tempat hunian masa lalu di gelung-gelung meander sungai, di dekat tempuran sungai ke induk sungai yang lebih besar, seperti antara Ci Kapundung dengan Ci Tarum, di muara sungai itu menjadi tempat yang mudah untuk berlabuh, sehingga kawasan seperti itu akan menjadi tempat yang pertama untuk mendarat, kemudian menjadi titik pusat kehidupannya.

Di lingkaran dalam meander Ci Tarum, di sekitar muara Ci Kapundung itulah sudah tinggal komunitas-komunitas dari waktu-ke waktu, sampai akhirnya datang masyarakat yang lebih terorganisir, yang mempunyai kekuatan dalam sistem sejata sosial dan sistem senjata teknologi.

Hal ini dapat dengan mudah menyatakan bahwa suatu kawasan berada di bawah kekuasaannya, kemudian menempatkan orang yang kuat dan teguh mengabdi untuk mengorganisir paksaan atas kewajiban-kewajiban warga untuk kepentingan penguasa.

Tempat di gelung meander, di tempuran Ci Kapundung dengan Ci Tarum itu kemudian menjadi pusat untuk mengorganisir semua keinginan penguasa dari rakyatnya, berupa pajak dan kewajiban-kewajiban pengabdian lainnya.

Ketika pemerintah kolonial hadir di Tanah Priangan, maka penguasa baru itu menjadi pengganti penguasa lama, dengan pola yang sama, menempatkan perpanjangan tangannya dengan mengangkat penguasa-penguasa pribumi, untuk mengontrol semua aturan dan memaksa agar rakyatnya melakukan kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan dan menyetorkankan hasilnya.  

Ketika Jalan Raya Pos dibuat pada awal abad ke-20, maka Danedels memaksa Bupati Kabupaten Bandung yang bertempat di karapyak, di pusat gelung meander Ci Tarum di tempuran Ci Kapundung dengan Ci Tarum agar memindahkan ibu kota pemerintahannya ke pinggir Jalan Raya Pos yang baru selesai dibangun.

Hal ini dengan tujuan agar rentang kendali pemerintah semakin pendek, dibandingkan harus mengontol ke selatan, yang pada saat itu masih tergolong sulit.

Dengan kekuatan yang memaksa, akhirnya ibu kota Kabupaten Bandung dipindahkan lebih ke hulu. Bila diukur jarak lurus dari tempuran Ci Kapundung dengan Ci Tarum ke pendopo Kabupaten Bandung, yang berada di pinggiran Ci Kapundung jauhnya 8,11 kilometer.

Bila menyusuri aliran Ci Kapundung sampai di sisi timur alun-alun, jaraknya 9,08 kilometer. Dari tempat baru itulah pemerintah kolonial melalui pimpinan daerah, memaksakan apa yang diinginkan pemerintah kolonial dengan segala aturan yang mengikat bagi rakyat.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Adi Ginanjar Maulana

artikel lainnya

dewanpers